Di tengah problem rendahnya jumlah penonton, Piala Dunia Antarklub menyajikan final ideal. Laga Chelsea kontra PSG jadi penutup musim yang layak dinanti.
10 Jul 2025 15:58 WIB · Olahraga
NEW JERSEY, KAMIS — Menyimpan yang terbaik untuk dinikmati paling terakhir. Frase tersebut sangat cocok menggambarkan final Piala Dunia Antarklub yang mempertemukan Paris Saint-Germain dan Chelsea di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Senin (14/7/2025) dini hari WIB. Laga final menjanjikan pertarungan menarik antara dua klub dan susunan pemain dan gaya bermain identik.
PSG memastikan tempat di final setelah membekap raksasa Spanyol, Real Madrid, 4-0, di Stadion Metlife, New Jersey, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025) dini hari WIB. Keberhasilan melaju ke final mendekatkan PSG dengan kesempurnaan seusai berhasil mengamankan tiga gelar mayor musim ini.
Jika kembali berjaya di final Piala Dunia Antarklub, PSG mengukir tinta emas dalam sejarah klub dengan memenangi empat trofi bergengsi dalam satu musim.
Masalahnya, PSG barangkali tidak akan bisa menang secara mudah seperti saat melawan Real di semifinal. Chelsea yang jadi lawan PSG di final nanti mengusung pendekatan nyaris serupa. Kedua tim memang punya beberapa kesamaan mulai dari usia skuad yang tergolong muda hingga cara bermain agresif.
Berdasarkan data FIFA pada laga putaran pertama penyisihan grup Piala Dunia Antarklub, Chelsea masuk tim termuda yang menurunkan pemain mula dengan rerata usia 24,6 tahun. Postur skuad Chelsea mirip dengan PSG yang tercatat menurunkan pemain mula dengan rerata usia 24,9 tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/09/27121c44-8f12-4c04-97da-8de63c11a0c1_jpg.jpg)
Gaya bermain kedua tim pun tergolong mirip. PSG di bawah arahan Luis Enrique bertransformasi menjadi tim yang penuh determinasi, agresif, dan piawai dalam menekan lawan. Dua gol awal PSG ke gawang Real yang dicetak Ousmane Dembele dan Fabian Ruiz tercipta berkat kegigihan mereka mengejar bola.
Sebagaimana PSG, Chelsea juga punya ciri khas serupa di Piala Dunia Antarklub. Manajer Enzo Maresca menjadikan ”Si Biru” identik dengan gaya bermain menekan tinggi, transisi cepat, dan berbasis penguasaan bola dengan fokus pada pengendalian tempo permainan.
Gaya bermain seperti itu, diakui Maresca, sedikit terinspirasi oleh kejayaan PSG yang menjuarai Liga Champions Eropa dengan membantai Inter Milan lima gol tanpa balas pada laga final.
”Final Liga Champions menggambarkan dominasi sebuah tim muda, kapabel memainkan skema teknis yang bagus dalam kecepatan yang sangat tinggi, penuh energi, terus berlari, menekan, berisi talenta menyerang. Luis Enrique sudah membangun PSG yang spektakuler. Dengan cara saya sendiri, saya coba melakukan hal yang sama di Chelsea,” kata Maresca, dikutip dari Corriere della Sera.
Secara kebetulan, perjalanan PSG dan Chelsea ke final pun sangat mirip. Kedua tim sama-sama mengemas kemenangan pada laga perdana. Namun, mereka pada akhirnya menelan kekalahan pada laga kedua. PSG secara mengejutkan takluk dari Botafogo, sementara Chelsea tidak kuasa menjinakkan Flamengo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/d0c4ccd84644221c32718b9b91b42a1f-wires_photo_5_.jpg)
Kekalahan itu pada akhirnya sebatas menjadi setitik noda dalam perjalanan gemilang PSG dan Chelsea menuju laga puncak. Segera setelah kalah, PSG dan Chelsea tampil konsisten dengan terus memetik kemenangan hingga semifinal.
Meski punya banyak kesamaan, PSG tetap difavoritkan keluar sebagai juara. Salah satu pertimbangannya adalah pertahanan solid mereka sepanjang turnamen. Sejauh ini, PSG menjadi satu-satunya tim yang hanya sekali kebobolan.
Di sisi lain, Chelsea masih berupaya mencari bentuk pertahanan terbaik mengingat sudah kebobolan lima gol hingga semifinal. Walakin, Chelsea dengan kekuatan pemain muda, yang punya hasrat menekan tanpa henti akan memberikan perlawanan telak bagi PSG. ”Les Parisiens” pun akhirnya mendapatkan lawan sepadan.
Gaya permainan menekan tanpa kenal lelah serta disiplin dalam mengawal lini pertahanan turut menjadi kunci pertahanan solid PSG. Saking mendominasinya, para pemain PSG yang dimotori Ousmane Dembele, Fabian Ruiz, dan Vitinha bahkan nyaris tidak memberi peluang bagi Real untuk mengembangkan permainan.
Sepanjang laga, Real hanya mampu melepaskan 11 tembakan dengan hanya dua yang mengarah tepat ke gawang. Jumlah itu amat kontras dengan PSG yang melepaskan tujuh tembakan ke gawang dari total 17 tendangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/eeca4b8005ec068605c65700e93818c8-APTOPIX_CWC_PSG_Real_Madrid_Soccer.jpeg)
”Saya pikir kedua tim melakukannya dengan hebat. Kami berada di momen spesial, di musim spesial dan saya pikir kami pantas menang. Satu langkah lagi melawan tim yang bagus, melawan Chelsea. Kami ingin membuat sejarah bagi klub,” ujar Enrique dikutip dari TNT Sports.
Mantan gelandang Tottenham Hotspur, Andros Townsend, mengutarakan satu kalimat menarik untuk menggambarkan PSG di bawah arahan Enrique musim ini. Menurut dia, Enrique telah menciptakan satu monster yang sulit dihentikan tim mana pun.
Penggambaran Townsend terhadap kualitas PSG tidak berlebihan mengingat PSG selalu bisa menang telak menghadapi tim besar di momen krusial seperti saat mengalahkan Inter, 5-0, di final Liga Champions. Real pun pada akhirnya tidak luput dari keganasan PSG.
Siapa pun yang menjadi pemenang pada laga final nanti, Chelsea dan PSG, sudah bisa tersenyum lebar. Pasalnya, tim finalis setidaknya akan mengantongi pendapatan sebesar 30 juta dollar AS (sekitar Rp 486 miliar). Di samping itu, sukses melaju ke final bukanlah capaian remeh untuk sebuah turnamen yang skalanya telah diperluas.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase