Program cek kesehatan gratis untuk anak sekolah, menurut rencana, akan dimulai pada akhir Juli 2025. Lebih dari 50 juta anak menjadi sasaran.
19 Jun 2025 11:36 WIB · Kesehatan
JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan program cek kesehatan gratis untuk anak sekolah yang, menurut rencana, akan dimulai pada akhir Juli 2025 saat tahun ajaran baru. Sejumlah uji coba telah dilakukan. Setidaknya ada 15 jenis pemeriksaan yang akan diberikan kepada anak sekolah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, cek kesehatan gratis untuk anak sekolah akan dimulai saat tahun ajaran baru 2025/2026. Program cek kesehatan untuk anak sekolah ini akan dilakukan secara bertahap, tergantung dari kesiapan sekolah dan puskesmas di setiap daerah.
”Target pemeriksaannya ialah anak sekolah, mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Ini termasuk pada madrasah, pondok pesantren, SLB, dan sekolah rakyat. Selain itu, anak usia sekolah lainnya yang berada di luar satuan pendidikan menjadi sasaran,” ujar Aji, Kamis (19/6/2025).
Adapun jumlah anak usia sekolah yang menjadi target sasaran program cek kesehatan gratis ini mencapai 53,8 juta anak. Jumlah itu tersebar di sekitar 282.000 satuan pendidikan. Bagi anak yang tidak bersekolah ataupun anak yang belajar secara homeschooling, program cek kesehatan gratis bisa diakses di puskesmas terdekat.
Cek kesehatan gratis untuk anak sekolah akan dimulai saat tahun ajaran baru 2025/2026.
Aji menyebutkan, pada program cek kesehatan gratis anak sekolah setidaknya ada 15 jenis pemeriksaan yang akan diberikan. Itu meliputi, antara lain, pemeriksaan status gizi, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, kesehatan telinga, kesehatan gigi, kesehatan mata, hepatitis, dan kesehatan reproduksi. Khusus pada anak SMP dan SMA akan mendapatkan pemeriksaan tambahan untuk pemeriksaan talasemia dan anemia.
Kementerian Kesehatan sebelumnya telah menguji coba cek kesehatan gratis bagi anak sekolah. Uji coba dilakukan di BPK Penabur Tangerang dan Pesantren Asshidiqiyah Jakarta Barat. Untuk uji coba di BPK Penabur melibatkan 20 anak pada jenjang SD sampai SMA. Sementara untuk uji coba di Pesantren Asshidiqiyah melibatkan 10 anak setingkat SMP-SMA.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/12/14/fa58dabd-ece3-4f4e-8056-53dcaec00c1b_jpg.jpg)
”Dari hasil uji coba, proses pemeriksaan untuk anak setingkat SD butuh waktu 24-32 menit untuk lima orang anak atau rata-rata sekitar 6 menit per orang. Sementara untuk anak setingkat SMP-SMA butuh waktu 50-52 menit per lima anak atau 10 menit per orang,” katanya.
Lewat uji coba tersebut, selain didapatkan perkiraan waktu pemeriksaan untuk setiap anak juga memperlihatkan informasi mengenai status kesehatan anak sekolah, kebutuhan tenaga kesehatan dan tenaga medis, dan kebutuhan ruangan. Hal ini akan menjadi masukan untuk pelaksanaan cek kesehatan gratis anak sekolah di tingkat nasional.
Aji menyampaikan, sejumlah tantangan dalam cek kesehatan gratis anak sekolah terutama dihadapi oleh puskesmas yang wilayahnya memiliki banyak sekolah. Pada kondisi tersebut, jumlah tenaga dan waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan akan lebih besar.
Selain itu, tantangan lain yang harus diantisipasi ialah pada sekolah yang memiliki banyak siswa. Pembagian waktu dan tenaga juga perlu dipikirkan.
”Ketersediaan sarana prasarana sekolah, seperti lapangan olahraga untuk tes kebugaran, aspek geografis yang menyulitkan puskesmas untuk menjangkau sekolah, akses internet di daerah 3T untuk pelaporan juga perlu diantisipasi,” tuturnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/52b0cecd-568d-4cf2-8443-39a57fd15d23_png.png)
Aji menuturkan, persiapan dan koordinasi dengan pemangku kepentingan lain, termasuk dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri saat ini lebih intensif dilakukan menjelang pelaksanaan cek kesehatan gratis anak sekolah.
Nantinya, surat edaran bersama yang ditujukan untuk pemerintah daerah dan sekolah pun akan diterbitkan agar program cek kesehatan gratis anak sekolah bisa berjalan dengan lancar.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers bertajuk ”Capaian dan Temuan Pemeriksaan Kesehatan Gratis” pada Kamis (12/6/2025) mengatakan, selama empat bulan program cek kesehatan gratis berlangsung, sudah ada 8,7 juta penduduk yang mendaftarkan diri untuk melakukan pemeriksaan dalam program tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 8,2 juta sudah selesai melakukan pemeriksaan.
Cakupan cek kesehatan gratis paling tinggi dilaporkan di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Hampir 60 persen dari total cakupan berada di tiga provinsi tersebut. Sementara tiga provinsi dengan cakupan terendah ialah Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Dari evaluasi pelaksanaan cek kesehatan gratis ditunjukkan pula bahwa lebih banyak perempuan yang melakukan cek kesehatan gratis daripada laki-laki. Terdapat 5,3 juta perempuan atau 62,24 persen dari total peserta yang sudah melakukan cek kesehatan gratis.
Budi menyampaikan, ada empat penyakit utama yang paling banyak ditemukan dari jumlah penduduk yang diperiksa. Itu meliputi, masalah kesehatan gigi, hipertensi, diabetes, dan obesitas.
”Masalah kesehatan gigi ini tinggi sekali terjadi di masyarakat Indonesia. Dan, saya akui memang kadang-kadang kita kurang perhatian dengan kesehatan gigi. Padahal, ini penting, di usia anak untuk menjaga asupan gizi, dan untuk lansia juga penting untuk memastikan bisa hidup lebih nyaman,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/10/d79571ff-6ffa-40f3-980f-876bab158140_jpg.jpg)
Secara detail, ahli epidemiologi Universitas Indonesia yang juga sebagai peninjau ahli program cek kesehatan gratis, Iwan Ariawan, mengatakan, lebih dari separuh peserta cek kesehatan gratis ditemukan dengan masalah gigi, seperti gigi berlubang, gigi goyang, ataupun gusi turun.
Selain itu, ditemukan pula bahwa 50 persen atau satu dari dua perempuan yang melakukan cek kesehatan gratis mengalami obesitas sentral yang ditunjukkan dengan lingkar perut lebih dari 80 sentimeter.
Obesitas sentral juga banyak ditemukan pada laki-laki yang mencapai seperempat atau 25 persen dari laki-laki yang diperiksa. Data lainnya, sekitar 21 persen peserta cek kesehatan gratis mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi dan 5,9 persen terdeteksi mengalami diabetes.
”Obesitas, hipertensi, dan diabetes merupakan kelompok yang sangat berisiko mengalami penyakit jantung, stroke, ataupun gagal ginjal. Yang kita juga tahu bahwa ini merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia serta memerlukan biaya perawatan yang besar,” ujar Iwan.
Budi menambahkan, pemeriksaan kesehatan ini penting untuk dilakukan agar penyakit bisa terdeteksi sejak dini. Hipertensi, diabetes, dan obesitas harus bisa dikendalikan sejak dini agar tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih berat, seperti jantung dan stroke.
Masyarakat juga langsung bisa mengakses layanan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) jika ditemukan adanya penyakit yang membutuhkan pengobatan atau perawatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/b57de481a722d4606a57051cd4b91133-Screenshot_20250619_101241_YouTube.jpg)
”Jadi jauh lebih baik, lebih murah, dan jauh lebih menyenangkan untuk kita hidup sehat daripada mengobati pada saat kita sakit. Jangan menunggu sampai sakit baru kita sehatkan kembali atau sembuhkan diri kita,” tuturnya.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengatakan, berbagai perbaikan terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas dari pelaksanaan program cek kesehatan gratis.
Ia mengakui, tidak semua puskesmas di Indonesia memiliki kapasitas dan kualitas yang sama. Baru sekitar 60 persen puskesmas dari 10.000 puskesmas di Indonesia yang memiliki fasilitas lengkap dan berfungsi optimal.
Untuk itu, pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2025 telah mendorong bagi seluruh pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan fasilitas kesehatan beserta dengan alat dan layanan kesehatan, serta mutu dan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan. Diharapkan, setiap fasilitas kesehatan pun bisa memberikan layanan yang lebih baik di masyarakat.
Selain itu, Endang menuturkan, percepatan cakupan pemeriksaan kesehatan gratis terus dilakukan untuk mencapai target 100 juta orang yang diperiksa pada akhir 2025. Laju pemeriksaan kesehatan gratis sekarang sekitar 200.000 orang per hari.
”Jadi, harapannya bisa mencapai 4 juta per bulan dan meningkat menjadi 5-6 juta per bulan di bulan tersisa berikutnya. Itu ditambah juga dengan 50 juta anak sekolah. Dengan begitu, kita harapkan bisa didapatkan 100 juta di akhir tahun,” tuturnya.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .