Iran kekurangan fasilitas perlindungan yang memadai bagi warganya. Serangan Israel tak terduga dan seketika mengacaukan kehidupan mereka.
17 Jun 2025 16:00 WIB · Internasional
Situasi kian tidak aman di Iran. Memasuki hari kelima perang Iran dan Israel, ribuan warga mulai beringsut meninggalkan ibu kota Teheran untuk berlindung. Mereka mengungsi ke kota-kota lain di Iran. Bahkan, sampai ke negara tetangga, Turki.
Hati Shirin Talebi gelisah. Di titik perbatasan Gurbulak-Bazargan, dia menanti kedatangan anak dan cucunya dari Teheran. Talebi sudah duluan menyeberang dari kota Urmia menuju Turki, Senin (16/6/2025).
Iran berbagi perbatasan dengan Turki sepanjang 569 kilometer. Keluarga Talebi berencana untuk mencari perlindungan sementara di negara itu selama satu atau dua bulan. Beberapa keluarga lain sudah melakukan hal serupa semenjak Israel memulai serangan pada 13 Juni 2025.
”Saya di sini demi keselamatan. Mereka mengebom. Anak-anak saya juga punya anak kecil. Semoga saja ini berakhir dalam satu atau dua bulan sehingga kami bisa kembali ke negara kami,” kata Talebi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/bbe1c2c1-dcb7-433e-ab2a-5d9164d14244_jpg.jpg)
Turki mengizinkan warga Iran masuk tanpa visa untuk berwisata dan tinggal selama 90 hari. Belum ada angka resmi untuk kedatangan dari Iran. Menurut Kantor Komunikasi Kepresidenan Turki, ”tidak ada pergerakan yang tidak biasa, kemacetan, atau penyeberangan yang tidak teratur”.
Di Gurbulak, salah satu titik perbatasan tersibuk antara Turki dan Iran, sopir bus Ferit Aktas baru saja membawa sekelompok warga Iran dari Istanbul. Dia sedang menunggu untuk menjemput yang lain.
Sepuluh hari lalu, hanya tiga sampai lima warga Iran tiba untuk berbelanja atau berwisata di Turki. ”Sekarang sedikitnya ada 30 warga Iran di kendaraan saya per hari. Mereka merasa tidak aman sehingga terpaksa pergi,” ujar Ferit Aktas.
Ribuan warga lainnya telah menyebar ke kota-kota lain dalam negeri. Lebih banyak orang mengungsi setelah beberapa distrik di Teheran diterjang rudal Israel, Senin.
Mohammad (45) mengirim istri dan anak-anaknya dari Teheran ke kampung halamannya di Iran selatan. ”Saya tidak dapat pergi karena pekerjaan saya, tetapi saya ingin keluarga saya aman,” ucapnya.
Pada Senin, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada 330.000 orang di bagian tengah Teheran. Teheran merupakan lokasi kantor pusat televisi, polisi, serta tiga rumah sakit besar. Sebanyak 9,5 juta orang menghuni kota ini.
Rasa takut menerpa warga karena kurangnya fasilitas perlindungan yang memadai. Meski telah membangun beberapa ”kota” rudal bawah tanah, Iran tidak punya tempat perlindungan bom bagi publik.
Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan, masjid, sekolah, dan kereta bawah tanah dibuka sepanjang waktu sebagai tempat perlindungan selama serangan Israel.
Warga lainnya bingung harus mengungsi ke mana. ”Kami tidak punya tujuan. Ke mana kami harus pergi? Berapa lama kami harus menjauh dari rumah?” tutur Shahriyar (38), warga Teheran.
Gholamreza Mohammadi (48), pegawai pemerintah di Teheran, menceritakan, keluarganya kesulitan untuk menyewa tempat di luar Teheran. Kedua anaknya ketakutan sampai tidak bisa tidur setiap malam karena suara serangan, pertahanan udara, dan ledakan.
”Tidak ada sirene, tidak ada tempat berlindung. Kami bersembunyi di bawah meja makan,” kata Mohammadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/f3caceea-38be-4c39-b086-860875962de3_jpg.jpg)
Situasi juga memburuk. Harga makanan melonjak setiap hari. Mohammadi bahkan tidak bisa menarik uang tunai dari ATM atau bank. ”Saya putus asa,” ucapnya.
Warga lain melaporkan, bank-bank membatasi jumlah penarikan dana, yakni berkisar 32-160 dollar AS (sekitar Rp 521.000-Rp 2,6 juta). Aturan ini demi menjaga pasokan uang tunai.
Warga yang sudah mengungsi menekankan hal yang sama. Arshia (29), guru seni, menyampaikan, keluarganya pergi ke kota Damavand hingga konflik berakhir. Damavand terletak sekitar 50 km di timur Teheran.
”Orangtua saya takut. Setiap malam ada serangan, tidak ada sirene serangan udara dan tidak ada tempat berlindung,” tutur Arshia.
Jumlah korban tewas di Iran telah mencapai sedikitnya 224 orang yang mencakup 90 persen warga sipil. Di Israel, 24 warga sipil tewas akibat serangan rudal balasan Iran.
Pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa stok makanan dan obat-obatan cukup. Akan tetapi, kepanikan telah terjadi. Orang-orang menimbun makanan, air, obat-obatan, dan tabung gas untuk memasak.
Zeynab (67), pensiunan karyawan bank di Teheran, mengaku tidak lagi percaya pada pihak berwenang. Iran sebelumnya mengklaim Israel tidak akan berani menyerang. Kenyataan menyatakan sebaliknya.
”Saya punya anak dan cucu. Kami harus menimbun persediaan. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi dan kapan perang ini akan berakhir,” ujar Zeynab.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/16/f8282bb7-9610-45dd-beb2-880b1e47f741_jpg.jpg)
Ramin (48), pemilik apotek, kebanjiran pelanggan. ”Orang-orang menimbun obat-obatan, terutama orangtua yang khawatir persediaan penting mereka akan langka karena perang,” ucapnya.
Sebagian warga Iran juga memilih untuk terus memercayai langkah para pemimpin Iran. ”Kami tidak takut mati. Kami akan melawan Israel sampai napas terakhir kami dan selama hidup kami memungkinkan,” ujar Mejid Dehimi dari Urmia.
Sebagai tetangga Iran, Turki akan ikut terdampak perang Iran-Israel. Saat menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menawarkan diri menjadi ”fasilitator”. Erdogan ingin membantu mengakhiri perang sekaligus melanjutkan negosiasi nuklir AS-Iran yang tersendat.
”Israel yang menyerang Iran dengan dukungan tak terbatas dari Barat, menghancurkan Gaza, dan menindas setiap negara di kawasan itu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Mungkin Israel akan menyadari kesalahannya di masa depan, tetapi kami khawatir saat itu sudah terlambat,” tutur Erdogan.
(AP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar