Sebanyak 8 personel Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, 6 personel Pertahanan Sipil Palestina, dan seorang staf PBB tewas pada 23 Maret 2025.
06 Apr 2025 13:13 WIB · Internasional
GAZA, MINGGU — Sebuah rekaman video menunjukkan militer Israel terbukti membunuh 15 petugas medis Palestina di Gaza selatan pada 23 Maret 2025. Bukti ini mematahkan klaim Israel bahwa petugas dan kendaraan bertindak mencurigakan.
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) merilis rekaman video selama 6 menit dan 42 detik, Sabtu (5/4/2025). Video itu berasal dari ponsel milik Rifat Radwan, salah satu korban tewas.
”Video ini dengan tegas membantah klaim bahwa pasukan Israel tidak secara acak menargetkan ambulans, dan bahwa beberapa kendaraan mendekat dengan mencurigakan tanpa lampu atau tanda darurat,” bunyi pernyataan PRCS.
Insiden penembakan itu menewaskan delapan personel PRCS, enam personel Pertahanan Sipil Palestina (PCD), dan staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Militer Israel lantas menguburkan mayat korban di sebuah kuburan massal dan menghancurkan kendaraan. Satu petugas medis bernama Assaad al-Nassasra masih hilang.
Dari rekaman video itu, terlihat tim PRCS dan PCD melaju pelan dalam konvoi kendaraan ambulans dan truk pemadam kebakaran di Tal al-Sultan, Rafah, sekitar pukul 03.50, waktu setempat. Lampu sirene menyala, sedangkan logo organisasi terlihat.
Konvoi itu kemudian berhenti untuk membantu ambulans yang sebelumnya ditembaki. Tim tampak tidak bertindak aneh atau mengancam saat beberapa petugas medis keluar untuk membantu ambulans.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/06/01dc9ddd-d28c-42a4-a7e5-88cdbf908071_jpg.jpg)
Kendaraan mereka langsung menjadi sasaran tembakan. ”Maafkan aku, Ibu. Ini jalan yang aku pilih, Ibu, untuk menolong orang lain,” terdengar suara pemilik ponsel.
Seorang paramedis PRCS yang selamat, Munzer Abed, mengonfirmasi kebenaran video itu. Abed yang duduk di kursi belakang ingat bahwa lampu sirene ambulans menyala. ”Tiba-tiba, ada tembakan langsung ke arah kami begitu intens hingga kendaraan itu berhenti,” kata laki-laki yang sudah bertugas 10 tahun ini.
Tentara Israel dengan kacamata malam menyeret Abed keluar dari ambulans. Mereka menyuruhnya menanggalkan pakaian lalu memukulinya dengan senapan. Tangan Abed terikat di belakang punggung. Selanjutnya, mereka menginterogasi Abed tentang pelatihan paramedis dan jumlah personel di ambulans sambil mengancam dengan senjata.
PBB dan petugas penyelamat baru dapat mencapai lokasi untuk menggali kuburan massal korban pada 30 Maret 2025.
Ketika dikonfirmasi, Sabtu (5/4/2025), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan sedang memeriksa insiden itu. ”Semua klaim, termasuk dokumentasi yang beredar tentang insiden tersebut, akan diperiksa secara menyeluruh dan mendalam untuk memahami urutan kejadian dan penanganan situasi tersebut,” bunyi pernyataan militer.
Sebelumnya, Israel mengklaim penembakan terjadi karena kendaraan ”bergerak secara mencurigakan” tanpa lampu depan atau sinyal darurat ke arah pasukan.
Menurut seorang pejabat, ada dua insiden terjadi pada 23 Maret 2025. Insiden pertama terjadi pada pukul 04.00 ketika tentara menembaki sebuah kendaraan yang membawa anggota Hamas. Dua orang tewas dan satu orang ditahan.
Insiden kedua terjadi dua jam kemudian. Pukul 06.00, tentara Israel mendapat laporan dari pengamatan udara bahwa ada konvoi yang bergerak dalam kegelapan dengan cara mencurigakan ke arah mereka.
”Tidak ada borgol, tidak ada tembakan dari jarak dekat. Pasukan tidak berusaha menyembunyikan apa pun. Mereka mengira telah berhadapan dengan musuh,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/06/88fd74bc-4cf5-4664-8b28-8e0a997c7e15_jpg.jpg)
Setelah insiden pada 23 Maret 2025 itu, militer Israel mengatakan, pasukan telah membunuh seorang tokoh Hamas bernama Mohammed Amin Shobaki dan delapan prajurit lainnya. Tidak satu pun dari 15 petugas medis yang terbunuh itu memiliki nama tersebut. Selain itu, tidak ada mayat lain yang diketahui ditemukan di lokasi penembakan.
Militer Israel belum merilis keterangan tentang kondisi mayat Shobaki atau merilis nama-nama prajurit yang mereka klaim telah ditembak mati. Pejabat militer Israel mengatakan Israel ”berusaha mendapatkan bukti” bahwa anggota Hamas terbunuh.
Selama ini, Israel menuduh Hamas memindahkan dan menyembunyikan pasukannya di dalam ambulans dan kendaraan darurat serta rumah sakit dan infrastruktur sipil lainnya. Berdasarkan asumsi itu, mereka membenarkan alasan serangan. Personel medis sebagian besar membantah tuduhan tersebut.
Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 150 petugas tanggap darurat PRCS dan PCD. Kebanyakan korban meninggal saat bertugas. Menurut PBB, Israel juga telah membunuh 1.000 petugas kesehatan. Namun, militer Israel jarang menyelidiki insiden semacam itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/08/506f9239-7a64-409b-9295-5f9f87c2147b_jpg.jpg)
Kepala PRCS Younes Al-Khatib menyerukan agar ada penyelidikan independen atas insiden itu. Menurut dia, tim medis dibunuh dalam jarak dekat. Laporan autopsi forensik akan segera dirilis.
”Kami tidak percaya pada penyelidikan militer mana pun,” katanya, Jumat (4/4/2025). PRCS juga telah bertanya kepada militer di mana mereka menahan Nassasra.
Jonathan Whittall, Penjabat Kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) di Gaza, juga menepis tuduhan bahwa petugas medis yang terbunuh adalah militan Hamas. Para petugas itu pernah bertugas bersamanya saat mengevakuasi pasien dari rumah sakit dan tugas-tugas lainnya.
”Mereka adalah kru paramedis yang pernah saya temui sebelumnya. Mereka dikuburkan dengan seragam lengkap dengan sarung tangan. Mereka siap menyelamatkan nyawa,” kata Whittall.
Adapun seorang pejabat militer Israel berkilah tidak ada ”penganiayaan” yang terjadi. Dia juga tidak tahu mengapa kendaraan-kendaraan itu dikubur dan tidak memiliki informasi tentang petugas medis yang masih hilang. (AP/AFP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari