Pesepak bola kini lebih tinggi, ramping, dan cepat demi menyesuaikan perubahan zaman. Namun, tubuh mereka kian rapuh karena terus dituntut bekerja melampaui batas.
18 Jun 2026 17:43 WIB · Olahraga
AP Photo/Ashley Landis
Tuntutan taktik modern dan dukungan sains olahraga telah mengubah anatomi pesepak bola menjadi ”manusia super”. Mereka lebih tinggi, ramping, serta cepat demi memenangi pertempuran intensitas tinggi di rumput hijau.
Namun, di balik keajaiban evolusi yang memungkinkan karier lebih panjang tersebut, tubuh para gladiator lapangan itu justru rentan rapuh. Mereka diduga dituntut bekerja melampaui batas dalam kalender kompetisi yang tidak manusiawi.
Dunia berputar lebih cepat di kaki pesepak bola. Jika memutar mesin waktu untuk kembali ke final Piala Dunia 1970, gol tendangan keras bek kanan Brasil, Carlos Alberto, sangat mengesankan. Gol itu dianggap sebagai salah satu momen terbaik dalam sejarah Piala Dunia.
Saat itu, gol diawali permainan aliran bola kolektif yang melibatkan delapan pemain Brasil. Hanya dalam durasi 30 detik, bola bersarang di jala gawang Italia. Prosesnya berjalan indah, ritmis, dan elegan.
Akan tetapi, romansa masa lalu itu runtuh di Stadion Lusail, Qatar saat final Piala Dunia 2022. Skema serangan balik kolektif nyaris serupa diperagakan Argentina.
Melalui tujuh operan presisi, gelandang Angel Di Maria menuntaskan kerja sama apik itu dengan sontekan bola yang menghujam gawang Perancis. Bedanya, proses magis itu hanya butuh waktu 12 detik.
Kecepatan ekstrem itu yang menjadi sekat tebal antara sepak bola masa lalu dan industri sepak bola modern.
”Gol Brasil tahun 1970 itu tidak akan pernah terjadi di zaman sekarang. Jika tim Brasil 1970 melakukan perjalanan waktu ke masa kini, permainan mereka akan langsung diredam. Kesenjangan terbesar mereka bukan pada talenta, melainkan fisiologi,” ujar Orlando Laitano, pakar fisiologi olahraga dari University of Florida, Amerika Serikat dilansir BBC, Kamis (18/6/2026).
Manusia-manusia yang berlari di lapangan hijau hari ini adalah produk dari evolusi biologi yang masif. ”Sepak bola modern telah bermutasi menjadi pertempuran spartan demi merebut setiap jengkal ruang. Konsekuensinya, tubuh para pemain dituntut menjadi lebih cepat dan lebih kuat,” kata Laitano.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/22/786ce041-c6a2-469f-bf1a-f3dd04af32ce.jpeg)
Apa yang disebutkan Laitano terbukti dalam riset jangka panjang Wolverhampton University, Inggris. Mereka telah membedah data ribuan pemain dari kasta tertinggi sepak bola Inggris sepanjang 1970-an hingga 2020-an.
Hasilnya, rata-rata tinggi badan pemain melonjak lebih dari 4 sentimeter dalam kurun waktu 1973 hingga 2013. Tren perubahan fisik itu terus berlanjut, terutama untuk penjaga gawang dan bek yang dituntut dominan dalam duel udara.
Tidak hanya bertambah tinggi, para peneliti mencatat bentuk tubuh pesepak bola kini semakin ”ektomorfik”, yakni lebih ramping, berkerangka ringan, dan berkaki jenjang.
Indikator itu terlihat dari lonjakan skor Reciprocal Ponderal Index (RPI), metrik antropometri yang digunakan untuk mengukur tingkat kelangsingan tubuh seseorang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/04841e9f5a8f2b24a13044ba3a2594ab-1000242748.jpg)
Salah satu penulis riset tersebut, Alan Nevill menjelaskan, perubahan kualitas lapangan yang menjadi lebih baik turut mengubah cetak biru tubuh pemain. Pada 1970-an, lapangan saat musim dingin di Eropa sangat berlumpur dan berat. Hal itu memaksa pemain harus lebih berotot untuk beradaptasi.
”Namun, sekarang, lapangan modern jauh lebih mulus dan sempurna. Itu yang memunculkan pemain dengan tubuh lebih ringan dan ramping. Mereka mampu memproduksi energi kinetik yang konstan dalam durasi jauh lebih lama,” tutur Nevill, pakar biostatistik pada ilmu kesehatan, olahraga, dan pelatihan di Wolverhampton University.
Para ahli menyebutkan, energi besar yang dimiliki pemain modern sebagian besar dihabiskan untuk kecepatan. Hal itu sesuai dengan sejumlah hasil studi yang menunjukkan, pada dekade 1970-an dan 1980-an sangat jarang ada pemain yang mampu menembus batas kecepatan 30 kilometer per jam.
Namun, di Piala Dunia 2022, setidaknya ada 10 pemain yang berlari dengan kecepatan lebih dari 35 km per jam.
Bukan sekadar berlari kencang, esensi utama sepak bola hari ini adalah kemampuan mengulang sprint sesering mungkin. Merujuk data UEFA pada Piala Eropa 2024, seorang pemain rata-rata melakukan sprint di atas kecepatan 25 km per jam sebanyak 12 kali per pertandingan.
Tuntutan tinggi berada di pundak bek sayap yang rata-rata melakukan 14 kali ledakan sprint per laga.
”Sepak bola masa lalu mengizinkan seorang penyerang berjalan santai nyaris sepanjang pertandingan. Lalu, mereka meledak dalam satu-dua aksi untuk mencetak gol. Gaya bermain seperti itu sudah punah. Sebab, saat ini, pemain dituntut memiliki kemampuan pulih secepat mungkin agar bisa terus berlari cepat,” ujar Jens Bangsbo, Profesor Fisiologi Olahraga di University of Copenhagen, Denmark.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/d933a7dcdde0e93105acebc72ca95b69-pink_shoes_mbappe.jpeg)
Akselerasi permainan yang brutal turut dipicu tren taktik high pressing yang dipopulerkan para pelatih modern. Pemain dipaksa langsung merebut bola di area pertahanan lawan begitu kehilangan penguasaan.
Ironinya, walau intensitas permainan meningkat drastis, total jarak tempuh pemain cenderung menurun dari rata-rata 11,4 km pada era 1990-an menjadi 10,6 km pada Piala Dunia 2022. Itu membuktikan, sepak bola tidak lagi meminta pemain berlari jauh, melainkan berlari dengan ledakan instan yang menguras fisik.
Seiring dengan kemampuan biologis yang semakin tinggi, pesepak bola modern pun dituntut menjalani kalender kompetisi yang dinilai tidak manusiawi. Hasil studi menunjukkan, rata-rata jumlah pertandingan yang dimainkan oleh sebagian besar klub di dunia sekitar 42 laga semusim.
Beban itu menjadi jauh lebih berat bagi para pemain elite. Sebagai contoh, bek Liverpool dan timnas Belanda, Virgil van Dijk, harus bermain 65 kali sepanjang musim ini.
Asosiasi Pesepak Bola Profesional Internasional menyatakan, tuntutan terhadap pemain tidak pernah seberat ini pada masa-masa sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/4e49e894217ed923c90a7ad2a11128e8-wires_photo_2026_06_15T063719.536.jpg)
Situasi itu menimbulkan kekhawatiran karena risiko cedera semakin besar. Hasil studi yang dirilis UEFA pada 2023 mengonfirmasi adanya tren peningkatan cedera otot paha belakang (hamstring) yang mengkhawatirkan delapan musim terakhir.
Mayoritas cedera itu terjadi saat pemain melakukan akselerasi atau sprint. ”Pemain modern dipaksa bekerja pada batas absolut kemampuan biologis mereka. Tanpa waktu pemulihan yang memadai, tubuh mereka akan tumbang,” kata Laitano memperingatkan.
Di tengah bayang-bayang risiko cedera akibat kelelahan ekstrem, sains olahraga memunculkan paradoks. Berkat revolusi nutrisi, analisis biomekanika, penanganan medis preventif, hingga ruang krioterapi, pesepak bola mampu menjaga eksistensi mereka di level tertinggi hingga usia telah melewati senja.
Megabintang sekaligus kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, misalnya. Dia tetap merumput di usia 41 tahun dengan fisik yang liat, termasuk dalam gelaran Piala Dunia 2026. Tren penuaan sehat (healthy aging) seperti itu tecermin pula dalam statistik global.
Akhir-akhir ini, Piala Dunia menjelma sebagai panggung bagi para pemain veteran. Berdasarkan data yang disusun ilmuan data dan ekonom dari University of Oslo, Norwegia, Joshua C Fjetsul, hanya ada tujuh pemain berusia 35 tahun ke atas yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 1990. Jumlah itu melonjak menjadi 41 pemain pada Piala Dunia 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/22bd1dd9faccc4c0447d3c99b716bdd7-pink_shoes_cr.jpeg)
Pada Piala Dunia 2026, FIFA mencatat ada 72 pemain yang telah menembus usia di atas 35 tahun, termasuk delapan pemain telah melewati kepala empat, seperti penjaga gawang Skotlandia Craig Gordon (43) dan Ronaldo.
Delapan pemain berusia 40 tahun ke atas yang berpartisipasi kali ini lebih banyak daripada gabungan seluruh pemain berkepala empat yang bermain di edisi-edisi sebelumnya.
Salah satu pemain berusia 40 tahun di Piala Dunia 2026, Luka Modric, secara tersirat mengungkapkan, para pemain hari ini harus mampu beradaptasi secara ekstrem demi bertahan di level tertinggi dalam jangka panjang. Salah satu adaptasi utama adalah menjaga pola hidup dan latihan secara disiplin.
”Rahasia karier saya adalah mencintai, memikirkan, dan hidup untuk sepak bola. Kita harus terus memiliki gairah terhadap sepak bola. Tetapi, tidak kalah penting, kita harus menjaga diet dan latihan. Anda butuh semangat untuk tetap berada di puncak dalam waktu lama. Kebahagiaan saya berlatih saat ini masih sama seperti saat saya masih anak-anak,” tutur kapten timnas Kroasia itu kepada Diario AS.
Tuntutan taktik dan sains olahraga memang berhasil menciptakan ”pesepak bola super” yang mampu melawan waktu. Namun, terkadang, semua itu harus dibayar mahal karena tubuh terus dipaksa melampaui batas rapuhnya. Pada akhirnya, lapangan hijau tidak lagi menjadi panggung seniman olah bola, melainkan arena saling uji hasil rekayasa laboratorium yang melelahkan.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase