Saka ternyata cocok bermain bersama Madueke, begitu juga Gyokeres dengan Jesus. Banyak hal baru yang didapat Arsenal di Piala FA setelah Calafiori tiba-tiba cedera.
16 Feb 2026 05:42 WIB · Olahraga
AP
LONDON, MINGGU — Akibat cederanya bek Riccardo Calafiori, Manajer Arsenal Mikel Arteta dipaksa berpikir kreatif. Sang manajer justru menemukan banyak formula baru yang bisa berguna pada sisa musim berkat eksperimen di laga versus Wigan Athletic. Salah satunya penyerang sayap Bukayo Saka yang bersinar di posisi gelandang serang.
Musibah kehilangan Calafiori terasa tidak terlalu buruk bagi Arsenal dalam laga putaran keempat Piala FA di Stadion Emirates, London, Inggris, Minggu (15/2/2026) malam WIB. Selain berhasil lolos ke 16 besar lewat kemenangan telak 4-0 atas Wigan, mereka juga menemukan ide-ide baru untuk mengatasi masalah di lini serang.
Calafiori sebenarnya sudah diumumkan masuk ke daftar starter. Namun, dia mengalami cedera saat pemanasan menjelang laga. Alhasil, Arteta harus merombak ulang komposisi skuad. Myles Lewis-Skelly yang semestinya bermain sebagai gelandang terpaksa kembali ke posisi bek sayap untuk menggantikan Calafiori.
Satu posisi yang kosong di lini tengah pun diisi oleh pemain dari bangku cadangan, Saka. Menariknya, Arteta memainkan Saka dan Madueke bersamaan. Biasanya, mereka bergantian tampil sebagai penyerang sayap kanan. Kali ini, Madueke tetap di posisi aslinya, sementara Saka menjadi gelandang serang yang condong ke sisi kanan.
Saka baru dua kali memainkan peran tersebut sepanjang kariernya, terakhir kali pada 2020. Meskipun begitu, hasilnya sangat memuaskan. ”Dia lebih sentral dan lebih dekat dengan gawang. Agak lebih sulit bagi lawan untuk terus-menerus menjaganya. Dia pandai memanfaatkan ruang dan bisa bertukar posisi,” puji Arteta, seperti dikutip situs resmi Arsenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/a7eb6ccf87de34454a2966dbb94ba5f4-APTOPIX_Britain_FA_Cup_Soccer_136121145.jpg)
Dengan presensi dua pemain sayap di sisi kanan, Saka dan Madueke bisa bertukar posisi dengan konstan sepanjang laga. Kombinasi mereka sangat membahayakan pertahanan Wigan. Kerja sama sepasang pemain tim nasional Inggris itu bahkan membuahkan gol pertama dan ketiga ”Si Meriam” pada paruh pertama.
Gol pertama Arsenal dicetak oleh Madueke, dari asis gelandang Eberechi Eze. Saka tidak menyentuh bola, tetapi pergerakannya ke sisi sayap berhasil membuat lubang di area sentral. Madueke memanfaatkan itu. Di gol ketiga, Saka dan Madueke melakukan kombinasi serangan dari sisi sayap yang berujung bunuh diri bek lawan Jack Hunt.
Arteta tidak pernah lagi menggunakan Saka di posisi sentral karena minim urgensi. Si Meriam memiliki banyak pemain hebat di posisi tersebut, mulai dari Martin Odegaard, Kai Havertz, sampai yang terbaru Eze. Masalahnya, Eze dan Odegaard belum menemukan performa terbaik, sementara Havertz bermasalah dengan cedera.
Kebetulan, Saka juga kesulitan memberikan pengaruh nyata dalam skema baru ala Arteta. Dia selalu menarik gravitasi pemain bertahan lawan. Saka, dalam formasi 4-2-3-1, pun sering terisolasi di pojok kanan demi menciptakan ruang lebih. Alhasil bek sayap Jurrien Timber justru lebih sering berada di posisi sentral dan masuk ke kotak penalti.
Kontribusi gol Saka pun menurun drastis musim ini, baru menghasilkan tujuh gol di seluruh kompetisi. Dia bahkan gagal mencetak gol dalam 15 pertandingan terakhir, sejak awal Desember. Catatan tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat pemain berusia 24 tahun itu merupakan ikon terbesar Si Meriam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/4f1757d239cbb611864891f8a6a68e29-Britain_FA_Cup_Soccer_136140222.jpg)
Saka bisa lebih sering ditugaskan sebagai gelandang serang pada sisa musim. Di sayap kanan, Madueke mulai bisa diandalkan. Pemain akademi Max Dowman juga sudah pulih dari cedera. ”Saya ingin mencoba itu dan kami mungkin menggunakannya lagi pada masa depan. Masih banyak laga, kompetisi, dan skenario yang harus kami mainkan,” ujar Arteta.
Sementara itu, dua penyerang tengah Arsenal, yakni Gabriel Jesus dan Viktor Gyokeres, juga dimainkan bersama untuk pertama kali. Gyokeres masuk tepat setelah turun minum untuk menggantikan Saka. Jesus yang semula memimpin lini serang, bermain lebih mundur di posisi gelandang. Kombinasi mereka cukup menjanjikan.
Jesus biasanya berperan sebagai ”false 9”, penyerang yang sering mundur membantu lini tengah. Hal itu membuat Arsenal sering kehilangan presensi striker di kotak penalti. Dengan kehadiran Gyokeres, masalah itu teratasi. Jesus tetap bisa menciptakan kekacauan di lini tengah, sementara Gyokeres menunggu di kotak penalti. Formula itu bisa menjadi opsi ketika Arsenal sedang sangat butuh gol.
Berbagai kombinasi baru Arsenal memang belum benar-benar terbukti. Lawan mereka hanyalah Wigan yang merupakan tim divisi ketiga Inggris (Liga Satu). Namun, kesuksesan eksperimen itu memperlihatkan, solusi Si Meriam tidak pernah habis dengan skuad yang sangat dalam. Banyak potensi yang masih bisa digali, seperti kombinasi Saka-Madueke dan Gyokeres-Jesus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/f16329774fe58e3c604407ae4254b7c7-Britain_FA_Cup_Soccer_136118682.jpg)
Lewat hasil itu pula, Arsenal berhasil lolos ke babak 16 besar untuk pertama kali setelah menjuarai kompetisi pada musim 2019-2020. Sebelumnya, mereka selalu terhenti di putaran ketiga dan keempat selama empat musim beruntun. Saka dan rekan-rekan pun terus menjaga asa untuk meraih quadruple atau empat gelar juara sekaligus.
Arsenal, yang mengganti delapan pemain starter dari laga sebelumnya, menyudahi perlawanan Wigan hanya dalam 27 menit. Mereka sudah unggul empat gol sebelum laga memasuki setengah jam. ”Sangat puas. Kami sangat profesional dengan tujuan yang jelas. Laga seperti itu bisa jadi sulit jika kami tidak mengerahkan kemampuan dengan benar,” kata Madueke kepada TNT Sports.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto