Prosedur keamanan ini dinilai vital karena tim pencarian dan pertolongan harus bekerja di area yang penuh dengan puing bangunan, potongan kayu, dan besi berkarat.
08 Des 2025 21:35 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
AGAM, KOMPAS — Tim pencarian dan pertolongan atau SAR gabungan yang bertugas di lokasi bencana banjir bandang dan longsor Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai menjalani vaksinasi tetanus, Senin (8/12/2025). Langkah medis ini diambil untuk mencegah risiko infeksi serius mengingat medan pencarian yang dipenuhi lumpur dan material berbahaya.
Rombongan SAR datang menggunakan mobil angkut ke Puskesmas Koto Alam, Kecamatan Palembayan, Agam, sore. Mereka mengantre mengisi biodata untuk menerima vaksi tetanus. Sejauh ini, baru 10 personel SAR yang menerima vaksin. Menurut rencana, rombongan lainnya akan menyusul besok.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga (Kasi Ops) Kantor SAR Padang, Hendri, saat ditemui di Puskesmas Koto Alam, Kecamatan Palembayan, menjelaskan bahwa vaksinasi Anti-Tetanus Serum (ATS) ini merupakan rekomendasi tim dokter di lapangan.
”Ini arahan dari dokter untuk tim kita yang di lapangan agar diberi vaksin tetanus. Harapan kita, setelah anggota divaksin, apabila terjadi kesilafan dalam bekerja atau terluka, insya Allah tidak terjadi infeksi,” ujar Hendri saat ditemui di Puskesmas Koto Alam, Agam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/13744efe02aa01fc1c493632c4825a32-IMG_20251208_21210702.jpeg)
Prosedur keamanan ini dinilai vital karena tim SAR harus bekerja di area yang penuh dengan puing bangunan, potongan kayu, dan besi berkarat. Risiko kecelakaan kerja juga meningkat seiring diterjunkannya alat berat jenis ekskavator untuk mempercepat pembersihan material longsor.
Selain perlindungan medis, Hendri menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP) cuaca yang ketat.
Ini arahan dari dokter untuk tim kita yang di lapangan agar diberi vaksin tetanus. Harapan kita, setelah anggota divaksin, apabila terjadi kesilafan dalam bekerja atau terluka, insya Allah tidak terjadi infeksi.
”Kami melakukan asesmen area dulu sebelum pergeseran tim. Kalau seandainya dalam pelaksanaan pencarian hari hujan, semua tim dan personel kita tarik mundur untuk mengamankan diri,” tegas Hendri.
Beratnya medan operasi di Agam mulai berdampak pada kondisi fisik tim penyelamat. Berdasarkan pantauan di Puskesmas Koto Alam, sejumlah sukarelawan SAR mulai mengalami masalah kesehatan serius.
Salah seorang sukarelawan bahkan harus mendapatkan perawatan intensif dengan pemasangan infus di puskesmas tersebut akibat kelelahan ekstrem. Oleh karena kondisinya tak kunjung membaik, tim medis akhirnya merujuk relawan tersebut ke RSUD Lubuk Basung untuk penanganan lebih lanjut.
Ketua Tim Medis 2 RSUP M Djamil Padang, Rido Wandrivel, yang bertugas di lokasi, membenarkan hal tersebut. Ia mencatat adanya peningkatan jumlah sukarelawan yang masuk ke posko kesehatan dengan keluhan cedera fisik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/7209e7fb9f07dde5647de343e0444742-IMG20251208113916.jpg)
”Sukarelawan mulai banyak masuk IGD. Keluhannya rata-rata ISPA, keletihan ekstrem, hingga luka-luka fisik,” kata Rido.
Menurut dia, banyak sukarelawan yang mengalami luka terbuka akibat tertusuk paku atau tergores material tajam saat melakukan pembersihan puing tanpa alat pelindung diri yang memadai.
Luka-luka tersebut membutuhkan penanganan bedah minor seperti penjahitan untuk mencegah infeksi lanjutan. Selain luka robek, sempat tercatat pula kasus sukarelawan yang dirujuk akibat luka bakar terkena setrum listrik saat bertugas.
Melihat tren kasus bedah minor yang terus meningkat, Rido menyebut pihaknya telah mengevaluasi komposisi tim medis. Awalnya, tim medis rujukan hanya terdiri dari spesialis penyakit dalam, anak, dan kulit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/007de6e972a1471980a9e7cf5fe17c3d-IMG20251208141055.jpg)
”Setelah dievaluasi, ternyata kasus-kasus bedah mulai meningkat. Jadi untuk tim ketiga yang akan datang besok, akan disertakan dokter spesialis bedah untuk melengkapi layanan,” tambah Rido.
Penambahan tenaga spesialis bedah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan sukarelawan ataupun warga yang mengalami trauma fisik di lokasi sehingga risiko infeksi dapat ditekan semaksimal mungkin.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase