PSG Permalukan Real Madrid, Petaka Keputusan Aneh Xabi Alonso

Xabi Alonso menurunkan pilihan pemain yang aneh saat Real Madrid takluk 0-4 dari PSG. Real dipermainkan habis-habisan tanpa sempat bisa melawan.

10 Jul 2025 05:55 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

NEW JERSEY, KAMIS — Real Madrid menatap semifinal Piala Dunia Antarklub dengan amat linglung. Sudah terlambat tiba di New Jersey sehari sebelumnya akibat penerbangan tertunda, ”Los Blancos” pun tampil kurang meyakinkan sehingga kalah telak 0-4 dari Paris Saint-Germain di Stadion Metlife, New Jersey, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025) dini hari WIB.

Kekalahan itu turut dipengaruhi keputusan aneh Pelatih Xabi Alonso dalam memilih susunan pemain mula.

Penundaan penerbangan selama satu jam akibat cuaca buruk seakan memberi pertanda buruk bagi Real jelang semifinal. Selama Piala Dunia Antarklub, Real bermarkas di Florida sehingga manajemen memutuskan kembali ke sana alih-alih tetap tinggal di New Jersey seusai mengalahkan Borussia Dortmund pada perempat final.

Meski hanya satu jam, penundaan penerbangan berimplikasi cukup banyak dengan batalnya rangkaian kegiatan konferensi pers Real sehari sebelum menghadapi PSG.

Kesialan Real rupanya masih berlanjut setelah itu. Laga semifinal yang diprediksi berlangsung sengit ternyata berakhir antiklimaks.

Gelandang Paris Saint-Germain, Fabian Ruiz (kedua dari kiri), mencetak gol pertama saat PSG mempermalukan Real Madrid 4-0 pada semifinal Piala Dunia Antarklub di East Rutherford, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025) dini hari WIB. PSG bertemu Chelsea di final.

Jangankan memberi perlawanan, merebut bola dari para pemain PSG saja Real kesulitan setengah mati. Sepanjang laga, Real hanya mencatatkan 32 persen penguasaan bola dan 255 umpan akurat. Jumlah itu kalah jauh dari PSG yang mendominasi dengan 68 persen penguasaan bola dan 631 umpan akurat.

Saking linglungnya, duet bek tengah Real, yaitu Raul Asencio dan Antonio Ruediger, melakukan blunder fatal pada saat laga belum berjalan 10 menit. Kontrol bola yang sangat buruk dari Asencio memudahkan penyerang lincah PSG, Ousmane Dembele, merebut bola dan berujung gol Fabian Ruiz.

Tiga menit kemudian, giliran Ruediger yang lengah sehingga Dembele kembali memanfaatkannya untuk mencetak gol sekaligus menggandakan keunggulan PSG.

”Awal pertandingan sangat berdampak besar bagi kami. Semuanya menjadi sangat sulit bagi kami sejak menit ke-10. Dengan tertinggal dua gol secepat itu, kami tahu laga ini akan berjalan sangat berat,” kata Alonso dalam wawancara dengan DAZN seusai laga.

Menduetkan Asencio dan Ruediger barangkali adalah keputusan teraneh yang dibuat Alonso. Mantan pelatih Bayer Leverkusen itu kembali memainkan formasi empat bek dalam skema 4-3-3. Padahal, ia sempat menerapkan formasi tiga bek, seperti saat masih menangani Leverkusen, pada laga sebelumnya.

APTOPIX CWC PSG Real Madrid Soccer

Dalam formasi tiga bek, Aurelien Tchouameni yang berperan sebagai gelandang jangkar bermain lebih mundur sebagai bek tengah dengan diapit oleh Ruediger dan Dean Huijsen. Absennya Trent Alexander-Arnold yang cedera dan Huijsen akibat terkena kartu merah di laga sebelumnya sangat mungkin melatari keputusan Alonso kembali ke formasi empat bek.

Melawan PSG dengan empat bek bukan ide yang bagus. Ini artinya hanya dua bek yang akan berjibaku melawan penyerang-penyerang berkaki cepat PSG semacam Dembele dan Khvicha Kvaratskhelia dalam situasi transisi.

Kelemahan tersebut tampak pada gol ketiga PSG yang kembali disumbangkan oleh Ruiz. Dalam transisi cepat PSG, dua bek Real gagal menutup pergerakan Achraf Hakimi sehingga menimbulkan kekacauan yang berujung gol.

Di samping pilihan pemain yang janggal, Asencio dan Ruediger juga tampil di bawah performa rata-rata dengan tidak menjaga fokus meski laga baru dimulai.

”Dari sudut pandang saya di lapangan, saya melihat kami sering terlambat. Kami kehilangan posisi dan mereka cepat. Kami tidak pernah cukup dekat dengan mereka dan ketika mereka mendapatkan ruang, semuanya jadi sulit,” ujar kiper Real, Thibaut Courtois.

Para pemain Real Madrid tertunduk keluar lapangan setelah dipermalukan Paris Saint-Germain, 0-4, pada semifinal Piala Dunia Antarklub di East Rutherford, Amerika Serikat, Kamis (10/7/2025) dini hari WIB.

Terkesan serakah

Selain pilihan pemain yang aneh di lini belakang, Alonso juga mengambil keputusan yang tidak biasa di pos penyerang. Pada laga-laga sebelumnya ia tidak memaksa memainkan Vinicius Junior, Kylian Mbappe, dan Gonzalo Garcia bersamaan. Kali ini Alonso terkesan serakah dengan memainkan mereka bertiga sekaligus sejak menit awal.

Garcia yang biasanya berperan sebagai penyerang tengah tampil sangat kikuk dalam tugas barunya di sayap kanan. Mbappe pun tidak bisa berbuat banyak sebagai penyerang tengah akibat langsung ditekan saat menguasai bola. Adapun Vinicius mati kutu di sayap kiri dengan hanya mencatatkan satu tembakan.

”Apakah saya salah dengan memainkan begitu banyak penyerang hari ini? Tanpa ragu. Ini bukan seperti yang kami harapkan,” ujar Alonso saat disinggung mengenai keputusan anehnya.

JUAN MABROMATA

Di saat lini serang Real tumpul, PSG bisa dengan leluasa mempermainkan Real. Seakan tidak cukup sudah unggul tiga gol, PSG kembali memperbesar keunggulan berkat gol Goncalo Ramos tiga menit jelang pertandingan usai. Gol Ramos menampar kewibawaan Real lantaran para pemain PSG bisa dengan mudahnya mengacak-acak pertahanan mereka.

”Selalu sulit memainkan pertandingan seperti ini melawan Real Madrid. Saya rasa kami memulai pertandingan dengan sangat baik dan kami puas dengan penampilan kami,” kata Pelatih PSG Luis Enrique dikutip dari Al Jazeera.

PSG berpeluang besar meraih gelar keempat musim ini dengan melaju ke final. Di final, PSG sudah dinanti Chelsea yang pada laga semifinal lainnya mengalahkan Fluminense.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan