Novak Djokovic kembali ke Turnamen Miami Masters setelah enam tahun. Dia membawa misi untuk bangkit setelah terpuruk 1,5 bulan terakhir.
21 Mar 2025 13:19 WIB · Olahraga
MIAMI, KAMIS — Kecintaan Novak Djokovic pada dua turnamen tenis yang membesarkan namanya tak pernah hilang, tetapi rasa kompetitifnya dalam pertandingan berada pada fase menurun. Djokovic pun akan mencari kembali renjananya dalam turnamen ATP Masters 1000 Miami, 16-30 Maret.
Kembalinya Djokovic ke Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, menjadi yang pertama kali sejak dia kalah dari Roberto Bautista Agut pada babak keempat rahun 2019. Pada tahun berikutnya, Miami Masters tak digelar karena pandemi Covid-19, lalu Djokovic absen pada 2021-2024, di antaranya karena tidak boleh memasuki wilayah Amerika Serikat karena tak pernah divaksinasi Covid-19.
Kehadirannya kali ini bukan untuk mencari gelar ketujuh di Miami setelah 2007, 2011, 2012, dan 2014-2016. Mantan petenis nomor satu dunia itu berpikir realistis setelah mendapat rangkaian hasil buruk dan mengalami cedera hamstring kiri pada awal tahun.
Bisa dikatakan, saya dalam pencarian renjana untuk tenis. Saya tak bisa bermain sesuai kemampuan terbaik atau bahkan mendekati itu di Doha dan Indian Wells.
Cedera, berupa robekan, itu membuatnya mundur saat melawan Alexander Zverev pada semifinal Grand Slam Australia Terbuka, Januari. Setelah itu, Djokovic tersingkir pada babak pertama ATP 500 Doha, lalu tersingkir pada babak kedua Indian Wells Masters, setelah mendapat bye di babak awal.
Dengan demikian, Djokovic membawa tiga kekalahan beruntun sebelum menghadapi petenis Australia, Rinky Hijikata, pada babak kedua di Miami, Jumat (21/3/2025) sore waktu setempat atau Sabtu dini hari waktu Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/f47f16ba55766c808f5b1bd5eff62f31-Miami_Open_Tennis_128368411.jpg)
”Bisa dikatakan, saya dalam pencarian renjana untuk tenis. Saya tak bisa bermain sesuai kemampuan terbaik atau bahkan mendekati itu di Doha dan Indian Wells. Saya tak mencapai kualitas permainan yang diinginkan sejak mundur pada semifinal Australia Terbuka,” tutur Djokovic, dalam laman resmi ATP, seusai bertemu penyanyi rock Jon Bon Jovi, Kamis.
Djokovic sangat kecewa dengan permainannya dalam dua turnamen terakhir karena dia selalu memberikan segalanya saat berlatih. ”Saya percaya, waktunya akan tiba karena saya masih bisa bermain baik di Australia. Saya masih bisa mengalahkan Carlos (Alcaraz) di sana. Semoga pencarian itu bisa didapat di sini,” ujar Djokovic yang menjadi unggulan keempat Miami Masters.
Selain membawa tiga kekalahan beruntun, petenis berusia 37 tahun itu mempunyai sisi positif sebagai penyemangat untuk bersaing dengan petenis yang hampir semuanya lebih muda darinya. Empat dari enam gelarnya di Miami membuat Djokovic mencetak ”Sunshine Double”.
”Sunshine Double” ini adalah istilah untuk gelar juara di Indian Wells dan Miami yang didapat petenis secara beruntun. Djokovic menjadi petenis yang paling banyak meraih prestasi itu, yaitu pada 2011, 2014, 2015, dan 2016. Dia menjadi salah satu dari tujuh petenis putra dan empat putri yang bisa membuat ”Sunshine Double”.
”Saya sangat merindukan bermain di Miami karena atmosfernya luar biasa. Banyak orang yang menyukai tenis di sini, seperti orang-orang dari Amerika Selatan,” kata pemilik 24 gelar Grand Slam tersebut.
Selain Djokovic, petenis lain yang berada pada paruh undian yang sama dengannya akan memulai penampilan pada Jumat. Mereka di antaranya Alcaraz yang akan melawan David Goffin dan Daniil Medvedev yang akan berhadapan dengan Jaime Munar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/201c3a2d3ead9946bbe0edf0d4829b92-MTS_SPO_TEN_WTA_BNP_PARIBAS_OPEN_DAY_4_128088664.jpg)
Babak pertama yang berlangsung Kamis waktu setempat diwarnai drama pada debut petenis remaja asal Brasil, Joao Fonseca. Dalam debutnya di Miami Masters, Fonseca membuat suasana di Stadion Hard Rock tetap meriah pada Kamis tengah malam. Petenis berusia 18 tahun itu mengalahkan Learner Tien, petenis AS berusia 19 tahun, dengan skor 6-7 (1), 3-6, 6-4.
Keduanya memperlihatkan kemampuan dengan karakter berbeda. Salah satu yang membuat pertandingan itu unik adalah dukungan yang begitu banyak bagi Fonseca meski dia melawan petenis tuan rumah. Teriakan ”Brasil! Brasil!” selalu terdengar saat jeda perebutan poin. Banyak penonton membawa bendera Brasil.
Setelah pertandingan, Fonseca pun menulis kalimat ”Apakah saya di Brasil?” pada lensa kamera.
Apa yang dilakukan Fonseca adalah tradisi yang ada dalam Tur ATP dan WTA. Petenis yang memenangi pertandingan diminta membubuhkan tanda tangan pada lensa kamera TV. Akan tetapi, petenis biasanya memanfaatkan kesempatan itu untuk menulis kalimat yang mewakili perasaannya.
Fonseca, yang akan melawan unggulan ke-19, Ugo Humbert, pada babak kedua menang atas Tien melalui drama yang terjadi pada set ketiga. Dia unggul 3-2, tetapi harus menjalani perawatan medis karena pusing dan merasa akan muntah. Fonseca melanjutkan pertandingan setelah meminum pil pemberian dokter turnamen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/d60d0ce85bfd9db19c42692b9f40e59e-Miami_Open_Tennis_128375082.jpg)
Saat membutuhkan dua poin lagi untuk menang, kakinya mengalami kram meski tak parah. Kali ini, dia memilih melanjutkan pertandingan dan menang.
”Saya tahu, pertandingan melawan Learner akan sulit. Dia adalah pejuang dan sangat cerdas saat bermain. Maka, yang harus saya lakukan adalah berjuang hingga akhir,” ujar Fonseca.
Kedua petenis memang memiliki pengalaman bertemu sebelum bersaing di Miami. Mereka bertemu dua kali dalam turnamen Final ATP Next Gen 2024 dan Fonseca memenangi keduanya. Turnamen itu digelar untuk delapan petenis berusia 21 tahun ke bawah dengan penampilan terbaik sepanjang tahun dan Fonseca menjuarainya.
Dengan gelar dari Final ATP Next Gen 2024, Fonseca menunjukkan diri sebagai petenis muda potensial. Dia mendapat gelar pertama dari Tur ATP pada turnamen ATP 250 Buenos Aires, Februari. Saat ini, Fonseca menempati ranking ke-60, posisi tertinggi dalam karier di arena tenis profesional yang baru dijalani sejak tahun 2024.
Pada persaingan petenis putri, WTA 1000 Miami, kemenangan telak didapat Cori ”Coco” Gauff saat melawan Sofia Kenin pada babak kedua. Coco mencetak double bagel, 6-0, 6-0, atas juara Australia Terbuka 2020 tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/8b11f833e2bd57d1275da4729e2d2f4e-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_3_128371830.jpg)
Ini menjadi double bagel kedua yang dibuat Coco dalam Tur WTA setelah babak kedua WTA 1000 Madrid 2024. Saat itu, dia mengalahkan Arantxa Rus, tetapi kalah dari Madison Keys pada babak keempat.
”Saya bermain sangat baik dan mungkin dia tidak pada kemampuan terbaiknya karena petenis yang bisa mengeluarkan kemampuan terbaik tak mungkin mendapat skor seperti tadi,” ujar Coco yang akan melawan Maria Sakkari pada babak ketiga. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .