Dari pertemuan Quad, terbaca sinyal arah kebijakan luar negeri pemerintahan Trump jilid II yang menempatkan isu China dan Indo-Pasifik sebagai salah satu prioritas.
22 Jan 2025 12:25 WIB · Internasional
WASHINGTON, RABU — Menteri Luar Negeri Marco Rubio menjalani debutnya sebagai ujung tombak diplomasi Amerika Serikat dengan menggelar pertemuan dengan koleganya, para menlu negara-negara anggota Quad di Washington DC, AS, Selasa (21/1/2025). Pertemuan ini memberi sinyal arah kebijakan luar negeri pemerintahan jilid II AS di bawah Presiden Donald Trump yang menempatkan isu China dan Indo-Pasifik sebagai salah satu prioritas utamanya.
Quad adalah kelompok minilateral beranggotakan empat negara (AS, Australia, India, dan Jepang). Dibentuk pada 2007 guna menyatukan kerja sama merespons gempa dan tsunami di Samudra Hindia tahun 2004, Quad kerap dipandang sebagai perkumpulan untuk menangkis asertivitas dan agresivitas China di kawasan.
Selain diikuti Rubio, pertemuan Quad itu dihadiri tiga menlu lainnya, yakni Penny Wong (Australia), Subrahmanyam Jaishankar (India), dan Takeshi Iwaya (Jepang). ”Keempat negara kami mempertahankan keyakinan bahwa hukum internasional, peluang ekonomi, perdamaian, stabilitas, dan keamanan di segala bidang, termasuk wilayah maritim, menjadi landasan pembangunan dan kemakmuran warga Indo-Pasifik,” demikian pernyataan mereka.
”Kami juga menolak dengan keras langkah-langkah unilateral apa pun yang ingin mengubah status quo dengan kekuatan atau koersi,” lanjut mereka, merujuk secara jelas kepada China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/22/ca224046bc8b24cf2723a71663655500-US_POLITICS_DIPLOMACY_RUBIO_126929407.jpg)
Pertemuan para menlu Quad tersebut digelar hanya beberapa jam setelah Rubio diambil sumpahnya sebagai menlu. Dari pertemuan ini, terlihat bahwa kebijakan meredam China atau pelibatan AS di kawasan Indo-Pasifik terus menjadi prioritas Washington di bawah kepemimpinan Trump saat ini.
Sebelumnya, pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, kebijakan itu juga sudah menjadi salah satu prioritas AS.
Dalam pernyataan sebelum pertemuan Quad, Rubio mengatakan, dirinya akan menekankan pentingnya bekerja sama dengan negara-negara sekutu AS ”dalam hal-hal yang penting bagi Amerika dan rakyat Amerika” saat bertemu dengan tiga menlu negara Quad.
”Hal yang signifikan bahwa (pertemuan para menlu) Quad berlangsung hanya beberapa jam setelah pelantikan pemerintahan Trump,” tulis Jaishankar, Menlu India, di media sosial X seusai pertemuan. ”Ini menggarisbawahi prioritas kebijakan luar negeri negara-negara anggotanya.”
Keempat negara Quad dalam pernyataan mereka menegaskan kembali ”komitmen bersama untuk memperkuat kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, tempat penegakan hukum, nilai-nilai demokrasi, kedaulatan, integritas teritorial dijaga dan dipertahankan”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/22/e541585ab12c6852f04e088fc1513dd4-US_India_126933796.jpg)
Tak ada penjelasan lebih detail mengenai langkah terbaru Quad pasca-pelantikan Trump, selain pernyataan bersama sepanjang dua paragraf yang dirilis setelah pertemuan di kantor Departemen Luar Negeri AS itu. Keempat menlu tidak menjawab saat ditanya wartawan.
Keempat menlu juga menegaskan kembali komitmen mereka pada format pertemuan tingkat kepala negara. Mereka mengindikasikan, para pemimpin negara Quad akan menggelar pertemuan dalam beberapa bulan ke depan.
Pada masa pemerintahan Biden, Quad menggelar banyak pertemuan. Fokus mereka adalah aktivitas-aktivitas militer dan ekonomi China di kawasan Indo-Pasifik, khusus di Laut China Selatan. Quad juga menjalin kerja sama dalam keamanan siber guna menjaga rantai pasok dan infrastruktur penting, termasuk jaringan kabel bawah laut.
Bagi Australia, sasaran utama dari kunjungan Menlu Wong ke Washington adalah memastikan jaminan pemerintahan Trump terkait proyek pertahanan AUKUS. Didirikan tiga negara (Australia, AS, dan Inggris), AUKUS dibentuk pada era pemerintahan Biden. Salah satu proyeknya adalah memasok kapal selam-kapal selam bertenaga nuklir dan senjata-senjata canggih, termasuk rudal-rudal hipersonik, ke Australia.
Trump belum mengeluarkan pernyataan terkait AUKUS. Dalam konferensi pers di Washington, Menlu Wong mengungkapkan, dirinya menggelar ”pembicaraan yang sangat positif” dengan Rubio mengenai AUKUS. Pertemuan keduanya digelar secara bilateral di luar pertemuan Quad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/22/e26c5a969188a549ccc3957b0e7ba41c-US_Australia_126935713.jpg)
Seperti kecaman terhadap Quad, yang disebut sebagai konstruksi Perang Dingin, Beijing juga mengecam aliansi AUKUS karena akan mengintensifkan pacuan senjata di kawasan.
Dalam pertemuan dengan Rubio, Wong juga membahas isu mineral-mineral penting. ”Ada optimisme dan kepercayaan diri yang besar tentang peluang-peluang ke depan, dan saya benar-benar merasa istimewa mendapat kesempatan pelibatan pada level ini di awal pemerintahan baru (AS),” kata Wong.
Wong juga menggelar pertemuan bilateral secara terpisah dengan rekannya dari Jepang, Iwaya Takeshi, dan Subrahmanyam Jaishankar dari India.
Sejak berdiri pada 2007, Quad menekankan watak dan fokus diplomasi yang luas dalam isu-isu kawasan, termasuk infrastruktur, bantuan kemanusiaan, penanganan bencana, perubahan iklim, dan keamanan maritim. Kendati isu keamanan hanyalah bagian dari isu-isu mereka, Quad menjadi komponen utama strategi AS untuk menangkis asertivitas China yang terus meningkat.
Langkah-langkah China telah menjadi keprihatinan kawasan, antara lain, terkait klaim Beijing atas sebagian besar area perairan Laut China Selatan dan tindakan koersif terhadap Taiwan. China juga terlibat dalam sengketa teritorial di Laut China Timur dengan Jepang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/950e0415-e5bb-4213-895f-5134d4c12724_jpeg.jpg)
Gara-gara elemen strategis yang melekat pada Quad, China menuding perkumpulan empat negara Quad itu, seperti ”NATO ala Asia” meski ada perbedaan antara Quad dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam konstruksi organisasinya dan pakta pertahanan bersama. Berbeda dengan NATO, Quad tidak memiliki pakta pertahanan bersama.
Dalam sidang rapat dengar pendapat di Senat AS, Rubio dikenal sebagai sosok hawkish terhadap China. Ia telah dikenai sanksi oleh Pemerintah China terkait komentar-komentarnya mengenai catatan hak asasi manusia (HAM) China.
Dalam rapat pekan lalu, Rubio menyebut China ”negara lawan paling kuat, berbahaya, dan musuh hampir setara yang pernah dihadapi negara (AS)”.
Pada Selasa kemarin, Rubio juga berbicara kepada para diplomat AS di kantor Departemen Luar Negeri AS. Ia menyerukan kepada para diplomat AS untuk secara tegas membela dan melaksanakan kebijakan-kebijakan ”America First” yang dicanangkan Trump.
”Para pemilih telah menentukan arah negara kita, secara domestik dan luar negeri. Mereka telah memilih Donald J Trump sebagai presiden kita, di mana misi kebijakan luar negerinya sudah sangat jelas,” kata Rubio kepada para diplomat AS.
”Dan misi tersebut adalah memastikan kebijakan luar negeri kita terpusat pada satu hal, yaitu mendorong kepentingan nasional kita, yang telah disampaikan dengan jelas dalam kampanye-kampanye beliau yang membuat kita lebih kuat atau lebih aman atau lebih makmur. Itulah misi kita, tugas kita,” kata Rubio.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/22/fecb7ae20a046e4c7fd5b3db3e1e9926-Trump_Rubio_126922290.jpg)
Kedatangan Rubio di kantor Departemen Luar Negeri AS berlangsung di tengah gelombang pengunduran diri para diplomat karier AS—atas desakan tim Trump—dari jabatan-jabatan senior di Departemen Luar Negeri dan kedutaan-kedutaan besar AS di seluruh dunia.
Seberapa luas pengunduran diri para diplomat karier AS itu, hingga Selasa (21/1/2025), belum diketahui secara pasti. Sejak Jumat pekan lalu, sejumlah diplomat karier diminta mengundurkan diri dari posisi-posisi seperti wakil menteri dan direktur jenderal. Pada Senin (20/1/2025), desakan pengunduran diri diperluas pada diplomat-diplomat karier yang menjabat duta besar dan menjadi staf lebih rendah di kedutaan-kedutaan AS. (AP/REUTERS)
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari