Cek Kesehatan Gratis, Upaya  Membangun Budaya Sehat  Baru di Masyarakat

Program Cek Kesehatan Gratis mulai dijalankan. Program ini diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membangun budaya kesehatan yang lebih baik.

10 Feb 2025 17:50 WIB · Humaniora

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Secara serentak, program Cek Kesehatan Gratis mulai dijalankan pada 10 Februari 2025 di 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Salah satu program pemerintahan Prabowo-Gibran ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam deteksi dini kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengatakan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) punya tujuan jangka panjang untuk menekan kematian dini di masyarakat dan menekan beban biaya kesehatan. Dengan deteksi dini, faktor risiko kesehatan bisa diketahui sejak awal sehingga penyakit bisa dicegah dan tidak membutuhkan biaya kesehatan yang besar.

”Diharapkan masyarakat bisa menggunakan (program Cek Kesehatan Gratis). Ini, kan, kultur baru, budaya baru. Kalau biasanya sakit dulu, bahkan sakit berat baru ke pelayanan kesehatan, ini belum sakit sudah periksa. Kami ingin masyarakat yang sehat sehingga perlu membangun budaya sehat,” ujar Maria saat ditemui dalam kunjungannya di Puskesmas Tanah Abang, Jakarta, Senin (10/2/2025).

Quote

Ini, kan, kultur baru, budaya baru. Kalau biasanya sakit dulu, bahkan sakit berat baru ke pelayanan kesehatan, ini belum sakit sudah periksa.

Program Cek Kesehatan Gratis menyasar semua usia, mulai dari bayi baru lahir sampai lansia. Ditargetkan, 80 persen dari target sasaran dari semua penduduk di Indonesia bisa memanfaatkan program ini. Sebanyak 10.000 puskesmas pun telah disiapkan untuk menerima layanan cek kesehatan gratis.

Pemeriksaan kesehatan akan dimulai pada bayi baru lahir, anak balita dan anak prasekolah, usia dewasa, dan warga lansia. Pemeriksaan kesehatan pada anak usia sekolah baru akan dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2025.

Layanan pemeriksaan kesehatan untuk bayi baru lahir, antara lain, pemeriksaan hormon tiroid bawaan, kekurangan enzim pelindung sel darah merah, pemeriksaan penyakit jantung bawaan kritis, kelainan saluran empedu, dan pemeriksaan pertumbuhan, seperti berat badan dan tinggi badan.

Sementara itu, pemeriksaan kesehatan untuk usia balita dan prasekolah ialah pemeriksaan pertumbuhan, perkembangan, tuberkulosis, telinga, mata, gigi, talasemia, dan gula darah. Pemeriksaan untuk usia dewasa dan lansia, antara lain, risiko merokok, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, telinga, mata, gigi, gizi, dan jiwa.

Pada usia dewasa dan lansia, khusus usia 30 tahun ke atas dapat mengakses cek kesehatan gratis untuk pemeriksaan kanker payudara dan kanker leher rahim. Untuk usia 40 tahun ke atas dapat mengakses pemeriksaan untuk risiko stroke, jantung, dan fungsi ginjal. Sementara untuk usia 60 tahun ke atas dapat melakukan pemeriksaan terkait kesehatan lanjut usia (geriatri).

”Pemeriksaan diberikan setiap hari ulang tahun. Pemeriksaan bisa dilakukan sampai 30 hari ke depan setelah tanggal ulang tahun. Tapi, khusus (ulang tahun) Januari, Februari, dan Maret boleh datang sampai April,” ujar Maria.

Secara teknis, Maria mengatakan, masyarakat yang akan mengakses layanan cek kesehatan gratis dapat mendaftarkan diri melalui aplikasi Satu Sehat Mobile. Namun, masyarakat yang mengalami kendala bisa datang langsung ke puskesmas.

Infografik Jenis Pemeriksaan Kesehatan Gratis Berdasarkan Kelompok Usia

Untuk sementara, pada setiap puskesmas dibuka kuota sekitar 30 orang per hari untuk pendaftaran daring, dengan tambahan 10 orang untuk pendaftaran manual yang datang langsung ke puskesmas. Pembatasan kuota pemeriksaan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas sumber daya manusia yang bertugas.

Maria memastikan, program ini akan tetap berjalan sesuai dengan rencana sekalipun efisiensi anggaran tengah dilakukan pemerintah. Secara bertahap pun pemerintah terus melengkapi alat kesehatan di semua puskesmas. Saat ini masih ada sekitar 40 persen puskesmas yang belum memiliki sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan lengkap.

“Untuk saat ini target kita baru cakupan. Jadi kita harus mencakup sebanyak mungkin masyarakat yang mau melakukan pemeriksaan. Kita belum mengubah target, masih 80 persen (dari total penduduk). Namun, jika ada 100 juta (masyarakat) yang memeriksa saja itu sudah bagus,” ujar Maria.

Secara terpisah, anggota Komisi IX DPRFraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Edy Wuryanto mengatakan, kesiapan sumber daya manusia, sarana pendukung pemeriksaan, dan pemetaan target sasaran dinilai masih menjadi kendala yang ditemui dalam pelaksanaan program cek kesehatan gratis. “Kita harus memastikan alat kesehatan yang diperlukan tersedia di semua fasilitas kesehatan. Jangan sampai ada daerah yang tidak bisa menjalankan program ini karena keterbatasan alat atau tenaga medis yang kurang terlatih,” tuturnya.

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi Tjandra Yoga Aditama menuturkan, kesiapan sumber daya manusia kesehatan yang bertugas untuk mendukung program cek kesehatan gratis harus dipastikan. Beban tenaga kesehatan di puskesmas sudah besar. Jangan sampai program cek kesehatan gratis membuat layanan kesehatan krusial lainnya terganggu karena keterbatasan jumlah tenaga kesehatan.

Poster panduan program cek kesehatan gratis di Puskesmas Gambir, Jakarta Pusat, Senin (10/2/2025). Program cek kesehatan gratis di 44 puskesmas di Jakarta resmi dimulai hari ini. Program yang diperuntukkan bagi warga berusia di bawah 6 tahun dan masyarakat umum yang bukan anak sekolah di atas 18 tahun ini dapat diakses hingga 30 hari setelah hari ulang tahun. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 10-02-2025

Selain itu, ia juga menegaskan agar sistem manajemen pemeriksaan kesehatan harus disiapkan dengan baik. Alur perjalanan pemeriksaan, dari pendaftaran sampai pemeriksaan perlu jelas disampaikan ke masyarakat.

“Perlu ada sistem manajemen yang baik tentang bagaimana masyarakat datang, dokumen apa yang perlu dibawa, bagaimana mengatur giliran datang dan diperiksa, dan bagaimana tindak lanjut dari hasil pemeriksaan. Sampaikan juga apa-apa yang perlu dilakukan warga sesuai hasil pemeriksaannya,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji