Hinaan, ancaman, dan tekanan psikologis dialami warga Palestina di pos pemeriksaan Israel saat melewati penyeberangan Rafah.
05 Feb 2026 11:40 WIB · Internasional
AFP/BASHAR TALEB
Mengerikan…. Tiga perempuan yang pertama diizinkan memasuki Gaza mengalami hal buruk. Mereka mengaku mengalami pelecehan di pos pemeriksaan di pinggiran wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel. Pos ini wajib dilewati oleh warga yang kembali ke tanah kelahiran di Palestina setelah menyeberangi Rafah.
Ketiga perempuan tersebut termasuk di antara 12 warga Palestina, sebagian besar perempuan, anak-anak, dan warga lansia, yang memasuki Gaza pada Senin (2/2/2026) melalui Rafah.
Perbatasan Rafah dibuka kembali setelah ditutup selama invasi Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Pasukan Israel merebut pelintasan tersebut pada Mei 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/04/460a6b85-6709-4866-9288-c652d86119e4.jpg)
Sesuai aturan, warga Palestina yang ingin meninggalkan Gaza harus mendapatkan persetujuan keamanan Israel dan Mesir. Tentara Israel akan memeriksa dan menggeledah warga yang tiba dengan daftar yang disetujui oleh badan intelijen Israel.
Kedua belas warga yang kembali itu diangkut dengan bus melewati perbatasan, kemudian diantar hingga mencapai zona militer Israel. Rotana al-Regeb, salah satu warga yang kembali, saat itu pulang bersama ibunya, Huda Abu Abed.
Keduanya meninggalkan Gaza pada Maret tahun lalu agar sang ibu bisa memperoleh perawatan medis di luar negeri. Di pos pemeriksaan, mereka diperintahkan keluar dari bus oleh anggota kelompok bersenjata Palestina yang didukung Israel, Abu Shabab, lantas menggeledah tas dan tubuh mereka.
Kemudian, para petugas Israel memanggil mereka satu per satu ke sebuah ruangan. Ia mengatakan, ibunya dipanggil pertama. Ketika Rotana al-Regeb dipanggil, dia mengatakan menemukan ibunya, yang berusia 50 tahun, berlutut di lantai, matanya ditutup dan tangannya diborgol di belakang punggungnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/04/7e8e65a1-0d35-468e-90f2-44cd14f83b62.jpg)
Rotana al-Regeb mengatakan, tentara Israel melakukan hal yang sama kepadanya dan membawanya ke ruang interogasi. Mereka menanyainya tentang Hamas dan hal-hal lain di Gaza. ”Mereka menanyai hal-hal yang tidak kami ketahui dan tidak ada hubungannya dengan kami,” ujar Rotana al-Regeb.
Mereka juga menekannya untuk bertindak sebagai informan bagi militer Israel. ”Mereka mengancam akan menahan saya dan saya tidak akan kembali kepada anak-anak saya,” kata Al-Regeb, yang memiliki empat anak perempuan dan seorang anak laki-laki, di sebuah tenda di Khan Younis.
”Tidak ada pemukulan, tetapi ada penghinaan, ancaman, dan tekanan psikologis,” kata al-Regeb. Abu Abed, ibunya, membenarkan keterangan tersebut kepada Associated Press.
Pelintas ketiga, Sabah al-Qara, seorang perempuan berusia 57 tahun dari Khan Younis yang berangkat untuk perawatan medis di Mesir pada Desember 2023, memberikan keterangan serupa. Al-Qara menggambarkan dirinya diborgol, ditutup matanya, dan diinterogasi.
”Mereka menginterogasi kami dan menanyakan semua yang terjadi di Gaza. Kami berada di luar Gaza dan tidak tahu apa-apa,” tuturnya.
Saat pembukaan perbatasan Rafah, tim EUBAM (Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa) mengelola sisi Palestina dengan menyerahkan daftar nama orang-orang yang meninggalkan Gaza serta tujuan ke Mesir. Militer Israel kemudian akan memeriksa silang identitas orang-orang yang kembali ke Gaza dengan daftar Kementerian Pertahanan dan memeriksa barang bawaan mereka.
Menurut beberapa orang yang kembali ke Gaza pada Senin, pihak berwenang Israel melarang pengungsi membawa cairan apa pun, termasuk air minum. Setiap penumpang diizinkan membawa satu telepon seluler dan 2.000 shekel, setara dengan sekitar 650 dolar AS serta wajib menyerahkan surat izin 24 jam sebelum perjalanan mereka.
Cobaan yang dialami para perempuan itu terjadi setelah hari yang panjang dan melelahkan bagi para pengungsi yang kembali ke Gaza. Hari itu, jumlah warga Palestina yang masuk jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/04/bfcf7f39-689b-434c-a305-963ed6bfef1c.jpg)
Rotana al-Regeb mengatakan bahwa setelah mereka dibebaskan dari fasilitas pemeriksaan Israel, bus PBB membawa mereka ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Mereka akhirnya tiba pada pukul 1 dini hari hari Selasa. ”Syukur kepada Tuhan saya telah kembali dan menemukan orang-orang yang saya cintai,” kata Rotana al-Regeb.
Lebih dari 110.000 warga Palestina meninggalkan Gaza pada bulan-bulan pertama perang sebelum Rafah ditutup dan ribuan pasien dievakuasi ke luar negeri untuk perawatan. Diperkirakan, mereka akan berusaha untuk kembali.
Sejauh ini, sekitar 30.000 warga Palestina telah mendaftar di Kedutaan Besar Palestina di Mesir untuk kembali ke Gaza, menurut seorang pejabat kedutaan. Namun, penyeberangan itu hanya memberikan kesempatan simbolis untuk kembali. Israel hanya mengizinkan sekitar 50 warga Palestina setiap hari kembali ke Gaza.
Berita terbaru mengatakan, serangan tank dan udara Israel pada Rabu (4/2/2026) yang menewaskan 18 orang termasuk empat anak di Gaza membuat penyeberangan di Rafah dihentikan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra