Foto ini menggambarkan realitas dari tragedi 11 September 2001 yang bisa terjadi kepada siapa pun. Sebuah simbol individu di tengah situasi drama kemanusiaan.
30 Sep 2025 07:01 WIB · Klinik Foto
Hampir seperempat abad berlalu, peristiwa serangan teror yang meruntuhkan gedung menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, Amerika Serikat, masih membekas di ingatan masyarakat dunia. Di AS sendiri, tiap tanggal 11 September selalu digelar peringatan untuk mengenang ribuan jiwa yang menjadi korban tragedi itu. Media massa, termasuk kantor berita, akan memublikasikan ulang visual-visual terkait peristiwa itu. Di era media sosial saat ini, gaung pengingatnya makin menggema.
Foto-foto yang banyak dilihat dari peristiwa yang sering disebut sebagai tragedi 9/11 tersebut adalah foto menara kembar WTC dan pesawat yang menabraknya. Kejadian itu bagai teror yang mengguncang salah satu pusat keuangan dunia tatkala dua pesawat terbang komersial yang dibajak dan ditabrakkan ke menara kembar WTC hingga kolaps. Simbol kekuatan ekonomi dan keuangan AS runtuh seketika. Apa yang dilakukan pembajak serasa di luar bayangan skenario film-film aksi produksi Hollywood. Tak ada yang menyangka, peristiwa yang selama ini hanya ada di cerita film, saat itu menjadi kenyataan, bahkan lebih dahsyat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/6f2da4fe9eaa14e74eb6ed593811f012-AP010911113545.jpg)
Visual detik-detik pesawat menabrak gedung, ledakan dan kebakaran gedung, kepanikan orang-orang di sekitar lokasi, hingga saat kedua menara runtuh yang menyebarkan debu ke segala penjuru banyak terekam baik oleh jurnalis ataupun warga biasa. Namun, di antara visual yang terekam saat peristiwa itu terjadi ada satu foto yang berbeda dan menarik perhatian, yaitu foto orang jatuh meluncur dari ketinggian gedung menara WTC yang terbakar.
Foto yang dikenal dengan sebutan ”The Falling Man” diambil oleh Richard Drew, pewarta foto dari kantor berita Associated Press (AP). Di hari tragedi massal ini, the falling man adalah satu-satunya foto yang banyak dilihat yang menunjukkan seseorang menghadapi kematian.
Bagi Drew, tanggal 11 September itu dimulai dengan salah satu momen paling ringan dalam kerja jurnalistiknya, yaitu meliput peragaan busana ibu hamil di Bryant Park untuk AP, tempat ia bekerja selama 31 tahun terakhir. Ia tiba di sana sebelum peragaan dimulai untuk mengambil beberapa foto model hamil dengan tata rambut dan riasan, dan hendak pergi dan mempertaruhkan ”lokasinya” di depan landasan pacu ketika seorang operator kamera CNN mendengar melalui headphone-nya dari ruang kendali bahwa telah terjadi ledakan di WTC.
Rumor tentang peristiwa semacam itu sudah umum sejak terjadinya bom mobil di WTC tahun 1993 dan Drew tidak terlalu memedulikannya sampai juru kamera CNN memberi tahunya bahwa sebuah pesawat telah menabrak salah satu menara. Pada saat yang sama, kantor Drew menghubunginya melalui ponsel dengan laporan yang sama. Tak perlu waktu lama, kedua model hamil yang difoto ditinggalkan saat kemudian ia menaiki kereta bawah tanah ekspres menuju Chambers Street, halte tepat sebelum menara kembar.
Setibanya di lokasi kejadian, ia tidak langsung menyadari bahwa saat itu kedua menara telah terbakar. Sebaliknya, ia berbaur dengan orang banyak, sengaja tidak mengenakan kartu persnya, sementara ia berkonsentrasi memotret puing-puing di tanah akibat benturan dan ledakan pesawat, dan membuat orang-orang tercengang. Banyak di antaranya terluka oleh pecahan kaca.
Hingga kemudian ia diarahkan oleh seorang polisi dan diberi tahu bahwa ia harus pergi ke West Street. Hal ini sama sekali tidak mengganggunya, karena akan memberinya sudut pandang yang lebih baik, dan juga karena di sanalah ambulans dan unit triase berada, tempat Drew memperkirakan banyak korban luka akan dibawa pada awalnya.
Drew berdiri di samping seorang polisi yang sangat ramah dari kantor polisi distrik ke-13 dan tiba-tiba dia berkata, ”Ya ampun, lihat itu!” Drew mendongak dan melihat orang-orang keluar dari gedung. Jatuh atau melompat dari gedung. Ada seorang wanita dari tim penyelamat di sana yang menunjukkan ada enam atau delapan orang atau mungkin lebih. Drew mulai memotret mereka saat mereka turun.
”Kami memperhatikan seorang pria, yang ada di salah satu foto saya yang telah banyak dipublikasikan, seorang pria benar-benar berpegangan di luar gedung, di luar di atas balok-balok penyangga. Dia mengenakan kemeja putih. Kami mengamatinya cukup lama sementara orang-orang lain berjatuhan, dan saya bergantian mengamati benda-benda itu serta benda-benda lainnya, lalu terdengar suara gemuruh yang keras. Saya memakai lensa 80-200 dan reruntuhan ini mulai berjatuhan. Saya tidak tahu itu bangunan yang runtuh. Saya pikir mungkin itu bagian dari atap atau fasadnya,” kisah Drew.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/a7e2807c9964cb406c38ae24d7ded2a7-AP21250755556339.jpg)
Saat bangunan pertama runtuh, ia berhasil mengambil sekitar delapan bingkai sebelum ditarik oleh salah satu petugas penyelamat menjauh dari lokasi dan naik ke jalan yang lebih tinggi. ”Anda harus selalu berhati-hati dalam situasi seperti itu, Anda tidak mau menjadi korban. Namun, jurnalis tidak bisa lari dari gedung yang runtuh atau lari dari kobaran api. Kami justru mendekat karena tugas kami untuk merekam sejarah,” katanya dalam video testimoni yang ditayangkan Time tahun 2016.
Drew tak menyangka mendapatkan foto orang yang jatuh, sampai ia menyadarinya ketika membuka di komputer setelah kembali ke kantor. Keesokan harinya, ia melihat fotonya dipublikasikan di banyak koran meskipun bukan sebagai foto utama.
Foto ”The Falling Man” diterbitkan di surat kabar di seluruh AS hingga beberapa hari setelah serangan. Foto itu dikecam sebagai foto berdarah dingin, mengerikan, dan sadis. Namun, kemudian foto itu seolah lenyap dari pembahasan tentang tragedi 9/11.
Seperti dikutip dari buku September 11: The 9/11 Story, Aftermath and Legacy, sebuah tinjauan mendalam tentang liputan AP tentang 9/11 dan peristiwa-peristiwa setelahnya, Drew mengisahkan kebanyakan editor surat kabar menolak untuk menerbitkan foto itu. Mereka yang menerbitkannya, sehari setelah serangan WTC, menerima ratusan surat keluhan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/b09a6a0026b62680cae7861e334cbe6e-AP010911113941.jpg)
Reaksi keras dari para pembaca memaksanya untuk sementara waktu terlupakan. Foto ini bisa menjadi gambar yang sulit untuk dipahami, pria itu dengan sempurna membelah menara ikonik saat ia melesat menuju bumi seperti anak panah.
”Namun, 20 tahun kemudian, saya masih ditanya tentang hal itu. Saya diundang ke acara bincang-bincang nasional, diwawancarai oleh kru TV asing, dan diminta untuk berbicara tentangnya di berbagai universitas di seluruh negeri,” ujarnya.
Majalah Esquire di AS menerbitkan esai 7.000 kata yang memuji fotonya sebagai ikon, mahakarya, dan karya seni yang menyentuh. Penghibur dan kolektor foto Sir Elton John menyebutnya, ”Mungkin salah satu foto paling sempurna yang pernah diambil.”
”Itu adalah foto yang teramat sunyi, tak seperti foto-foto yang ada dari bencana itu. Tak ada darah, tak ada benda, tak ada orang yang ditembak, tetapi orang bereaksi pada foto itu. Mereka merasa terhubung dengan foto itu, yang mungkin merasakan jika mereka berada pada situasi yang sama dan mungkin mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sama dengan yang dialami orang dalam foto itu,” kata fotografer yang juga pernah mengabadikan peristiwa penembakan calon Presiden Robert F Kennedy tahun 1968.
Kontroversi yang menyertai foto tersebut membuat Drew tertekan. Menyaksikan langsung tragedi itu membuatnya risau. Ia gelisah saat mendengar desing suara pesawat terbang. Banyak orang menanyainya bagaimana ia bisa begitu tenang memotret seseorang yang menghadapi kematian. ”Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Aku membuat rekaman fotografis seseorang yang menjalani saat-saat terakhir hidupnya. Setiap kali aku melihatnya, aku melihatnya hidup,” jelasnya.
Hampir setahun ia harus menghadapi dan memikirkan itu. Ia pun mengalami sindrom stres pascatrauma. Kemudian AP mengirimnya ikut terapi ke kamp yang dikelola oleh mantan pasukan khusus Inggris untuk pelatihan cara bertahan hidup dalam situasi yang tidak bersahabat. Pelatihan itu mengajari Drew cara mengambil tindakan pencegahan dan memberi kembali rasa kendali atas hidupnya.
”Saya pernah memotret orang sekarat. Sebagai fotografer pemula berusia 21 tahun yang sedang menjalani tugas rutin, saya berdiri di belakang Robert F Kennedy ketika ia dibunuh. Saat itu, tidak ada lensa telefoto yang bisa menjaga jarak. Saya begitu dekat hingga darahnya berceceran di jaket saya,” kenang Drew.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/59529c2bc9a0ddb84a2a9e111fa0f726-AP21238800558061.jpg)
Namun, saat foto-foto pembunuhan Kennedy dipublikasikan, tak ada masyarakat yang memprotes. Drew pun gelisah mengapa orang bereaksi begitu berbeda terhadap foto-foto RFK dan WTC. Hingga akhirnya ia berdiskusi dengan banyak orang, baik editor ataupun sesama fotografer.
Dalam kasus pembunuhan Kennedy, banyak orang mengenalnya tetapi tidak merasakan posisi sebagai pribadinya. Ia sebagai tokoh politik, orang kaya, dari dinasti terkenal, dan kandidat presiden. Adapun di foto ”The Falling Man”, ini tentang identifikasi pribadi. Banyak orang merasakan nasib seperti dia, yang hanyalah orang biasa yang harus bekerja, hari demi hari, lebih sering di gedung perkantoran tinggi.
Itulah yang meresahkan orang-orang tentang foto itu. Mereka melihatnya dan menempatkan diri di posisi si penerjun. Mereka bertanya, ”Pilihan mana yang akan saya pilih? Apakah saya akan menunggu dan berdoa memohon pertolongan sementara api menjilat saya atau melompat menembus udara segar dan sinar matahari, menuju kematian yang pasti?”
Selain kontroversi tentang publikasi foto ”The Falling Man”, juga berkembang polemik tentang siapakah sosok orang yang terekam sebagai the falling man itu. Majalah Esquire pernah membuat laporan panjang saat berusaha menelusuri siapakah sosok gerangan.
Seorang editor di Toronto Globe and Mail menugaskan seorang reporter bernama Peter Cheney untuk memecahkan misteri tersebut. Cheney awalnya putus asa akan tugasnya; lagi pula, seluruh kota dipenuhi selebaran bergambar yang mengiklankan wajah-wajah orang hilang dan meninggal akibat tragedy 9/11. Kemudian ia memberanikan diri, mengirimkan foto digital itu ke sebuah studio yang dapat mengklarifikasi dan menyempurnakannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/65faf02c7b3fbbd2e207d0fd7e0ead36-AP010911013489.jpg)
Dari hasil penyempurnaan foto itu, pria itu kemungkinan besar bukan berkulit hitam, melainkan berkulit gelap, mungkin Latino. Ia berjanggut. Kemeja putih yang berkibar dari celana hitamnya bukanlah kemeja, melainkan semacam tunik, sejenis jaket yang dikenakan pekerja restoran. Windows on the World, restoran di puncak menara utara, kehilangan 79 karyawannya pada 11 September, begitu pula 91 pelanggannya. Kemungkinan besar, sosok itu termasuk di antara mereka.
Berbagai informasi yang mengarah ke sosok the falling man ditelusuri, tetapi hasilnya belum bisa disimpulkan dan diyakini sebagai identitas sosok itu. Hingga sekarang, polemik tentang sosok itu belum menemukan jawaban pasti.
Kini, setelah hampir seperempat abad peristiwa 9/11 berlalu, foto ”The Falling Man” masih jadi pembicaraan. Bukan lagi mengenai siapa sebenarnya orang yang terekam foto itu, meliankan perasaan yang mucul bahwa orang itu adalah kita, siapa pun yang bisa berada dalam posisinya.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan