Buntut IHSG Anjlok, Luhut Ungkap Presiden Prabowo Akan Temui Investor

Soal Indeks Harga Saham Gabungan anjlok, Presiden Prabowo meyakinkan disiplin fiskal akan dijaga dengan hati-hati.

19 Mar 2025 21:58 WIB · Ekonomi

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto akan menemui investor pasar modal menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Disiplin fiskal juga akan dijaga untuk memastikan IHSG stabil dan kepercayaan investor menguat.

Merespons anjloknya IHSG, Presiden Prabowo menggelar rapat khusus di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Rapat tertutup itu diikuti Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan anggota DEN lainnya.

Rapat diselenggarakan sehari setelah penurunan drastis IHSG di Bursa Efek Indonesia, Selasa (18/3/2025). Penurunan IHSG yang mencapai 6 persen membuat transaksi perdagangan sempat dibekukan.

”Kan, di mana-mana bisa terjadi begitu (penurunan indeks harga saham). Kebetulan (di) kita (turun) 6 persen, gitu aja,” ujar Luhut seusai rapat.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Sebelumnya, Luhut bersama anggota DEN lain dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat tertutup yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Dia membantah bahwa anjloknya IHSG sebagai indikator ketidakpercayaan investor. ”Enggak juga. Ya, ada saja bisa terjadi peristiwa-peristiwa semacam itu. Tapi, saya pikir hari ini sudah rebound. Saya kira, kita awasi dengan cermat ke depan semua,” tuturnya.

Luhut menambahkan, Presiden Prabowo pun sudah menyatakan akan berhati-hati dengan masalah disiplin fiskal. Hal tersebut akan diperhitungkan dengan baik.

Menurut Luhut, Presiden Prabowo juga akan bertemu dengan investor pasar saham. Soal kapan dan siapa saja, semua akan diatur oleh Sekretaris Kabinet.

Quote

Presiden Prabowo pun sudah menyatakan akan berhati-hati dengan masalah disiplin fiskal.

Sementara itu, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menilai fundamental ekonomi secara umum relatif stabil. Namun, diakui ada kekhawatiran yang muncul di pasar. ”Dan, itu kaitannya dengan melihat bahwa ada perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dipantau dengan impor turun, deposito turun, ada beberapa indikator. Jadi, ada kekhawatiran mengenai turunnya pertumbuhan,” tuturnya.

Karena itu, menurut Mari, rekomendasi yang penting untuk menjaga pasar saham adalah bagaimana menjaga pertumbuhan, termasuk realokasi anggaran yang dilakukan harus benar-benar membantu mendorong pertumbuhan. Belanja anggaran pemerintah pun harus bisa mendorong pertumbuhan.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/1/2025).

Selain itu, Mari memperkirakan ada kekhawatiran karena penerimaan pajak turun. ”Ada kekhawatiran mengenai fiscal discipline. Tapi, saya rasa Presiden sudah berulang kali menegaskan komitmen beliau untuk menjaga fiscal discipline. Jadi, ini perlu diulang pada kali ini. Dan, yang terakhir mengenai governance terkait dengan BUMN,” ucap Mari.

Terkait Badan Pengelola Investasi, misalnya, lanjut Mari, dikelola dengan manajemen profesional. Tata kelola dan transparansi juga diterapkan secara tepat.

Mari pun membantah jika kebijakan pemerintah disebut tidak propasar. ”Saya rasa bukan propasar, ya. Tapi lebih pada persepsi mereka bahwa ada ketidakjelasan yang mereka anggap menyebabkan ketidakpastian. Maka itu, sebetulnya ini buat kami ini, lebih banyak bagaimana kita bisa menjelaskan dengan lebih baik beberapa hal yang menjadi concern mereka,” ujarnya.

Pertemuan Presiden dengan para investor pasar saham pun dinilai penting. Presiden bisa menjelaskan sendiri kepada para investor. ”Ini mungkin akan menjadi kesempatan yang baik untuk Presiden sendiri yang menjelaskan,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M Hanif Dhakiri mengatakan, terjunnya IHSG dalam beberapa hari ini merupakan peringatan serius terhadap ekonomi nasional. Sebab, penurunan itu mencerminkan kehawatiran pasar yang semakin dalam terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

potrait Hanif Dhakiri Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 11-9-2023

Dia melanjutkan, deflasi tahunan pada 2024 sebesar 0,09 persen turut menambah tekanan. Sebab, alih-alih membawa manfaat, penurunan harga yang dilakukan pemerintah justru menandai melemahnya daya beli masyarakat.

Selain itu, sektor riil juga melambat. Konsumsi rumah tangga tertekan. Pemutusan hubungan kerja secara massal dan tertundanya pengangkatan lebih dari 1 juta calon aparatur sipil negara (CASN) semakin memperburuk situasi.

”Pasar saham dan ekonomi nyata sedang menghadapi tekanan serius. Investor kehilangan kepercayaan, masyarakat menahan belanja. Jika ini berlanjut, dampaknya akan semakin luas,” kata Hanif.

Hanif mengingatkan, kondisi ini merupakan sinyal peringatan. Pasar saham jatuh karena ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, sedangkan deflasi mencerminkan kurangnya permintaan di sektor riil. Padahal, investor butuh kepastian kebijakan, sedangkan masyarakat butuh kepastian ekonomi.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua terpampang pada layar monitor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/2/2025). IHSG pada Senin ditutup di posisi 6.749,60, melemah 53,40 poin atau 0,78 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 24-02-2025

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah perlu mempercepat sejumlah stimulus ekonomi. Contohnya, memastikan bantuan sosial, insentif pajak, dan pencairan tunjangan hari raya dilakukan secara tepat waktu untuk menopang daya beli masyarakat.

Lebih jauh, kata Hanif, pemerintah juga harus bergerak cepat dan presisi untuk memulihkan kepercayaan pasar serta mendorong investasi. Selain itu, kebijakan moneter dan fiskal juga harus selaras.

”Ekonomi butuh kepastian, bukan sekadar wacana. Jika tidak ditangani dengan tepat, kita bisa menghadapi perlambatan yang lebih dalam,” kata Wakil Ketua Umum PKB itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

Anita Yossihara