SEPAK BOLA

”Charging Bull” di Wall Street AS dan Serudukan Kapitalisme Piala Dunia 2026

Harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi kontroversi karena harganya dianggap terlalu mahal. Banyak suporter yang kesulitan dengan biaya menonton pertandingan.

19 Jun 2026 08:03 WIB · Olahraga

Kompas/Prasetyo Eko Prihananto

Oleh Prasetyo Eko Prihananto dari New York, Amerika Serikat

Kilau perunggu patung ”Charging Bull” siang itu, Kamis (18/6/2026), memantulkan pemandangan yang tak biasa di sudut Bowling Green, Wall Street, New York, Amerika Serikat. Di bawah tatapan sang banteng, derap langkah terburu-buru para pialang saham berjas rapi kini terkadang harus berbagi trotoar dengan suporter berjersei warna-warni.

Patung Charging Bull pun banyak dikerumuni orang. Mereka mengantre untuk mendekati patung banteng tersebut. Kawasan itu menjadi jauh lebih ramai karena siang itu tengah dilakukan parade kemenangan New York Knicks yang diawali dari kawasan Bowling Green.

Antrean pun memanjang untuk berfoto dengan patung yang sangat terkenal sebagai simbol kapitalisme dan finansial paling populer di dunia itu. Ada yang meraba-raba tanduk, mengusap mukanya, bahkan memegang bagian (maaf) testis patung banteng itu, yang dianggap membawa tuah keberuntungan finansial.

Tak seberapa jauh dari patung tersebut, terdapat satu gedung yang menjadi pusat New York Stock Exchange (NYSE) atau Bursa Saham New York. Namun, selama sebulan ke depan, mereka tidak lagi hanya sibuk menghitung indeks saham. Atmosfer distrik finansial paling kapitalis di dunia ini juga diwarnai gairah suporter yang menyambut Piala Dunia 2026.

Bagi para pelaku bisnis ritel dan kuliner di penjuru kota New York, kehadiran ribuan suporter adalah angin segar yang langsung terasa di mesin kasir mereka. Kedai-kedai kopi legendaris dan restoran di sekitar Stone Street hingga Broadway atau di kawasan sekitar Times Square yang melegenda dipadati turis olahraga yang datang dengan selera makan besar.

Turis mengantre untuk berfoto dengan patung Charging Bull di kawasan Wall Street, New York, Kamis (18/6/2026).

Tidak hanya sektor kuliner, toko suvenir dan gerai ritel di sepanjang koridor juga berharap menikmati ”berkah pesta bola” ini. Syal, topi, hingga pernak-pernik khas New York diharapkan laku keras diburu sebagai kenang-kenangan.

Antusiasme yang meluap di jalanan New York saat ini seolah menghidupkan kembali roh awal dari sang banteng perunggu. Mengutip arsip artikel The New York Times pada Desember 1989, patung Charging Bull adalah karya seniman Arturo Di Modica yang awalnya diletakkan begitu saja secara ilegal di depan gedung NYSE.

Quote

Demi memaksimalkan keuntungan komersial, harga tiket pertandingan melambung tinggi ke angka yang nyaris tak masuk akal.

Di Modica dan beberapa temannya menaikkan banteng seberat 3,5 ton dengan panjang 4,6 meter tersebut ke atas truk, berkendara ke distrik finansial yang sudah sepi, dan meletakkannya tepat di garis kuning tengah Broad Street, di luar bursa efek, menghadap ke Wall Street.

Di Modica membuat patung tersebut sebagai respons terhadap krisis pasar saham hebat pada tahun 1987. Ia menyebutnya sebagai simbol ”kekuatan dan daya juang rakyat Amerika”.

Lebih dari itu, ia menyampaikan bahwa patung ini merepresentasikan semangat pantang menyerah (can-do spirit) milik Amerika dan New York—sebuah filosofi bahwa siapa saja bisa menjadi sukses melalui kerja keras dan tekad yang kuat.

Gedung New York Stock Exchange di Wall Street, New York, Kamis (18/6/2026).

Simbol ekonomi

Dalam dunia keuangan sendiri, istilah bull (banteng) digunakan untuk menggambarkan kondisi pasar saham yang sedang naik, bergairah, dan menguat. Banteng yang agresif dan siap menyeruduk melambangkan keyakinan bahwa ekonomi akan terus bergerak maju dan naik.

Sebaliknya, istilah bear (beruang) dipakai untuk menggambarkan kondisi pasar yang tengah lesu dan turun, filosofi yang diambil dari gerakan cakar beruang yang mengarah ke bawah saat menyerang.

Awalnya, patung banteng tersebut sempat digusur karena dianggap ilegal dan mengganggu lalu lintas. Namun, karena warga justru mendesak agar patung itu dikembalikan, Charging Bull akhirnya mendapatkan tempat permanen di Bowling Green dan bertransformasi menjadi simbol distrik finansial yang paling ikonik di dunia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kesucian makna can-do spirit tersebut perlahan bergeser. Alih-alih simbol kerja keras, sang banteng kini kerap dipandang sebagai representasi dari keserakahan (greed) korporasi kapitalis.

Tak heran jika patung ini berulang kali menjadi sasaran aksi protes, salah satunya, pada April 2025, ketika sejumlah aktivis lingkungan menyemprot banteng tersebut dengan cat bertuliskan ”Greed=Death”.

Keserakahan

Ironisnya, sentimen ”keserakahan” yang melekat pada pergeseran makna patung banteng itu justru terasa sangat nyata dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kali ini. FIFA memburu rekor baru dalam catatan keuangan mereka melalui Piala Dunia 2026. FIFA menargetkan bisa meraih pundi-pundi keuntungan 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 230,6 triliun.

Infografik Sistem Pemerintahan Tuan Rumah dan Juara Piala Dunia
(1930-2026)

Jumlah itu meningkat 2 miliar dolar AS dari target awal yang disampaikan Presiden FIFA Gianni Infantino menjelang penutupan Piala Dunia 2022 di Qatar, November 2022. Adapun pendapatan FIFA dari Piala Dunia 2022 sekitar 7 miliar dolar AS.

Demi memaksimalkan keuntungan komersial, harga tiket pertandingan melambung tinggi ke angka yang nyaris tak masuk akal, mengikis mimpi banyak suporter yang ingin mendukung langsung tim kesayangan ke stadion.

Tiket kategori 1 untuk penyisihan grup berkisar dari 450 dolar AS hingga 990 dolar AS. Pada 2022, tiket kategori yang sama hanya 220 dolar AS. Untuk tiket kategori 1 perempat final, harganya setidaknya mencapai 1.360 dolar AS, melonjak dari 425 dolar pada 2022.

Tiket-tiket untuk sejumlah pertandingan yang dinilai kurang menarik memang turun di pasar sekunder, tetapi untuk laga besar harganya tetap selangit. Misalnya, pertandingan Portugal melawan Kolombia di Miami, 27 Juni mendatang, harga tiketnya mencapai 2.700 dolar AS.

Kondisi ini diperparah dengan situasi di lapangan di mana para suporter juga seolah diperas oleh lonjakan tarif transportasi umum setempat dan harga penginapan yang melonjak saat hari pertandingan.

Simulasi biaya yang harus dikeluarkan suporter sepak bola asal Indonesia untuk menyaksikan laga-laga Piala Dunia 2026 langsung di Amerika Serikat.

Sebagai contoh, suporter yang timnya berlaga di Stadion New York New Jersey (Stadion MetLife) harus merogoh kocek dalam-dalam karena diwajibkan membayar tiket angkutan umum seharga 98 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta) untuk perjalanan singkat berjarak 13 kilometer.

Angka itu pun baru diturunkan setelah muncul gelombang protes keras dari publik setelah sebelumnya bertarif fantastis, 150 dolar AS.

Piala Dunia kali ini mungkin berhasil membawa perputaran uang yang masif bagi New York, persis seperti visualisasi bull market yang agresif. Namun, bagi para pencinta sepak bola sejati, turnamen ini menyisakan ironi pahit. Olahraga itu telah sepenuhnya tunduk pada serudukan kapitalisme yang tak kenal ampun.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto dari New York, Amerika Serikat
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan