Di balik aneka kengerian cerita tentang makhluk abadi terkutuk pengisap darah, Nosferatu, terdapat kisah cinta segitiga serta pengorbanan dari seorang istri setia.
08 Feb 2025 20:15 WIB · Hiburan
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/c5b643282f2a33088832f15f68c65baf-4193_D033_00258_R.jpg)
Kisah tentang setan pengisap darah semacam drakula memang tak lekang oleh waktu. Sejak Friedrich Wilhelm Murnau membesut film bisu Nosferatu: A Symphony of Horror (1922), film sejenis terus direproduksi.
Sutradara Robert Eggers menjadi orang terbaru di balik reinterpretasi film Murnau tersebut dalam Nosferatu (2024). Eggers sudah lama jatuh cinta dan bahkan pernah mengadaptasinya dalam format pementasan drama saat dia masih di bangku SMA.
Oleh sutradara, yang juga dikenal lewat beberapa karya, seperti The Witch (2015), The Lighthouse (2019), dan The Northman (2022), film adaptasinya kali ini diawali cerita sepasang pengantin baru di sebuah kota di Jerman di abad ke-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/b4699028dad8965364a2d7a8361d5693-4193_D039_00122_R.jpg)
Thomas Hutter (Nicholas Hoult), seorang agen real estat, baru saja menikahi Ellen (Lily-Rose Depp). Satu waktu Thomas mendapat tawaran proyek menggiurkan, yakni menjual sebuah kastel besar tak terurus di dekat tempatnya tinggal. Calon pembeli potensial kastel itu adalah seorang bangsawan Transylvania misterius namun berlimpah harta, Count Orlok (Bill Skarsgård). Harga bukan masalah bagi Orlok, yang dengan alasan tertentu ingin pindah dari tanah leluhurnya menuju daratan Eropa seperti Jerman.
Namun, untuk mengurus itu bos Thomas, Knock (Simon McBurney), memintanya menemui Orlok di negeri yang kini bernama Romania. Masalahnya, di masa itu perjalanan darat menuju kastel di negeri asing tadi memakan waktu enam pekan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/d5fee8ece1e02fd3736952c780822ac7-4193_D005_00041_R.jpg)
Tambah lagi kondisi medan yang sangat sulit akibat salju tebal dan cuaca dingin di musim dingin. Selain itu, ada ancaman lain seperti hewan buas yang membuat perjalanan menjadi sangat menantang.
Ellen sejak awal menentang tawaran pekerjaan itu walau Thomas berkilah mereka sangat membutuhkan upahnya. Dengan bayaran sangat besar seperti dijanjikan, uang itu akan bisa menjadi modal hidup keluarga mereka kelak. Menghadapi keteguhan hati suaminya, Ellen menyerah dan hanya minta Thomas rajin menulis surat sepanjang perjalanan. Oleh Thomas, Ellen dititipkan pada pasangan Friedrich dan Anna Harding (Aaron Taylor-Johnson dan Emma Corrin).
Thomas tak menyadari pekerjaan itu sebenarnya sebuah jebakan maut dari Orlok. Selain celaka karena menolak mendengarkan firasat sang istri, Thomas sebetulnya juga sudah mendapat peringatan dari warga satu desa tempat ia mampir saat dalam perjalanan menuju kastel Orlok.
Sosok misterius Orlok diceritakan sebagai makhluk terkutuk pembawa kematian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/58bab5313485964e04b5b470ec8268d5-NOSFERATU_FP_00130a_R.jpg)
Belakangan diketahui kesalahan tak sepenuhnya berasal dari ketamakan sekaligus keluguan Thomas. Jauh sebelum mengenal dan menikahi Thomas, Ellen yang lugu sebenarnya sudah ”mengenal” Orlok. Keduanya bahkan sempat mengikat sebuah ikrar terlarang walau hal itu ternyata tipu daya Orlok.
Hubungan terkutuk antara dua makhluk berbeda itu terjadi lantaran di satu masa ketika remaja Ellen yang dikurung di sebuah kastel merasa sangat kesepian. Dalam siksaan kesunyian itu, Ellen lantas berdoa dan memanggil siapa saja agar datang menemui dan mencintainya.
Celakanya, jeritan kesepian Ellen itu malah terdengar oleh Orlok dari dalam peti mati, tempat jasadnya tersimpan setelah menjual jiwanya ke Iblis. Oleh Iblis, jasad Orlok dibiarkan terus hidup tanpa jiwa di atas bumi dengan terus mengonsumsi darah manusia demi bertahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/3e9c2e6fbc19c25c0e2b58ae17fa9800-4193_D024_00029_R.jpg)
Skandal hasrat terlarang itulah yang kemudian menjadi akar bencana. Terutama ketika Nosferatu datang menagih janji yang pernah diucapkan Ellen untuk menjadi pasangan abadinya. Kisah cinta segitiga Thomas-Ellen-Nosferatu ini menjadi tulang punggung cerita horor ini.
Di film remake-nya ini, sang sutradara tampak kuat mempertahankan unsur-unsur lawas dari film bisu karya Murnau. Hal itu terlihat di sejumlah adegan Eggers tetap menghadirkan nuansa warna hitam putih dan juga menonjolkan ekspresi wajah karakter khas film bisu.
Penggambaran adegan-adegan dalam warna hitam putih suram nan mencekam itu juga terasa kuat saat Eggers menggambarkan kereta kencana yang menjemput Thomas menuju kastel Orlok.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/df00dd832cf3e15caeb418473c506a20-4193_D015_00007_RC.jpg)
Salah satu adegan ikonik yang juga tetap dipertahankan adalah penggambaran kehadiran Nosferatu dalam bentuk bayangan. Bayangan yang bergerak menjalar lalu menyelimuti semua yang dilewatinya ke dalam kegelapan mengerikan.
Eggers jatuh cinta pada film klasik Nosferatu saat pertama kali menonton versi kaset VHS-nya di usia sembilan tahun.
”Sangat lucu karena film di VHS (yang ditonton saat itu) tak bersuara. Saya sangat kagum pada penampilan Max Schreck (pemeran Orlok saat itu) serta atmosfer menyeramkan yang ada,” kata Eggers.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/573079c81c9a08ae770bf66194dc580b-4193_D035_00267_R3.jpg)
Saat diwawancarai di akun CineFix-IGN Movies and TV, Eggers menyebut semua itu mengubah minat dan nasibnya ke depan. Terinspirasi skenario Henrik Galeen untuk Nosferatu: A Symphony of Horror dan novel Bram Stoker, Dracula, Eggers remaja lantas menulis dan mementaskan sendiri versi adaptasi panggungnya.
Eggers dibantu teman sekelasnya, Ashley Kelly-Tata, yang kini menjadi sutradara teater ulung. Produksi itu lantas menarik perhatian Edouard Langlois, Direktur Artistik Edwin Booth Theatre di Dover, New Hampshire, yang mengundang Eggers dan Kelly-Tata memindahkan produksi mereka ke tempatnya.
”Ini membuat saya tahu bahwa saya ingin menyutradarai,” ujar Eggers, seperti dimuat dalam catatan produksi film Nosferatu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/a3b85571a2706b7ccbd816e27a5e3707-NOSFERATU_FP_00106.jpg)
Sepanjang filmnya ini, Eggers menghadirkan kengerian-kengerian berbeda ketimbang film-film horor biasa. Ketakutan tak dihadirkan semata lewat kejutan menakutkan (jump scare).
Eggers menampilkan kengerian lewat permainan warna-warna pucat diselingi hitam putih yang klasik. Juga saat dia menggambarkan latar panorama alam, kastel-kastel serta bangunan tua, yang mampu membawa atmosfer suram.
Mengutip laman imdb.com, penggambaran luar kastel Orlok dalam film diambil dari Kastel Corvin alias Kastel Hunedoara. Salah satu kastel terbesar abad pertengahan itu benar-benar berlokasi di Transylvania, Romania.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/6e934d61a0d429c58d6aa4e8a14af28a-4193_D045_00048_R.jpg)
Kengerian lain dari film ini juga tersampaikan lewat sosok karakter Orlok, terutama dari deskripsi tarikan napas serta nada suaranya yang berat. Untuk bisa menghasilkan suara menyeramkan Orlok itu, Skarsgård melatihnya selama enam minggu, termasuk untuk menurunkannya satu oktaf.
”Dan di lokasi shooting, saya akan terus melakukan latihan ini. Kedengarannya seperti nyanyian tenggorokan orang Mongolia. Ini gila,” ujar Skarsgård.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/8ac1aad2b49e54b770c0432aad574f5a-NOSFERATU_FP_00005_R.jpg)
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Dahono Fitrianto