Kisah Foto-foto yang Memengaruhi Dunia

Foto memiliki kekuatan visual yang bisa menggemparkan dan mengubah pandangan publik, bahkan mengubah kebijakan para penguasa.

22 Jul 2025 07:00 WIB · Klinik Foto

Oleh Iwan Setiyawan

Sejak fotografi ditemukan pada abad ke-19, teknologi ini langsung popular sebagai media untuk merekam peristiwa atau segala hal di kehidupan dunia yang ingin diabadikan dan dikenang. Dari foto-foto potret dan keindahan alam untuk koleksi pribadi hingga foto kegiatan untuk dokumentasi. Foto pun mengambil alih peran ilustrasi gambar di media massa.

Fotografi menjadi sarana langsung untuk menyampaikan berita, informasi, anekdot, emosi, gagasan, ketegangan, mimpi, kesenangan, dan kengerian. Terkadang juga untuk menyampaikan ironi dan cara menghindari kengerian.

Memasuki abad ke-20, fotografi berperan penting menjadi media untuk menyampaikan informasi. Perang yang terjadi, krisis dan depresi ekonomi dunia, bencana, serta kemajuan teknologi, semua bisa tersebar ke penjuru dunia melalui tampilan foto-foto di media.

Beberapa foto karya para jurnalis foto ini telah menggugah hati nurani publik dan mengguncang dunia. Tak sedikit foto-foto tersebut mengubah persepsi publik akan suatu masalah yang diangkat. Secara tidak langsung foto tersebut turut mempengaruhi kehidupan masyarakat global.

Berikut ini berapa foto yang dianggap mempunyai pengaruh kuat dan mengubah pandangan publik.

”The Falling Soldiers” karya Robert Capa. Diambil pada tahun 1936 selama Perang Saudara Spanyol, foto ”Prajurit Jatuh” ini menangkap momen seorang prajurit tertembak peluru. Pada saat itu, foto tersebut dianggap sebagai contoh menakjubkan tentang bagaimana fotografi benar-benar dapat merekam realitas kematian dalam pertempuran yang hanya sepersekian detik.

UNTUK RUBRIK KLIK The Falling Soldiers karya Robert Capa tahun 1936 ARSIP ROBERT CAPA 21-07-2025

Meskipun digembar-gemborkan sebagai salah satu foto perang paling ikonik yang pernah diambil, foto karya Capa ini telah terjerumus dalam kontroversi dengan beberapa peneliti mengklaim foto itu sebenarnya dipentaskan. Ada dugaan adegan yang terekam tersebut diatur dengan kesengajaan.

Terlepas dari kontroversi, makna penting dari Falling Soldier bukan sebagai foto perang, melainkan lebih sebagai contoh awal mengenai peran fotografi dalam merekam secara akurat berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk perang, yang sebelumnya tidak terlihat oleh masyarakat umum. Foto ini dengan demikian merupakan cikal bakal jurnalisme foto modern, suatu bentuk komunikasi yang memadukan seni dengan etika dokumenter, sehingga memungkinkan kita menjadi saksi langsung sejarah.

”Migrant Mother”, karya fotografer Dorothea Lange. Diambil pada tahun 1936, foto ini dengan sempurna merangkum martabat subyeknya sekaligus rasa putus asa yang mendalam. Dibingkai oleh anak-anaknya, dengan dahi berkerut dan pakaian usang, ”Ibu Migran” karya Lange menyiratkan perjuangan yang epik, tetapi tetap menyampaikan kelembutan dan keintiman keibuan. Karya ini sangat manusiawi sekaligus simbolis.

UNTUK RUBRIK KLIK Migrant Mother karya Dorothea Lange (1936) ARSIP DOROTHEA LANGE 21-07-2025

”Migrant Mother” telah menjadi pengingat ikonis akan kesengsaraan dan kemiskinan yang menimpa begitu banyak keluarga biasa di masa depresi besar dunia. Foto ini juga mengingatkan kita akan konsekuensi kemanusiaan yang sangat nyata ketika kebijakan ekonomi salah dan ekonomi runtuh.

”Raising the Flag at Iwo Jima”, karya Joe Rosenthal. Foto ikonis yang dipotret tahun 1945 semasa Perang Pasifik ini menggambarkan tentang pasukan Amerika Serikat (AS) yang mengibarkan bendera AS di Iwo Jima, sebuah pulau yang dikuasai Jepang. Foto ini menjadi simbol perjuangan dan kegigihan melawan kesulitan.

UNTUK RUBRIK KLIK Rising the Flag at Iwo Jima karya Joe Rosenthal tahun 1945 ARSIP JOE ROSENTHAL 21-07-2025

Bersifat propaganda, foto ini telah menjadi ikon, baik sebagai gambaran kemenangan Amerika maupun sebagai pertanda supremasi militer Amerika yang akan datang. Foto ini menggambarkan harapan, perjuangan, dan kesuksesan, bersatu sebagai kesatuan untuk mencapai prestasi yang mustahil dicapai sendirian.

Namun, kenyataannya, Rosenthal hampir melewatkan momen tersebut dan benar-benar mengambil foto tersebut dengan terburu-buru sehingga ia tidak sempat melihat melalui jendela bidik. ”Ketika Anda mengambil foto seperti itu, Anda tidak akan langsung berkata bahwa Anda mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Anda tidak tahu pasti,” kenang Rosenthal.

”Flower Child” karya Marc Riboud yang dibuat tahun 1967. Dalam gambar ikonis yang menampilkan seorang perempuan pengunjuk rasa memegang bunga sambil menghadapi barisan senjata dan bayonet. Gambar ini telah menjadi ikon gerakan kekuatan bunga dan perlawanan damai terhadap Perang Vietnam.

UNTUK RUBRIK KLIK The Flower Child karya Marc Riboud tahun 1967 ARSIP MARC RIBOUD 21-07-2025

Foto tersebut seolah gabungan dari kutipan pemimpin revolusi China tahun 1949 Mao Zedong yang menegaskan bahwa ”Kekuasaan politik tumbuh dari laras senjata” dan gerakan hippy tahun 1960-an dan 1970-an yang mempromosikan ”kekuatan bunga” sebagai jalan menuju perdamaian. Hingga kini, bunga menjadi simbol perlawanan damai dalam protes-protes massal dan anti kekerasan.

Perang Vietnam juga melahirkan foto ikonik lain, yaitu ”Napalm Girl”. Bisa dibilang, Vietnam adalah perang pertama yang menunjukkan kekuatan foto jurnalisme. Perang Dunia II telah difoto secara ekstensif, tetapi liputan langsung di Vietnam dan banyaknya foto yang dipublikasikan mengubah Vietnam menjadi perang yang berlangsung di bawah sorotan publik.

RUBRIK KLIK Napalm Girl karya Nick Ut tahun 1972 AP PHOTO/NICK UT *** Local Caption *** FILE - South Vietnamese forces follow after terrified children, including 9-year-old Kim Phuc, center, as they run down Route 1 near Trang Bang after an aerial napalm attack on suspected Viet Cong hiding places, June 8, 1972. (AP Photo/Nick Ut, File)

Ada banyak gambar ikonik Perang Vietnam, tetapi ”Napalm Girl” karya Nick Ut tahun 1972 menonjol sebagai gambar yang paling menggambarkan kengerian konflik tersebut. Fotonya, yang menampilkan seorang anak perempuan telanjang (Kim Phuc) berlari di sepanjang jalan, merentangkan tangan, menjerit kesakitan dan ketakutan, membangkitkan rasa jijik dan ngeri sekaligus menyampaikan ketidakadilan perang yang sesungguhnya.

Terpatri dalam kesadaran kolektif kita, teror dan ketidakberdayaan ”Gadis Napalm” adalah pengingat mengapa perang tidak pernah mulia dan selalu brutal, tidak peduli bagaimana para propagandis mencoba dan memutarbalikkannya.

”Tank Man” karya Jeff Widener tahun 1989. Gambar tentang seorang warga sipil China yang menghalangi laju tank di Beijing dalam rangkaian protes pro demokrasi. Foto ini dengan sempurna melambangkan keberanian, pembangkangan, dan ketidakadilan otoritarianisme yang represif.

Berpakaian seolah-olah baru saja meninggalkan kantornya, mengenakan kemeja putih dan celana panjang gelap, ”Manusia Tank” begitu ia dikenal, juga tampak menenteng tas belanja, sebuah detail yang semakin meningkatkan penampilannya yang biasa-biasa saja. Hal ini sekaligus meningkatkan kontras dengan mesin-mesin mengerikan yang sedang mengejarnya semasa protes di Lapangan Tiananmen.

UNTUK RUBRIK KLIK Tank Man karya Jeff Widener tahun 1989 AP PHOTO/JEFF WIDENER 21-07-2025

”Tank Man” telah menjadi gambaran totemik bagi perlawanan warga sipil terhadap penindasan bersenjata, sebuah contoh bagaimana satu tindakan berani dapat menjadi lambang, dan inspirasi, bagi siapa saja yang berani melawan.

”The Vulture and the Little Girl” karya Kevin Carter tahun 1993. Mustahil tidak tersentuh oleh gambar karya Carter, yang menggambarkan seorang anak kurus kering yang dilanda kelaparan dengan seekor burung nasar (pemakan bangkai) mengintai di latar belakang. Selain menyoroti penderitaan tak pandang bulu akibat kelaparan di Sudan, gambar tersebut juga menyampaikan rasa kerentanan yang menyayat hati. Setelah pertama kali dipublikasikan di The New York Times, gambar tersebut memicu curahan dukungan untuk operasi kemanusiaan di Sudan.

Meskipun gambar Carter memenangi Penghargaan Pullitzer yang bergengsi untuk fotografi jurnalistik, gambar itu juga menjadi fokus para kritikus yang menuduh sang fotografer secara sinis mengeksploitasi drama saat itu dan terlibat dalam ”pornografi kemiskinan”.

UNTUK RUBRIK KLIK The Vulture and the Little Girl karya Kevin Carter (1993) ARSIP KEVIN CARTER 21-07-2025

Kevin Carter, yang saat itu baru berusia 33 tahun dan merupakan salah satu fotografer konflik terkemuka, ditemukan bunuh diri hanya empat bulan setelah memenangi Pullitzer. Kematiannya menyoroti trauma psikologis yang dialami para fotografer yang mendokumentasikan perang dan pertikaian. Gambar Carter dengan sempurna menyoroti ketegangan antara kemampuan foto jurnalisme untuk memengaruhi opini publik dan dilema moral menyakitkan yang dihadapi oleh para fotografer yang tugasnya memberikan kesaksian tentang aspek tergelap umat manusia.

”The Falling Man” karya Richard Drew dari peristiwa tragedi 11 September 2001. Gambar karya Drew yang menghantui, mengerikan, dan sekaligus membosankan ini menunjukkan seorang laki-laki jatuh dari salah satu menara kembar World Trade Center tak lama setelah gedung tersebut ditabrak oleh pesawat yang dibajak. Foto menyajikan kepada kita satu detail sesaat dari tragedi ketika seorang laki-laki terjun menuju kematiannya.

Meskipun secara unik sempit dalam penggambaran serangan 11 September, Falling Man mendorong kita untuk merenungkan konteks yang lebih luas pada hari itu. Foto itu membawa kita untuk membayangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum gambar ini dan pada kenyataan suram yang tak terelakkan mengenai nasib laki-laki itu, beberapa detik kemudian. Citra Drew tertanam dalam benak kita, membuat bencana besar yang telah membentuk kembali sejarah modern terasa sangat personal.

UNTUK RUBRIK KLIK The Falling Man karya Richard Drew tahun 2001 ARSIP RICHARD DREW 21-07-2025

Banyak momen paling dramatis dalam sejarah modern seakan telah difoto dari berbagai sudut, tetapi dari setiap peristiwa, hanya ada sedikit gambar yang terpatri dalam ingatan kolektif. Falling Man karya Richard Drew adalah salah satunya.

Foto-foto tersebut menjadi contoh kekuatan visual yang bisa menggemparkan dan mengubah pandangan publik, bahkan mengubah kebijakan para penguasa. Tentu saja masih ada foto-foto lain yang bisa dianggap mempunyai kekuatan serta pengaruh yang sama. Namun, yang ditampilkan kali ini lebih untuk mewakili kuatan foto jurnalistik sebagai pencatat sejarah sekaligus mengingatkan agar di masa depan hal yang buruk tidak terulang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari