Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memerintahkan agar penduduk Rafah dan sebagian Kota Khan Younis pindah ke Al Mawasi. Sekitar 140.000 warga terdampak.
01 Apr 2025 16:00 WIB · Internasional
GAZA, SELASA — Israel bersiap untuk menggelar operasi militer lebih lanjut di Jalur Gaza, Palestina. Militer memerintahkan evakuasi penduduk di Kota Rafah dan sebagian Kota Khan Younis, Senin (31/3/2025), sehari setelah perayaan Idul Fitri. Ratusan ribu warga harus kembali mengungsi demi keselamatan diri.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memerintahkan agar penduduk Rafah dan sebagian Kota Khan Younis pindah ke Al Mawasi. Al Mawasi adalah kamp pengungsi kumuh yang terletak di sepanjang pantai, sebelah barat laut Rafah.
”IDF kembali melakukan operasi intensif untuk melumpuhkan kemampuan organisasi-organisasi teroris di wilayah ini. Demi keselamatan Anda, segera pindah ke tempat perlindungan di Al Mawasi,” cuit Kolonel IDF Avichay Adraee di pelantar X, Senin (31/3/2025).
Seruan Adraee itu turut menyertakan peta Gaza. Tampak sebagian wilayah Gaza ditandai dengan merah, termasuk Rafah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/9772c32d-a02d-444f-8b1d-03bd5987355c_jpg.jpg)
Israel telah mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas pada 18 Maret lalu dengan melakukan serangan udara dan darat. Dengan demikian, gencatan senjata selama hampir dua bulan terhenti. Menurut Hamas, sekitar 1.001 orang terbunuh sejak itu.
Tel Aviv juga menghadang bantuan kemanusiaan, berupa makanan, bahan bakar, dan obat-obatan, bagi sekitar 2 juta warga Palestina di Gaza. Langkah ini bertujuan agar Hamas menerima perubahan pada kesepakatan gencatan senjata.
Sehari sebelumnya, Minggu (30/3/2025), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menawarkan untuk membiarkan para pemimpin Hamas meninggalkan Gaza sambil menuntut pelucutan senjata. Hamas bersedia untuk menyerahkan administrasi Gaza, tetapi tidak untuk persenjataannya.
Netanyahu juga menyatakan, Israel akan memastikan keamanan Gaza setelah perang dan menerapkan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal wilayah itu. Trump mengusulkan agar 2,4 juta warga Gaza pindah ke negara-negara tetangga, seperti Mesir dan Jordania.
Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan, sebanyak 140.000 orang lebih terdampak perintah evakuasi Israel untuk Rafah.
Menurut dia, warga Palestina harus bergelut dengan kematian, penyakit, kelaparan, dan kehancuran. Seolah tidak cukup, giliran perintah militer turut mempermainkan nasib mereka.
”Hal ini menyebabkan kepanikan, kecemasan, dan ketidakpastian pada hari pertama Idul Fitri, waktu untuk bersama keluarga dan orang-orang terkasih. Ke mana orang-orang harus pindah? Tidak seperti konflik lain, Gaza dibombardir dari segala penjuru,” tulis Lazzarini di X.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/01/09c2d824-14d3-4607-b565-697e7dc9a42b_jpg.jpg)
Warga Palestina mulai meninggalkan Rafah, Senin (31/3/2025). Banyak keluarga pergi dengan berjalan kaki sambil membawa barang bawaan. Anak-anak memegang tangan orang dewasa.
Warga lainnya membawa barang-barang menggunakan kereta dan keledai, atau mobil. Ada pula yang tidak membawa apa-apa. Mereka mendapat kabar hanya mempunyai waktu dua jam untuk mengungsi sebelum tentara Israel tiba.
”Saat ini saya berjalan kaki, tidak ada transportasi, dan saya tidak punya ongkos untuk naik mobil. Seperti yang Anda lihat, kami tidak membawa barang bawaan, kami meninggalkan semua barang kami,” kata Ali Mansour, warga Rafah.
Hanadi Dahoud, warga Khan Younis, lelah dengan situasi tidak menentu di Gaza. ”Kami sekarat. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, tidak ada listrik, tidak ada obat-obatan. Kami hanya ingin hidup. Kami lelah,” ujarnya.
Di tengah seruan evakuasi oleh Israel, Hamas menyerukan agar pendukungnya di seluruh dunia melawan penggusuran warga Palestina.
”Menghadapi rencana jahat ini—yang menggabungkan pembantaian dengan kelaparan—siapa pun yang dapat memanggul senjata, di mana pun di dunia, harus mengambil tindakan,” ujar pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, dalam sebuah pernyataan, Senin (31/3/2025).
Hamas pun sedang pusing menghadapi gejolak internal. Selama beberapa hari pada akhir Maret lalu, ribuan warga Palestina berunjuk rasa mendesak agar Hamas keluar dari Jalur Gaza. Protes terjadi setelah gencatan senjata Hamas-Israel terputus.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/f94f2d31-faa5-4023-8d68-202999df2afb_jpg.jpg)
Alan Mendoza, pendiri lembaga pemikir Henry Jackson Society di Inggris, mengatakan, tampaknya Israel menanggapi rencana Trump dengan serius. Hal ini membuat Hamas khawatir karena keberadaan mereka bergantung pada penguasaan Gaza.
”Ini adalah tekanan bercabang dua yang dihadapi Hamas, baik secara eksternal maupun internal. Secara internal, Hamas telah membawa rakyatnya sendiri ke bencana, jadi jika mereka menjadikan tekanan eksternal sebagai tujuan nasional, mereka dapat membuat orang-orang bersatu,” tutur Mendoza.
Namun, tidak hanya Hamas, Israel juga tengah menghadapi tantangan internal. Pihak berwenang menyelidiki Netanyahu atas kasus korupsi Qatargate. Selain itu, warga Israel juga kembali berunjuk rasa setelah gencatan senjata berhenti untuk menuntut pembebasan sandera di Gaza. (AP/AFP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur Hidayati