Fotografer zaman kemerdekaan turut berjuang bertaruh nyawa mengabadikan dan mewartakan peristiwa-peristiwa penting yang menjadi sejarah bangsa.
19 Agt 2025 07:00 WIB · Klinik Foto
Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia sibuk dengan perayaan Hari Kemerdekaan. Beragam kegiatan digelar, baik oleh pemerintah maupun masyarakat di berbagai pelosok negeri. Tak lupa pula unggahan-unggahan cerita sejarah kemerdekaan Indonesia membanjiri wajah media massa ataupun media sosial.
Cerita heroik perjuangan bangsa dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan selalu menjadi magnet untuk memperoleh atensi masyarakat kita. Tak lupa narasi visual berupa foto-foto lama juga ditampilkan menjadi bumbu penguat narasi itu.
Beberapa foto zaman kemerdekaan mungkin sudah sering kita lihat di buku-buku sejarah baik buku pelajaran sekolah atau buku literatur lain. Foto pembacaan naskah proklamasi oleh Sukarno, foto perang gerilya yang dipimpin Panglima Soedirman, atau foto-foto lain yang dibuat di masa kemerdekaan tahun 1945-1950 seolah sudah menjadi ingatan kolektif untuk membangkitkan semangat kemerdekaan itu.
Tak banyak yang tahu bahwa di balik foto-foto ikonis zaman kemerdekaan itu ada kisah heroik yang dialami juru fotonya. Merekalah fotografer-fotografer penuh dedikasi yang dengan cara mereka turut berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Berikut ini beberapa cerita di balik foto-foto ikonis tersebut.
Proklamasi
Foto pembacaan naskah Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta. Foto ini merupakan foto ikonis yang menjadi bukti sejarah Indonesia telah merdeka. Foto-foto seputar proklamasi ini baru dipublikasikan awal tahun 1946 dalam edisi khusus koran Merdeka. Selain visual Sukarno membacakan naskah proklamasi disaksikan Mohammad Hatta, ada foto lain yang merekam rangkaian detik-detik proklamasi tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/a8562ead-4b52-4bda-9470-4b25cb8235ac_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/c8e1d322-b1bc-4b8c-a826-a3a56270f722_jpg.jpg)
Foto-foto tersebut diabadikan oleh fotografer Mendur bersaudara, Frans dan Alex Mendur. Alex tercatat saat itu menjadi fotografer Kantor Berita Jepang Domei, sedangkan adiknya Frans Mendur bekerja sebagai fotografer koran Asia Raya. Keduanya juga menjadi bagian dari pendiri agensi foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS), setahun setelah kemerdekaan.
Dalam buku IPPHOS Remastered, cerita pengabadian detik-detik bersejarah itu berawal dari malam sebelumnya di tangga 16 Agustus 1945. Seorang wartawan Jepang memberi tahu Frans Mendur bahwa besok kemerdekaan akan diumumkan.
Pada pagi sebelum fajar 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat 17 Ramadhan 1366 Hijriah, Frans dan kakaknya Alex berangkat ke rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Berdua mereka naik mobil dengan berbekal kamera Leica serta beberapa rol film yang diambil dari persediaan kantor tempat mereka bekerja. Sesampai di sana mereka melihat sudah ada beberapa tokoh hadir dan sekelompok pemuda. Kemudian rangkaian peristiwa proklamasi kemerdekaan itu terjadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/47023933-864d-4ce5-beb4-cf1b8e687e16_jpg.jpg)
Mendur bersaudara menjadi pewarta foto Indonesia yang tercatat hadir mengabadikan peristiwa bersejarah itu. Setelah memotret, mereka tak bisa segera memublikasikan karena masih ketatnya pengawasan Jepang saat itu. Film negatif Alex disita Jepang, sedangkan Frans berhasil menyelamatkan foto-fotonya setelah menyembunyikan negatifnya di bawah pohon saat ada razia tentara Jepang.
Enam bulan setelah proklamasi, koran Merdeka menerbitkan buku edisi khusus Nomor Peringatan Enam Bulan Republik yang terdiri 126 halaman pada 17 Februari 1946. Terbitan itu menayangkan esai komitmen kemerdekaan para pemimpin bangsa yang dihiasi foto-foto karya Mendur bersaudara. Selain foto pembacaan naskah proklamasi ada foto pengibaran bendera Merah Putih, pidato sejumlah tokoh yang hadir, pembacaan doa oleh Sukarno, serta kedatangan laskar pendukung kemerdekaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/4074ff96-cbf1-47f9-82b6-c2fec0b80a81_jpg.jpg)
Perobekan Bendera Belanda
Foto peristiwa perobekan bendera Belanda merah putih biru di Hotel Yamato Surabaya. Foto yang identik dengan perang Surabaya ini diabadikan oleh Abdul Wahab Saleh. Saleh asli arek Surabaya yang saat itu bekerja sebagai pewarta foto di Kantor Berita Indonesia (KBI) yang didirikan Bung Tomo. KBI kemudian melebur menjadi bagian dari kantor berita Antara. Sebelumnya, saat Jepang berkuasa, Saleh dan Bung Tomo bekerja di kantor berita Domei.
Saat peristiwa perobekan bendera terjadi, Saleh sedang berada di kantor KBI di bekas kantor Domei di pojok tikungan Jalan Tunjungan mengarah ke Jalan Embong Malang, 19 September 1945. Saleh sedang beristirahat ketika dia dan beberapa rekan wartawan mendengar keributan para pemuda yang memprotes pengibaran bendera Belanda warna merah putih biru oleh personel tentara Belanda yang bermarkas di Hotel Yamato. Naluri jurnalistiknya mendorong dia mendekat ke lokasi dengan membawa kamera.
Setelah terjadi perkelahian antara sejumlah tentara Belanda dan pemuda rakyat serta sempat terdengar rentetan senjata, tiba-tiba sudah ada beberapa pemuda yang menggunakan tangga naik ke menara tempat berkibarnya bendera Belanda. Mereka merobek warna biru di bagian bawah dan menjadi bendera merah putih yang kemudian dikibarkan lagi. Peristiwa itu terekam di rol seluloid di kamera Saleh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/56c12f4e-916a-490b-9163-64f37e4735a4_jpg.jpg)
Setelah memotret, ia pulang ke rumah ibunya dan menitipkan rol film hasil pemotretan. Saleh kemudian sibuk sebagai pewarta foto yang mengabadikan peristiwa pertempuran November di Surabaya. Di awal Desember saat Belanda menguasai Surabaya, Saleh hijrah ke Malang mengikuti rekan-rekan pejuang untuk menghindari penangkapan Belanda.
Adik Saleh, Siti Hanifah, yang juga aktif sebagai sukarelawan kemerdekaan menyusul ke Malang. Ibunya menitipkan rol film kepada Hanifah untuk diserahkan ke Saleh. Perjuangan Hanifah juga tak mudah. Untuk menghindari tentara Belanda, ia harus naik perahu menyusuri pesisir timur Surabaya hingga sampai di Sidoarjo. Kemudian ia diantar temannya ke Malang dan bertemulah dengan sang kakak.
Saleh bergembira menerima rol film tersebut. Ia kemudian memproses dan mencetak foto tersebut yang menjadi bukti sejarah keberanian arek-arek Surabaya melawan Belanda.
Bung Tomo
Foto pidato Bung Tomo dengan jari telunjuknya menunjuk ke depan. Foto ini banyak dikaitkan dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dalam banyak buku atau cerita sejarah disebutkan visual tersebut merupakan pidato Bung Tomo saat mengobarkan semangat juang arek-arek Surabaya untuk menentang kembalinya Belanda ke Surabaya yang memicu pertempuran 10 November. Padahal, foto tersebut tidak terkait langsung dengan Perang Surabaya. Bahkan, pidato Bung Tomo itu lokasinya bukan di Surabaya. Foto ini ada dalam arsip foto-foto IPPHOS yang berarti dibuat oleh fotografer IPPHOS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/a7eb84fe-dd5a-47fa-a38d-fa4c60cef4d5_jpg.jpg)
Ada dua fakta berbeda yang dinarasikan sebagai satu kesatuan. Saat November 1945, Bung Tomo memang berpidato mengobarkan semangat juang pemuda yang disiarkan melalui radio. Pidato tersebut dilakukan dari kediamannya di Surabaya. Saat itu tidak mungkin Bung Tomo bisa berpidato di depan banyak orang di ruang publik yang terbuka karena riskan terkena serangan udara Inggris yang masih menguasai Surabaya.
Fakta kedua adalah foto ikonis Bung Tomo pidato itu memang terjadi tapi bukan di Surabaya dan waktunya juga bukan di bulan November 1945. Ada dua pendapat mengenai lokasi pidato Bung Tomo itu. Pendapat pertama diungkapkan fotografer dan kurator Yudhi Soerjoatmodjo yang menyebut peristiwa itu terjadi di Malang bulan Februari 1947. Dalam buku IPPHOS Remastered disebutkan Soetomo atau BungTomo berpidato untuk penggalangan dana bagi para korban dan pengungsi akibat perang Surabaya.
Pendapat kedua menyatakan Bung Tomo berpidato di Alun-alun Mojokerto pada 18 Februari 1946. Pidato itu disampaikan untuk menyambut kedatangan Sukarno ke Mojokerto. Dalam buku 70 Tahun Histori Masa Depan tercantum kliping hasil kroping buku Peringatan Enam Bulan Republik yang diterbitkan bulan Maret 1946 oleh koran Merdeka. Selain itu, juga ditampilkan foto Bung Tomo di atas podium dari sudut lain dengan latar belakang kain bergaris seperti di foto ikonis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/aa54955f-d6db-48bd-8c14-eab6b536f8a8_jpg.jpg)
Dari temuan fakta-fakta tersebut bisa disebutkan bahwa foto Bung Tomo pidato yang selama ini diidentikkan dengan peristiwa 10 November 1945 ternyata tidak benar. Foto pidato yang terjadi di luar Kota Surabaya tersebut entah bagaimana mulanya telah dijadikan ilustrasi sejarah tentang perlawanan arek-arek Surabaya di pertempuran 10 November 1945.
Panglima Soedirman
Salah satu foto ikonis dalam mempertahankan kemerdekaan adalah foto-foto Panglima Soedirman di berbagai lokasi. Yang paling menarik adalah foto Panglima Soedirman berada dalam tandu yang diangkat sejumlah orang dengan pengawalan prajurit bersenjata. Foto tersebut merupakan peristiwa ketika Soedirman tetap memimpin perang gerilya di saat kondisinya sakit parah sehingga harus ditandu.
Foto ikonis ini menjadi simbol sikap ksatria dan pantang menyerah dari seorang prajurit dalam membela Tanah Air. Strategi perang gerilya yang dipimpin Soedirman juga terbukti membuat pasukan Belanda saat itu kewalahan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/af141e91-f5d4-4dab-86e8-795de792269f_jpg.jpg)
Dalam satu tulisan, wartawan dan pendiri koran Merdeka, Rosihan Anwar, menuliskan kesaksian pada 7 Juli 1949, sehari setelah Sukarno-Hatta kembali ke Yogyakarta dari pembuangan di Bangka, ia bersama fotografer Frans Mendur dan Letkol Soeharto (kelak menjadi presiden), ditugaskan menjemput Panglima Soedirman di Desa Ponjong, Wonosari, Gunung Kidul.
Sesampai di sana mereka bertemu dengan Panglima Soedirman yang bersedia untuk kembali ke Yogyakarta dari lokasi gerilya. Langkah ini penting untuk menunjukkan tak adanya perbedaan politik antara Soedirman dan Sukarno-Hatta. Apa yang terjadi di Desa Ponjong tersebut semua direkam oleh kamera Frans Mendur.
Hingga akhirnya Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarata dan disambut Sukarno-Hatta. Ada gestur tak biasa saat Soedirman bertemu Sukarno-Hatta dan dipeluk pemimpin republik. Tak ada balasan tangan Soedirman yang juga memeluk saat ia dipeluk Sukarno ataupun Hatta. Sebuah gestur yang menunjukkan meskipun ia bersedia kembali tapi masih ada rasa kecewa Soedirman kepada dua pemimpin bangsa itu. Semua terekam dalam foto yang dipublikasikan IPPHOS.
Adanya foto-foto dari medan pertempuran dan saat perang gerilya menunjukan fotografer juga terjun langsung di garis depan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Hal itu bisa terjadi salah satunya karena saat itu Panglima Soedirman mengangkat sejumlah wartawan sebagai peliput perang dan kepada mereka disematkan pangkat setara kapten.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/7eed67da-913f-41a1-9bf9-be20884e3fe2_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/865c8453-605a-442b-a1a7-1aa2e1ab80a1_jpg.jpg)
Dari beberapa peristiwa ikonis di atas tersingkap cerita perjuangan sang juru foto yang turut bertaruh nyawa mengabadikan dan mengusahakan agar rekaman sejarah tersebut dapat terwartakan ke penjuru dunia. Selain itu, terdapat andil orang-orang lain di lingkaran fotografer yang juga berjasa menyelamatkan bukti sejarah tersebut.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase