Di Rencana Lima Tahunan periode 2026-2030, China akan meningkatkan angka harapan hidup menjadi 80 tahun. Sejumlah hal guna meningkatkan layanan kesehatan disiapkan.
07 Mar 2026 20:45 WIB · Internasional
KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI
BEIJING, KOMPAS — China berencana meningkatkan angka harapan hidup masyarakat menjadi 80 tahun pada 2030. Ini akan dicapai dengan reformasi sistem kesehatan, memperkuat layanan kesehatan akar rumput, serta menggalakkan pencegahan dan deteksi dini penyakit.
Hal tersebut disampaikan melalui konferensi pers mengenai kesejahteraan rakyat di Beijing, China, pada Sabtu (7/3/2026). Konferensi ini rangkaian dari Kongres Rakyat Nasional China (NPC). NPC berlangsung pada 5-12 Maret 2026.
Konferensi pers dihadiri oleh Direktur Komisi Kesehatan Nasional (NHC) China Lei Haichao, Menteri Pendidikan China Huai Jinpeng, Menteri Urusan Sipil China Lu Zhiyuan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata China Sun Yeli, serta Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China Wang Xiaoping.
Rencana meningkatkan angka harapan hidup ada di Rencana Lima Tahun ke-15 yang mencakup periode 2026-2030. Isi Rencana Lima Tahun—yang menentukan arah kebijakan China lima tahun ke depan—sedang dibahas dan ditinjau badan legislatif tertinggi China dalam NPC.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/07/ebc0f12a-8aee-4585-bb96-ba480ec56e05.jpeg)
Pada 2025, angka harapan hidup rata-rata masyarakat China adalah 79,25 tahun. Angka ini meningkat 1,32 tahun dibanding 2020. Menurut Lei, ini prestasi untuk negara berpenghasilan menengah dan tinggi.
Direktur NHC Lei Haichao mengatakan, mereka akan memperdalam reformasi sistem kesehatan. Reformasi serupa dilakukan di Kota Sanming, Provinsi Fujian dan dimulai pada 2012. Reformasi itu mencakup peningkatan efisiensi di rumah sakit umum dengan integrasi layanan medis, asuransi kesehatan, dan farmasi.
Untuk meningkatkan angka harapan hidup menjadi 80 tahun, NHC melakukan 177 proyek percontohan untuk reformasi dan pengembangan rumah sakit umum. Reformasi ini, antara lain, fokus pada peningkatan dan penguatan kualitas layanan dan manfaat sosial rumah sakit. Proyek itu hasil kerja sama NHC dengan Kementerian Keuangan China.
”Selanjutnya, proyek penguatan fondasi layanan medis dan kesehatan akan merencanakan pembangunan sekitar 1.000 konsorsium medis terpadu tingkat kabupaten,” ucap Lei. ”Kami akan dengan komprehensif mempromosikan pendirian pusat rujukan dan konsultasi di tingkat prefektur dan kota,” tambahnya.
Ia juga menyorot perlunya peningkatan kapasitas layanan kesehatan untuk 1,4 miliar penduduk China di kota dan desa. Masih ada sejumlah layanan yang dinilai belum cukup seimbang, seperti pediatri, kesehatan mental, praktik umum, dan pelayanan keperawatan rehabilitasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/07/3a42e51e-2dcd-49ac-91f6-78e14b4a7f51.jpg)
Teknologi akan dimanfaatkan untuk mengatasi tantangan itu. Pemerintah China berencana menggunakan telemedisin (layanan kesehatan jarak jauh), layanan medis keliling, dan layanan medis berbasis internet. Ini juga untuk meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan.
Sementara itu, layanan kesehatan akar rumput diperkuat dengan melibatkan dokter desa lulusan perguruan tinggi. Ada hampir 100.000 mahasiswa kedokteran yang dilatih untuk nanti bertugas di pusat kesehatan kecamatan. Dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya ada 10.000 lulusan perguruan tinggi yang bekerja di klinik desa dan memiliki posisi di pusat kesehatan kecamatan.
Penyakit menular juga menjadi sorotan karena memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat. Pencegahan dan pengendalian penyakit menular akan menjadi perhatian. Lei menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan dalam semua aspek, termasuk pemantauan, peringatan dini, penilaian risiko, pengujian dan deteksi, perawatan, serta upaya tanggap darurat.
”Kita harus memiliki lebih banyak vaksin dan metode pengujian dan deteksi yang lebih baik. Penguatan kapasitas sistem kesehatan masyarakat merupakan fokus utama upaya kita,” kata Lei.
Pada awal 2025, virus HMPV (human metapneumovirus) merebak di China. Virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran napas. Gejala yang ditimbulkan mirip flu, seperti pilek, batuk, dan sesak napas.
Virus ini tidak berbahaya bagi orang dewasa sehat, tapi risiko penularannya tinggi ke anak-anak, warga lansia, dan individu dengan imunitas lemah. Dalam kasus yang berat, virus HMPV dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia dan bronkitis (Kompas, 6/1/2025).
Sementara itu, untuk penyakit tidak menular, seperti kanker, masyarakat diimbau untuk melakukan deteksi dini secara berkala, terlebih mereka yang berisiko kanker. Orang yang berisiko kanker, antara lain, mereka yang berusia di atas 50 tahun, merokok atau pernah merokok, dan memiliki keluarga dengan riwayat kanker.
Semakin cepat kanker terdeteksi, penyakit dapat ditangani dengan lebih baik. Peluang sembuh pun cenderung lebih besar. Namun, sebagian masyarakat dengan kanker baru mendapat perawatan di stadium lanjut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/02/33d9f821-7029-47f7-a603-3fa008c5839c.jpg)
Selain itu, kesehatan mental turut menjadi perhatian pemerintah. Menurut Menteri Pendidikan China Huai Jinpeng, kebugaran fisik dan kesehatan mental siswa diintegrasikan di sekolah.
”Pada awal tahun lalu (2025), kami menguji coba ‘istirahat 15 menit antar kelas’ di 21 provinsi,” kata Huai. ”Setelah satu tahun eksplorasi dan promosi, reformasi ‘skala kecil’ ini, bersama dengan (inisiatif) ’2 jam pendidikan jasmani per hari’, telah sepenuhnya diterapkan di semua provinsi,” tambahnya.
Dengan waktu istirahat 15 menit dan pendidikan jasmani selama 2 jam, siswa diharapkan dapat lebih banyak bergerak dan melakukan aktivitas fisik. Inisiatif ini dilaporkan berhasil ”menurunkan tingkat miopia di kalangan siswa selama empat tahun berturut-turut”.
Pemerintah daerah diberi wewenang untuk mengembangkan kebijakan itu sesuai karakter daerah masing-masing. Provinsi Fujian, misalnya, memasukkan pembangunan, renovasi, dan perluasan lapangan sepak bola sekolah ke daftar proyek pemerintah provinsi.
Penulis:
Sekar Gandhawangi, dari Beijing, ChinaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase