Modus kecurangan beberapa peserta semakin canggih. Mulai dari pakai kacamata berkamera hingga memanipulasi foto di kartu peserta dengan AI.
28 Mei 2025 17:11 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS — Hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dalam rangkaian Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Tahun 2025 telah diumumkan pada Rabu (28/5/2025) sore. Namun, pelaksanaan tesnya menyisakan sejumlah persoalan kecurangan demi masuk perguruan tinggi negeri.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB Tahun 2025 Eduart Wolok mengungkapkan, modus kecurangan yang dilakukan para peserta semakin canggih. Mulai dari menggunakan kacamata berkamera hingga memanipulasi foto di kartu peserta dengan teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).
”Modus yang paling baru itu ada yang menggunakan rekayasa AI, dengan mengamuflase dari mulai kartu peserta dan sebagainya,” kata Eduart, Rabu (28/5/2025).
Meski begitu, Eduart memastikan panitia telah memitigasi hal tersebut dengan pemindaian berlapis. Kartu peserta tidak hanya dilihat dari foto semata, tetapi ada kode batang (barcode) yang akan dipindai dan sulit dimanipulasi.
”Di kartu peserta kita itu memiliki barcode. Jadi ketika kita bisa melakukan deteksi dari barcode dan kartunya ternyata tidak sesuai, akan ketahuan, kemudian juga kita memiliki ciri khusus lainnya,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/29/4911f316b57bdea4cc5b21433a99d5f9-20250429_151618.jpg)
Panitia juga mendapati beberapa peserta yang menggunakan kacamata berkamera dan bertransmisi audio, transmiter audio yang dipasang di ciput, dan alat bantu dengar berukuran mikro yang dipasang di telinga peserta. Saat tes, mereka diarahkan oleh pihak luar untuk menjawab soal.
Di prodi-prodi favorit ini satu kursi bisa sampai ratusan juta.
Tak hanya itu, cara-cara lama seperti penggunaan joki pun masih jamak ditemui. Di lokasi tes UTBK Universitas Sumatera Utara, misalnya, tujuh joki tertangkap pada 25 April 2025. Mereka melakukan praktik perjokian untuk 30 peserta. Dalam aksinya, mereka menggunakan nama peserta asli, tetapi fotonya diganti foto si joki.
”Mereka (joki) ini dikendalikan dari hotel, jadi yang mengerjakan soalnya ada di hotel,” ujarnya.
Tak hanya masalah perjokian, panitia SNPMB juga menangkap beberapa orang dalam di lokasi UTBK terlibat melancarkan aksi curang peserta. Di lokasi UTBK Universitas Jember, Jawa Timur, misalnya, pegawai kedapatan memasang perangkat sebagai proxy yang disembunyikan di dalam kardus di atas lemari ruangan tes untuk menghubungkan komputer peserta dengan jaringan eksternal.
Eduart menilai, beragam praktik kecurangan peserta selama tes SNBT ini diduga sudah beroperasi secara terstruktur oleh jaringan kelompok tertentu. Jaringan kelompok ini sudah beroperasi lintas provinsi, melibatkan beberapa orang dalam, dan lembaga bimbingan belajar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/30/215688a360e8fcb07dfe0eaa0d73a6b2-IMG_2720.JPG)
Selama 10 hari tes UTBK di 13 lokasi tes UTBK, tercatat sudah ada puluhan peserta calon mahasiswa dan puluhan joki hingga mahasiswa aktif yang tertangkap terlibat dalam kecurangan. Panitia masih terus mengumpulkan data kasus-kasus kecurangan untuk ditindaklanjuti.
Panitia menaksir, ada perputaran uang yang besar di dalam praktik kecurangan ini hingga ratusan juta rupiah. Secara spesifik, praktik kecurangan paling banyak ditemukan pada peserta yang memilih fakultas kedokteran.
”Di prodi-prodi favorit ini satu kursi bisa sampai ratusan juta,” ungkap Eduart.
Tindak lanjut yang sudah dilakukan, antara lain, peserta yang secara individu kedapatan curang langsung dikualifikasi, orang dalam yang terlibat akan diselesaikan dengan hukuman oleh rektorat. Adapun kasus yang menjurus ke ranah pidana akan ditindaklanjuti oleh kepolisian.
”Minggu depan kita akan berkolaborasi untuk berdiskusi dengan teman-teman dari aparat hukum, baik dari Mabes Polri maupun polda atau pihak yang terkait,” tutur Eduart.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/a5bdc7cb-a818-4176-b52c-a0c148ac2f58_jpg.jpg)
Meski jumlah kecurangan tidak banyak jika dibandingkan dengan total jumlah peserta sebanyak 860.976 orang. Tindakan mereka tetap mencoreng nilai-nilai integritas di dunia pendidikan. Untuk itu, Eduart meminta 576.369 peserta yang belum lulus agar tetap berjuang melanjutkan studinya dengan jujur melalui jalur mandiri di perguruan tinggi negeri (PTN) ataupun perguruan tinggi swasta (PTS).
Sebelumnya, 253.421 peserta dari total 829.790 peserta yang mengikuti tes SNBT dinyatakan lulus masuk PTN. Artinya, keketatan pendaftar dan diterima adalah 29,43 persen. Ratusan ribu jumlah peserta itu yang terdiri atas 23.218 lulusan 2023; 124.217 lulusan 2024; dan 682.355 lulusan 2025.
”Bagi yang belum, tentu ini adalah bagian dari proses penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi. Masih ada juga jalur mandiri atau perguruan tinggi swasta (PTS) yang kualitasnya tidak kalah, kualitasnya sama dengan perguruan tinggi negeri (PTN),” kata Brian dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Selasa (27/5/2025).
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul