Alexandra Eala kalah dari Jessica Pegula di semifinal WTA 1000 Miami. Meski demikian, itu menjadi langkah besar Eala untuk masa depannya di dunia tenis profesional.
28 Mar 2025 13:47 WIB · Olahraga
MIAMI, KAMIS — Fenomena Alexandra Eala dalam turnamen tenis WTA 1000 Miami berakhir di semifinal. Meski tak terjadi happy ending dalam kisahnya selama dua pekan di turnamen, remaja Filipina itu mendapat banyak cinta dari penggemarnya.
Perjalanan Eala dihentikan Jessica Pegula dalam semifinal yang berlangsung di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Kamis (27/3/2025) tengah malam atau Jumat siang waktu Indonesia. Eala kalah dengan skor 6-7 (3), 7-5, 3-6.
Kekalahan itu menghentikan kejutan yang dibuat Eala setelah menyingkirkan juara Grand Slam, yaitu Jelena Ostapenko (juara Perancis Terbuka 2017) di babak kedua, lalu Madison Keys (Australia Terbuka 2025) pada babak ketiga. Setelah menang walkover (WO) atas Paula Badosa di babak keempat, Eala melanjutkan penampilan solidnya dengan menyingkirkan pemilik lima gelar juara Grand Slam, Iga Swiatek, pada perempat final.
Satu-satunya petenis putri profesional dari Filipina itu memiliki peluang melanjutkan perjalanan ke laga puncak untuk berhadapan dengan Aryna Sabalenka. Petenis nomor satu dunia itu lolos ke final WTA Miami untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Jasmine Paolini, 6-2, 6-2.
Eala adalah petenis muda yang punya banyak potensi. Dia mengerahkan semuanya pada setiap poin. Saya sangat lelah menghadapinya.
Setelah kehilangan set pertama melalui tiebreak, Eala membuat pertandingan berjalan tiga set dengan merebut set kedua. Penonton yang bertahan di stadion hingga tengah malam menyambut meriah perjuangan yang diperlihatkan petenis berusia 19 tahun itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/742e393c4517abf77d757e0386b837a4-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_10_128564041.jpg)
Eala tetap memperlihatkan fokusnya pada setiap poin dengan melancarkan groundstroke sekeras mungkin atau mengubah ritme permainan dengan tiba-tiba meski kondisi fisiknya menurun. Pada setiap jeda perebutan poin, dia memukul-mukul bagian belakang paha kanan yang terasa sakit.
Sorakan untuk mendukung Eala terdengar lebih lantang meski dia berhadapan dengan petenis tuan rumah. Seusai pertandingan, saat Eala duduk di kursi sebelum meninggalkan lapangan, dukungan itu terdengar lebih meriah. Beberapa bendera Filipina yang dibawa penonton dikibar-kibarkan. Eala pun menikmati momen tersebut dengan tersenyum dan membalas cinta mereka dengan memberikan tanda hati dengan tangannya.
Eala menjadi bintang utama WTA 1000 Miami meski gelar juara akan menjadi milik Sabalenka atau Pegula. Dia menapaki semifinal sebagai petenis penerima wild card.
”Eala adalah petenis muda yang punya banyak potensi. Dia mengerahkan semuanya pada setiap poin. Saya sangat lelah menghadapinya,” komentar Pegula.
Performa dan hasil dari turnamen yang hanya selevel di bawah Grand Slam ini menjadi bagian dari langkah awal yang baik dari para remaja. Selama sebulan sebelumnya, Andreeva mendapat hasil lebih baik. Petenis Rusia berusia 17 tahun itu menjuarai dua turnamen WTA 1000 secara beruntun, yaitu di Dubai dan Indian Wells. Di Miami, langkah Andreeva dihentikan Amanda Anisimova pada babak ketiga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/c36016e2d753e83e8c5307ab634948b9-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_10_128564080.jpg)
Sementara itu, Sabalenka mencapai final berkat kenyamanan yang dirasakannya di Miami. Meski telah bermain di sana sejak 2018, dia hanya bisa mencapai perempat final pada 2021 dan 2023 dari enam penampilan sebelumnya.
Kenyamanan itu tak hanya dirasakan di lapangan. Sabalenka, bahkan, bercerita kepada wartawan bahwa dia bisa berkeliling Miami dengan mengendarai sendiri mobilnya dan mencuci baju sendiri saat turnamen.
Petenis Belarus itu tinggal Miami sejak 2024. Dia memiliki rumah di selatan Florida, Amerika Serikat, itu sehingga bisa tinggal di rumah dan tidur di kamarnya sendiri saat turnamen.
Sabalenka jatuh cinta dengan atmosfer Miami yang menurut dia bisa membuat rileks. Apalagi, Miami mempunyai banyak pantai indah, tempat yang sangat disukai Sabalenka saat tak bermain tenis. Saat tampil di Wimbledon 2024, misalnya, dia tinggal di Miami selama sepuluh hari.
Semua hal positif yang dirasakannya di Miami dibawa ke turnamen pada tahun ini. Dia lolos ke final untuk pertama kalinya tanpa kehilangan satu set pun. Kemenangan atas Paolini di semifinal didapat dalam waktu 1 jam 11 menit, jauh lebih cepat dibandingkan pertandingan Pegula-Eala selama 2 jam 26 menit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/928bef43eb32cc07e212e0a50e933dc5-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_10_128547904.jpg)
”Saya senang bisa bermain dalam level seperti hari ini dan tentunya senang bisa ke final Miami untuk pertama kalinya. Pertandingan tadi mungkin menjadi penampilan terbaik saya pada musim ini,” kata petenis berusia 26 tahun tersebut.
Namun, ada satu faktor yang harus dia benahi untuk melawan Pegula di final berdasarkan pengalaman tampil di final WTA Indian Wells dan Australia Terbuka. Dia kalah dari Mirra Andreeva di Indian Wells dan Madison Keys (Australia Terbuka) karena tidak fokus pada dirinya.
”Saya lebih fokus pada lawan dibandingkan diri sendiri pada dua final itu. Dalam final di sini, saya merasa bisa bermain lebih baik,” kata Sabalenka yang unggul 6-2 atas Pegula, termasuk dalam dua pertemuan terakhir di final WTA 1000 Cincinnati dan AS Terbuka 2024.
Pada persaingan putra di tempat yang sama, Novak Djokovic menjadi semifinalis tertua dalam turnamen ATP Masters 1000. Pada usia 37 tahun 10 bulan, dia lolos ke semifinal Miami Masters setelah mengalahkan petenis yang 13 tahun lebih muda, Sebastian Korda, 6-3, 7-6 (4). Djokovic melampaui Roger Federer yang tampil pada semifinal Indian Wells Masters 2019 pada usia 37 tahun 7 bulan.
Pada usia itu, Djokovic menjadi petenis tertua di jajaran petenis top dunia. Dia menjadi petenis ”Big Three” yang masih aktif saat Federer pensiun pada 2022 dan Rafael Nadal pada 2024. Petenis Serbia itu masih memiliki target untuk menambah 24 gelar Grand Slam agar menjadi satu-satunya petenis dengan trofi juara Grand Slam terbanyak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/93525d8168f4559f1f81ce40fbab127e-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_10_128551468.jpg)
Perjalanannya pada 2025 tak mudah. Dia mengundurkan diri pada semifinal Australia Terbuka karena cedera hamstring kiri. Setelah itu, Djokovic kalah beruntun pada babak pertama ATP 500 Doha dan babak kedua Indian Wells Masters.
Maka, pemilik 40 gelar turnamen ATP Masters 1000 itu merasa lega ketika perlahan bisa kembali bermain baik. Kunci kemenangannya atas Korda adalah akurasi servis. Persentase keberhasilan servis pertamanya dalam menghasilkan poin adalah 84 persen. Sebanyak 11 poin dihasilkan dari as.
”Saya membutuhkan servis yang bagus sepanjang turnamen, terutama pada pertandingan hari ini. Sebastian membuat saya banyak berlari di set kedua,” kata Djokovic yang akan berhadapan dengan Grigor Dimitrov pada semifinal. Adapun semifinal lainnya mempertemukan Taylor Fritz dan Jakub Mensik. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra