Warga Terdampak Bencana Enggan Berobat karena Trauma, Nakes Jemput Bola ke Pengungsian

Trauma psikologis yang membuat warga Agam, Sumatera Barat, enggan mendatangi fasilitas kesehatan.

07 Des 2025 20:25 WIB · Nasional

KOMPAS/YOLA SASTRA

Oleh Willy Medi Christian Nababan

AGAM, KOMPAS — Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November lalu meluas. Di tengah masa tanggap darurat, para pengungsi mulai terserang penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan dan diare. Kondisi tersebut diperparah dengan trauma psikologis yang membuat warga enggan mendatangi fasilitas kesehatan. Karena itu, tenaga kesehatan memilih menjemput bola dengan mendatangi lokasi pengungsian.

Banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat melanda 50 kecamatan di 16 kabupaten/kota. Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah Kabupaten Agam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat, hingga Sabtu (6/12/2025), korban meninggal mencapai 180 orang.

Bukan hanya itu, warga terdampak bencana yang kini tinggal di pengungsian mulai terserang penyakit. Kepala Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, Yelmita Juwarnis mengungkapkan, keluhan kesehatan pengungsi kini didominasi penyakit yang disebabkan lingkungan tidak sehat.

”Rata-rata penyakit yang ada sekarang ini ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), diare, batuk, demam, dan gatal-gatal,” ujar Yelmita saat ditemui di posko kesehatan setempat.

Petugas PLN mulai memperbaiki jaringan listrik di permukiman yang dilanda banjir bandang di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Jumat (5/12/2025). Sebagian besar permukiman terdampak "galodo" di Palembayan pada Kamis (27/11/2025) lalu belum dapat mengakses listrik. KOMPAS/YOLA SASTRA

Meski posko kesehatan telah siaga, Yelmita mengungkapkan adanya kendala psikologis pada korban. Banyak warga yang enggan datang berobat ke puskesmas karena trauma mendalam terhadap kondisi cuaca, terutama saat hujan turun.

”Orang trauma. Kalau seandainya kita rawat, kayak hujan sekarang ini, dia trauma. Jadi mereka memilih lari ke tempat yang lebih aman, seperti ke rumah keluarga yang jauh,” jelasnya.

Menyiasati trauma tersebut, tenaga medis di Agam mengubah strategi layanan. Petugas tidak lagi menunggu pasien datang, tetapi aktif menjemput bola atau mendatangi rumah-rumah dan tenda pengungsian.

”Kami turun ke lapangan mencari pasien berisiko, seperti warga lansia, ibu hamil, dan anak balita. Data ibu hamil yang terdampak sudah ada, nanti kami kunjungi langsung,” kata Yelmita.

Selain penyakit menular, tim medis juga memantau pemulihan korban luka fisik. Pasien patah tulang atau luka berat yang sebelumnya dirujuk ke RSUD Lubuk Basung sebagian besar sudah dipulangkan. Perawatan luka lanjutan dilakukan melalui kunjungan rumah bagi mereka yang belum mampu berjalan ke puskesmas.

Distribusi bantuan terhambat

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi mengungkapkan, jumlah warga terdampak banjir dan longsor di Sumbar mencapai 247.402 jiwa. ”Selain itu, 228 korban meninggal, 112 luka-luka, dan masih ada 98 orang yang dinyatakan hilang,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi (kanan) memimpin rapat koordinasi penanganan bencana bersama jajaran perangkat daerah di Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (26/11/2025).

Pemprov Sumbar juga mencatat, sedikitnya 735 rumah hilang tersapu air bah, sedangkan 35.213 rumah lainnya terendam banjir. Banjir dan longsor juga mengakibatkan 172 ruas jalan dan 46 jembatan rusak sehingga menghambat distribusi bantuan ke sejumlah lokasi.

Karena itu, menurut Arry Yuswandi, selain penanganan kesehatan, pemerintah kini memprioritaskan pemulihan akses jalan dan layanan dasar. Pemprov Sumbar mencatat 338 sekolah, 66 fasilitas kesehatan, dan 148 rumah ibadah turut terdampak bencana.

Kerugian di sektor ekonomi produktif juga masih terus dihitung. Ini mengingat 6.749 hektar sawah dan 10.486 unit kolam ikan warga rusak diterjang banjir.

”Perkiraan total kerugian masih dalam perhitungan dan verifikasi lapangan. Namun, yang terpenting saat ini adalah memastikan seluruh masyarakat terdampak mendapatkan layanan, perlindungan, dan bantuan yang tepat serta cepat,” kata Arry.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari