Perkembangan olahraga padel terbilang pesat beberapa tahun setela pandemi Covid-19. Tak hanya para pegiat gembira, para pebisnis juga coba mendulang cuan dari situ.
22 Jun 2025 06:17 WIB · Gaya Hidup
Maraknya cabang olahraga baru padel di Indonesia beberapa tahun belakangan diyakini membawa berkah tersendiri, terutama bagi pergerakan ekonomi. Olahraga yang merupakan perkawinan tenis, badminton, tenis meja, dan skuas itu, pertama kali dibawa dan diperkenalkan di Indonesia pasca-pandemi Covid-19.
Padel bermula kala sejumlah ekspatriat yang tengah bermukim di Bali mendirikan lapangan padel (court) seukuran 10 meter x 20 meter. Mereka konon melakukannya karena bosan dan tak bisa kembali ke negaranya akibat pandemi yang tengah melanda dunia. Banyak negara menutup pintu masuk mereka rapat-rapat ketika itu.
Saat itu padel sekadar dimainkan sesama ekspatriat. Tak disangka padel kian populer dan bersinar. Apalagi untuk membuat lapangan padel tak butuh lahan luas.
Jumlah lapangan padel pun kemudian terus bertambah di Bali, terutama di kawasan Canggu. Namun belakangan, jumlah tadi perlahan dikalahkan oleh klub-klub baru di Jakarta. Ràcquet Padel Club di Cilandak, Jakarta Selatan, merupakan klub padel pertama di Jakarta.
Hingga saat ini data Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) mencatat ada setidaknya 133 lapangan padel permanen di Indonesia. Jumlah lapangan didominasi Jabodetabek (40 persen) dan Bali (30 persen). Sisanya tersebar di banyak wilayah, macam kota Bandung dan Semarang, Derah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Utara.
Angka itu diyakini masih akan terus bertambah mengingat tingginya jumlah permintaan akan akses lapangan dari penggemar baru olahraga ini. Ketua Umum PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita mengatakan, merebaknya minat orang terhadap olahraga padel juga mendatangkan berkah lain.
Perputaran ekonomi dan bisnis seputar padel, menurut dia, signifikan. Potensi nilai investasi dan penghasilan dari bisnis persewaan lapangan padel saja cukup besar. Belum lagi potensi bisnis lain, yang juga bisa muncul, seperti jual beli peralatan dan aksesori padel hingga ke bisnis jasa terkait lainnya.
Nilai investasi membangun satu lapangan padel lumayan besar. Lapangan padel terdiri dari beberapa komponen pembangun, seperti pagar berkawat tinggi dan dinding kaca diperkuat (tempered glass) untuk memantulkan bola agar tak melejit keluar arena. Juga perlengkapan utama lain seperti net.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/618e01db886cbad072c382e79e9de5d7-20250619AGS_68.jpg)
Semua komponen lapangan padel tadi ada yang diproduksi lokal seharga Rp 400 juta. Ada juga yang beberapa komponen dibuat di China seharga Rp 700 juta. Sementara untuk komponen yang dibuat di Spanyol harganya bisa sampai Rp 1 miliar.
Hal itu disampaikan co-owner Klub Padel Pro Kemang, Emilio Shareef Wibisono saat ditemui di kantornya, Kamis (19/6/2025) siang. Klubnya dibangun di lahan seluas 2.500 meter persegi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Klub Padel Pro Kemang memiliki enam unit lapangan berkualitas Spanyol. Emilio membenarkan bahwa bisnis penyewaan lapangan padel termasuk usaha yang lumayan menguntungkan dan cepat balik modal.
Cepatnya modal kembali terutama disebabkan tingginya minat orang ikut padel. Untuk bisa bermain padel, mereka tentu saja harus sewa lapangan.
Di beberapa klub, daftar sewa lapangan bahkan sudah penuh sampai beberapa bulan ke depan saking tingginya peminat. Dalam waktu dekat, Emilio berencana membuka tiga cabang baru di Jakarta dan satu cabang baru lain di Provinsi Banten.
Selain itu, beberapa cabang baru lain juga akan didirikan di sejumlah kota besar, seperti Bandung, Surabaya, dan Makassar. ”Selama demand-nya terus ada secara ekonomi untuk bisa BEP (break even point) juga selalu ada,” ujar Emilio.
Emilio menargetkan dari seluruh cabang baru tadi, mereka sudah bisa BEP dalam setidaknya di bawah dua tahun. Rata-rata per cabang memiliki lima hingga tujuh lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/17/80c6a97803bb9edb992487ffc9213d38-20250617AGS_34.jpg)
Cerita kurang lebih sama juga disampaikan pemilik Basic Padel, Erik Fatono, saat ditemui di klub dengan dua lapangan, yang selalu penuh di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/6/2025).
Dengan tarif sewa lapangan per jam Rp 400.000 di hari kerja dan Rp 450.000 di akhir pekan Erik, seperti juga Emilio, menargetkan bisa BEP dalam setidaknya dua tahun. Secara hitung-hitungan dengan waktu operasional klub rata-rata 16 jam, dari pukul 06.00 hingga 22.00, pendapatan kotor per hari dari sewa lapangan terbilang besar dengan asumsi sewa per jam sekitar Rp 450.000.
Dari investasi dan bisnis sewa lapangan padel tadi, Galih, yang juga anggota Komisi XI dari Partai Golkar, meyakini masih akan ada lebih banyak pihak lain ikut kecipratan cuan. Keberadaan bisnis sewa lapangan padel juga membuka peluang lapangan kerja baru. Sebut saja bisnis toko penjual alat dan perlengkapan olahraga khusus padel, kafe dan kedai makanan, yang banyak dibuka di lokasi klub.
Dari produk-produk peralatan dan perlengkapan olahraga padel, yang kebanyakan masih diimpor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Spanyol, negara sendiri juga berpotensi cuan.
Sepanjang proses impornya dilakukan secara benar, tambah Galih, negara setidaknya mendapat pemasukan, baik dari pajak atau bea masuk barang-barang tersebut.
Walau menolak menyebut omzet yang diperoleh, Dipo Pratama dari toko peralatan dan perlengkapan padel, Padel Top, membenarkan besarnya permintaan aneka produk yang dijualnya, mulai dari raket, sepatu, hingga outfit dan aksesori padel lainnya.
Saat ditemui di tokonya, Rabu (18/6/2025), Dipo menekankan pihaknya tak sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi calon pembeli.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/6d848a83ea66b39245abcbbd46132222-20250619AGS_19.jpg)
Dengan begitu mereka diharapkan membeli dengan melihat kualitas dan fungsi barang yang dibeli dan bukan sekadar didasari jenama ternama. Salah satu masukan yang kerap mereka sampaikan saat menjual sepatu.
Sepatu padel yang bagus harus memenuhi syarat standar setidaknya memiliki sol sepatu berjenis herringbone sole. Jenis sol sepatu seperti itu mampu mencegah cedera (pergelangan kaki) saat bermain.
Efek cipratan cuan lainnya adalah profesi menjadi pelatih padel. Jasa pelatih padel sangat dibutuhkan, terutama oleh para pemain pemula agar bisa berolahraga secara tepat, baik, dan benar.
Menurut pelatih padel inhouse di Ràcquet Padel Club, Iqbal Effendi, Kamis (19/6/2025), dia merasakan sendiri tingginya minat dan permintaan akan pelatih padel setidaknya dalam 1,5 tahun terakhir.
Dalam sehari, Iqbal yang mantan atlet dan pelatih tenis lapangan itu sampai membatasi waktu melatih hanya tujuh jam. Jika tidak dibatasi, Iqbal khawatir tidak punya waktu untuk istirahat dan beraktivitas lainnya.
”Kalau enggak dibatasi, sehari mengajar sampai 13 jam pun saya bisa karena permintaan ada terus. Jadwal mengajar saya sekarang saja sudah penuh sampai minggu kedua Juli nanti,” paparnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/dfefd672bdcf8cfb8002fd5a5b06a508-20250619AGS_16.jpg)
Per pertengahan Juli, tarif melatih Iqbal dinaikkan oleh pihak manajemen klub menjadi Rp 800.000 per jam. Separuh dari tarif itu untuk biaya sewa lapangan. Dengan pendapatannya sekarang, Iqbal tak perlu lagi mencari kesempatan lain di luar, seperti menjadi pelatih paruh waktu atau cabutan.
Iqbal baru-baru ini diminta menjadi semacam konsultan gerak untuk pengambilan gambar produk iklan. Iqbal diminta memastikan gerakan yang terekam kamera benar-benar natural dan sesuai dengan gerakan aslinya.
Cerita kurang lebih sama juga dialami Luthfi Apriansyah (34), yang sejak April 2024 menjadi pelatih lepas untuk wilayah Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan.
Dalam sehari, dia maksimal hanya akan mengajar privat selama delapan jam. Dengan tarif Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per satu hingga dua jam.
Peluang cuan dari mengajar padel bisa membuat orang beralih pekerjaan. Iqbal sebelumnya adalah seorang pelatih dan juga mantan atlet tenis di daerah asalnya, Sumatera Barat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/07f39c680a3b8bcef621a4e84a95284f-20250619AGS_34.jpg)
Terakhir kali dia sempat bertanding sebagai atlet padel di ekshibisi PON XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2024. Dari situ dia mantap ”berhijrah” ke cabang olahraga padel.
Aditya Triatama (28) juga memutuskan ”banting setir” mencari sambilan sebagai pelatih padel paruh waktu dari pekerjaan utamanya di bagian Operasional & Services sebuah layannan transportasi umum. Begitu juga dengan Rere (30), pelatih inhouse di klub padel baru di Kota Bogor, Jawa Barat, Padel Life Bogor.
Sebelum melatih padel, Rere bekerja sebagai komentator e-sports. Rere punya bekal pengalaman aktif bermain tenis lapangan. Pengalaman itu memudahkannya beralih ke padel dan menjadi pelatih untuk pemain baru.
Padel tak hanya membahagiakan pemainnya. Orang-orang di sekitarnya ikut bahagia karena aliran rezekinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/4fd14d6f29bfb23a873157509ba11686-20250619AGS.jpg)
Catatan: Artikel merupakan kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, Giofanny Sasmita, mahasiswi Jurusan Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara, dan Selina Damayanti, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan.
Penulis:
Wisnu Dewabrata, Dwi Bayu RadiusEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul