Zona kemanusiaan yang ditetapkan Israel telah penuh sesak pengungsi.
13 Sep 2025 10:28 WIB · Internasional
Ribuan kertas selebaran dijatuhkan pesawat Israel yang berputar-putar di atas kota Gaza, Jumat (12/9/2025). Kertas itu menyebar dan terbawa angin hingga akhirnya jatuh ke tanah. Warga yang penasaran mengambil kertas berwarna-warni itu. Isinya adalah peringatan agar penduduk yang tinggal di lokasi itu diminta untuk segera pindah karena akan ada serangan militer berskala besar.
Peringatan dengan cara serupa telah beberapa kali dilakukan militer Israel di banyak tempat di Gaza. Sebagaimana diketahui, Israel merebut Jerusalem timur, Tepi Barat, dan Gaza dalam perang Timur Tengah 1967. Namun, Palestina berjuang mendapatkan kembali daerah itu sebagai rancangan sebuah negara di masa depan.
Minggu ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sekali lagi bersumpah hal itu tidak akan pernah terjadi. Ia bahkan meresmikan proyek permukiman besar baru yang akan membelah Tepi Barat menjadi dua.
Israel terus melancarkan serangan militernya, hampir setiap hari, di Tepi Barat, dengan alasan memerangi dan membasmi kelompok Hamas. Serangan ini makin intens dan luas sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang hampir dua tahun lalu.
Ribuan warga terpaksa mengungsi, pindah dan mencari tempat baru untuk mendirikan kemah di tempat yang juga telah penuh sesak. Sebagian besar penduduk yang melarikan diri dari serangan Israel ini juga dilanda kelaparan. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri jalanan yang membelah kota Gaza yang hancur menuju daerah al-Mawasi, di Jalur Selatan, yang masih menjadi zona kemanusiaan menurut Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/13/8e73441b-1ab4-4d33-bba4-697868162ffa_jpg.jpg)
Banyaknya kendaraan yang hancur di jalanan serta terbatasnya bahan bakar membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan mahal. Banyak warga menggunakan keledai sebagai penarik gerobak yang membawa barang-barang mereka. Setibanya di Mawasi, mereka tidak lagi bisa menemukan tempat mendirikan tenda kecil.
Beberapa warga yang kesulitan mendapatkan tempat nekat kembali ke kota Gaza. ”Kami akan kembali, di tempat ini tidak ada lagi tempat untuk mendirikan tenda,” kata Ahmed Abu Deya, sambil mendorong gerobak berisi barang-barang keluarganya. Ia berencana tinggal di tempat saudaranya di Sabra. Ahmed nekat kembali ke kota Gaza yang sedang dihancurkan Israel.
Sementara itu, militer Israel terus membombardir sisa-sisa bangunan tinggi di kota Gaza. Mereka berdalih bahwa bangunan-bangunan tinggi digunakan Hamas untuk bersembunyi. Meskipun Israel menyerukan agar penduduk pergi, Pemerintah Gaza yang dipimpin Hamas memperkirakan bahwa 1,3 juta dari total sekitar 2 juta penduduk Gaza masih tinggal di kota Gaza dan wilayah utara. (AP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul