Tahun 2024 belum berakhir, tetapi sebagian pelari sudah membeli tiket lomba tahun 2025. Harga mahal rela ditebus asalkan bisa terjun ke lintasan.
22 Des 2024 07:56 WIB · Olahraga
Mahalnya tiket lomba lari tak dimungkiri. Kenyataannya, tiket lomba tahun depan tetap saja habis diburu sebelum tahun ini berakhir. Sampai-sampai harus terjadi ”perang tiket”. Bagi pelari rekreasional, terjun ke lomba lari adalah cara menghargai kerja keras mereka atas latihannya selama ini.
Momen ”perang tiket” itu salah satunya terjadi sewaktu pembukaan pendaftaran BFI Run 2025, Kamis (12/12/2024). Tiket langsung habis terjual hanya berselang satu jam setelah pendaftaran dibuka. Padahal, ajang lomba lari jarak jauh itu baru akan digelar pada Maret 2025.
Harga tiket juga cenderung mahal. Tiket paling mahal dikenakan untuk nomor setengah maraton, yakni Rp 590.000 per orang. Besaran harga tersebut mendekati tiket kategori maraton milik Borobudur Marathon 2024 yang dibanderol seharga Rp 675.000.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/71ba5967-658f-4a33-abb1-1ba881c2c343_jpg.jpg)
Radix Kusumawardana (31) termasuk salah seorang pelari yang beruntung. Ia berhasil mendaftarkan untuk nomor setengah maraton. Lomba nanti akan menjadi pertama kalinya ia turut serta dalam ajang tersebut.
”Itu kan pendaftaran dibuka pukul 12.00. Saya sudah menunggu sejak 10 menit sebelumnya. Tetapi baru masuk sekitar satu menit setelahnya. Itu pun saya masuk antrean 2.900-an,” kata pelari asal Yogyakarta itu saat dihubungi, Sabtu (21/12/2024).
Ihwal harga tiket yang mahal, Radix sudah menyadarinya sejak awal. Namun, itu bukan menjadi soal. Ajang itu memang telah diincarnya sebelum tahun berakhir. Oleh karena itu, ”perang tiket” rela dilakoni sebagai ikhtiarnya untuk terjun ke lomba itu.
Buat saya, lomba ini semacam perayaan dari latihan selama ini. Ibaratnya seperti ujian. Makanya, jangan ikut yang sembarangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/8984de2d-db62-4f4e-94ac-fd4d01c6bcad_jpg.jpg)
Hanya saja, Radix sengaja memilih-milih lomba. Ia tak masalah membayar mahal asalkan lomba itu dikelola secara baik. Reputasi penyelenggara dijadikannya dasar untuk menentukan lomba mana yang akan diikutinya. Lebih-lebih jika mengambil nomor lomba yang berat seperti setengah maraton dan maraton, yang jarak tempuhnya puluhan kilometer.
”Buat saya, lomba ini semacam perayaan dari latihan selama ini. Ibaratnya seperti ujian. Makanya, jangan ikut yang sembarangan. Apalagi kelas HM (setengah maraton) atau FM (maraton). Itu nanti kaitannya sama medis juga. Bahaya kalau medisnya enggak beres,” ujar Radix.
Tahun 2025 masih panjang bagi Radix. Ada begitu banyak lomba lain yang akan diikutinya, seperti Jogja Marathon hingga Borobudur Marathon, yang juga diburu banyak pelari dari sejumlah daerah. Untuk mengikuti berbagai perhelatan itu, tentu saja ia mesti merogoh saku cukup dalam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/02/3bee1c455297698ac6a3d04835a0dfba-cropped_image.png)
Segala kemungkinan itu telah diantisipasi Radix. Setiap bulan, ia sengaja menyisihkan sebagian pendapatannya guna memenuhi hobinya berlari. Entah itu untuk mendaftar lomba atau membeli sejumlah perlengkapan lari yang dibutuhkannya.
”Ikut-ikut lomba itu lihat budget juga. Sejak akhir tahun ini sudah bikin list mau ikut event apa saja. Jadi tidak over budget. Sekarang kalau mau asal ikut, hampir setiap pekan itu ada. Tidak mungkin, kan, ikut semuanya, he-he-he,” kata Radix, yang sepanjang tahun ini telah mengikuti 10 lomba berbeda.
Sama halnya seperti Radix, Antonius Mei Setyabudi (31) juga berencana mengikuti sejumlah lomba tahun depan. Bahkan, ia sudah mendaftarkan diri sejak akhir tahun. Terdapat tiga ajang yang telah memasukkan namanya sebagai peserta, yaitu Duraking Run, BTN Jakarta International Marathon (Jakim), dan Jakarta Running Festival.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/11/02dd340b-a1e4-417b-b481-59366238bb6d.jpg)
Paling awal, Antonius membeli tiket setengah maraton dari Jakarta Running Festival, awal November. Duraking Run dan BTN Jakim sama-sama dibeli Desember ini. Dua lomba terakhir baru terbeli setelah sempat ”perang tiket” terlebih dahulu. Tiket dari kedua ajang itu juga langsung ludes diburu pelari hanya dalam waktu sekitar satu jam.
”Itu juga ada dramanya. Entah itu website-nya lemot, server-nya down, dan lain-lain. Jadi harus betah-betah refresh laman situs. Namun, ada juga yang setelah refresh justru dapat pengumuman tiketnya sudah habis,” kata Anton, sapaan karib Antonius.
Untuk mendaftar ketiga lomba itu, Anton telah mengeluarkan uang lebih dari Rp 1 juta. Tiket termahal yang dibelinya ialah kategori setengah maraton dari Jakarta Running Festival, yakni Rp 600.000. Dua lomba lainnya masing-masing berharga senilai Rp 400.000 untuk kategori berbeda, yaitu 10K.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/dd218b781576369788cdfc92af74c6f1-1000455082.jpg)
Anton mengaku, soal isi racepack sedikit memengaruhinya ketika sedang mendaftar suatu lomba. Kadang-kadang ia menilai apakah uang pendaftaran yang dikeluarkannya sebanding dengan muatan racepack yang akan didapatkannya.
Walau demikian, kata Anton, racepack bukan faktor tunggal yang menentukan pilihan akhirnya. Kualitas lomba justru diutamakan olehnya. Harga tiket yang mahal semestinya sejalan dengan ekspektasi terkait kenyamanan pelari.
”Yang dicari dari race besar itu experience lari yang menyenangkan. Mungkin itu bisa didapat dari jalur yang steril. Ini yang membedakan dari pengalaman berlari sehari-hari di lingkungan perkotaan yang jalanannya selalu sibuk dan padat,” kata pelari yang berdomisili di Jakarta itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/934bb688d0687686571d474b073138c0-1000454752.jpg)
Dihubungi terpisah, Andreas Kansil, pegiat lomba lari, membenarkan perihal semakin bertebarannya ajang lomba belakangan ini. Bahkan, perhelatan boleh jadi terselenggara hampir setiap pekan dari sejumlah daerah. Ini menandakan minat masyarakat terhadap olahraga itu mengalami pertumbuhan.
Dari segi pasar, kata Andreas, terdapat permintaanyang cukup besar terkait lomba. Itu bisa dilihat dari sejumlah perhelatan yang tiketnya begitu cepat habis. Ia membuktikannya sendiri sesudah mengelola ajang OPPO Run 2024 di Bali, November lalu. Meski baru diadakan pertama kali, seluruh slot bisa terjual habis.
”Sampai sold out itu memang butuh waktu dua bulan. Namun, artinya pasar dan peminatnya itu memang ada. Buktinya bisa terjual semuanya,” kata Andreas, yang juga mengelola perusahaan manajemen lomba lari bernama Pandara Sports itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/f02c347b-d59f-4af7-9c7c-369108f1b95f_jpg.jpg)
Potret tingginya peminat lomba terlihat lebih ekstrem dari ajang lain, yang juga dikelola Andreas, yaitu Borobudur Marathon. Tahun ini, jumlah pendaftarnya mencapai 44.000 orang. Itu setara empat kali lipat dari kuota yang tersedia, yakni 10.500 orang. Kemudian, peserta diseleksi sesuai jumlah kuota menggunakan sistem ballot, atau undian.
Perihal tiket lomba, ungkap Andreas, terdapat banyak komponen penyusunnya. Tak semata-mata lomba itu banderol harganya disesuaikan isi racepack, seperti jersei dan medali. Ada biaya-biaya lainnya, seperti sewa tempat hingga perizinan, yang nilainya cukup beragam dari satu kota ke kota lainnya.
”Itu sesuai dengan tingkat kesulitan dan panjangnya rute perlombaan. Pastinya rute yang lebih jauh butuh pengamanan yang lebih banyak. Itu nanti akan memengaruhi harga tiket lomba lari juga. Jadi ada banyak komponennya, selain dukungan dari sponsor,” kata Andreas.
Sekarang lomba lari memang dijadikan buruan. Tiket mahal pun rela ditebus. Besarnya animo olahraga lari hendaknya disertai keseriusan menyiapkan diri sebelum lomba. Tak sekadar asal-asalan terjun lalu kepayahan ketika di lintasan.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan