Kudengar, Kulihat, Kusentuh...

Karya seni visual pada musik seperti ilustrasi sampul album dan kaus berperan dalam mendefinisikan sebuah band atau musisi. Bahkan, menambah nilai jual.

15 Jun 2025 06:41 WIB · Gaya Hidup

Oleh Prayogi Dwi Sulistyo, Herlambang Jaluardi

Musik yang menstimulasi pendengaran kita senantiasa turun menyusupi ruang emosi. Sementara karya visual seperti gambar sampul album dan merchandise bisa memberikan pengalaman ikatan batin berkelanjutan dengan musisi pujaan. Di era musik digital ini, mendengar dan melihat saja tak cukup, kita rupanya masih rindu menyentuh.

Beberapa gambar terpajang di dinding yang sebagian besar berupa lukisan cat air di atas kertas. Di sudut ruangan terdapat meja gambar yang berada di sisi kiri tumpukan buku yang diletakkan di rak. Syair dan daftar lagu serta beberapa sketsa dijepit di besi yang dipasang di dinding depan meja gambar.

Sementara di sisi kanan rak buku bertengger seperangkat komputer dan gawai. Beberapa sketsa juga dijepit di besi yang dipasang di dinding depan meja komputer. Sebuah gitar bas berwarna merah dan putih berdiri kokoh di samping meja komputer.

Inilah studio kerja Indra Wirawan alias Morrght (43) di tempat tinggalnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Gambar dan musik menjadi dua hal yang tak terpisahkan dalam hidup ilustrator sekaligus musisi itu. Sepak terjangnya dalam dunia ilustrasi dan musik cadas sudah tidak diragukan lagi.

Gambarnya telah menghiasi band dari beberapa label musik, di antaranya Anoa Records, Blackandje Records, Demajors, Disaster Records, Grimloc Records, Orange Cliff Records, Rimauman Music, Southcave Records, hingga Tee Pee Records dari Amerika Serikat.

Di dunia musik, Morrgth dikenal sebagai personel dari band Rajasinga, Vlaar, dan Suara Kastil serta pemain bas tambahan di Komunal.

Morrgth atau Indra Wirawan tengah menyelesaikan pembuatan ilustrasi album grup band di Morrgsferatu Studio, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (12/6/2025). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
12-6-2025

Karyanya untuk sampul band Kala pada album Litany of Dissonant mendapatkan penghargaan sebagai The Most Extreme Album Cover pada Extreme Moshpit Award 2020. Sementara ilustrasi untuk bandnya, Rajasinga, pada album Meribut masuk nominasi pada kategori yang sama.

Keseriusan Morrgth dalam membuat ilustrasi terlihat pada sampul album Nostalgia dari band Komunal yang dirilis pada Mei 2025 lalu. Sampul album ini menggunakan foto patung burung gagak yang disertai dengan teks ”Komunal” dan ”Nostalgia”. Penggarapan sampul ini memakan waktu sekitar setahun.

Morrgth mencorat-coret beberapa sketsa hingga tercetus ide untuk membuat patung. Dia tidak ingin hanya membuat ilustrasi seperti biasanya untuk sampul album ini. Ide itu disetujui oleh Komunal dan dipahat seniman patung asal Mojokerto, Jawa Timur, Erlan Adi Kurnia. Selain sebagai sampul, foto patung ini akan digunakan untuk kaus.

”Mereka melakukan materi yang di Nostalgia hal yang beda lagi. Mereka gak pernah melakukan pengulangan. Makanya, itu jadi semacam landasan saya juga, ini jangan sampai pengulangan. Jangan sampai cover menjadi gambar parade burung-burung gagak dalam bentuk yang beda-beda pembuat,” ujar seniman asal Pekanbaru, Riau, tersebut.

Dalam membuat sebuah gambar ilustrasi musik, Morrgth selalu berusaha menghasilkan karya yang keluar dari hatinya. Tak sekadar memenuhi kebutuhan klien. Ketika tidak puas, ia tak ragu untuk mengganti dengan karya baru.

Morrgth atau Indra Wirawan tengah menyelesaikan pembuatan ilustrasi album grup band di Morrgsferatu Studio, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (12/6/2025). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
12-6-2025

Ia menerapkan sistem royalti berupa persentase dengan kliennya agar hubungan kedua belah pihak tak terputus. Sistem tersebut agar tidak memberatkan band dan komunikasi dengan klien terus terjaga.

Proses alih wahana pun dilakukan Morrgth, seperti dalam membuat lagu berjudul ”Fatwa” untuk bandnya, Nansuram, yang saat ini belum dirilis. Ia membuat lirik, lalu mewujudkannya menjadi lukisan cat air bergaya ekspresionisme yang menggambarkan pertarungan batinnya. Dari lirik dan lukisan itu, Morrgth baru menuangkannya ke dalam lagu.

Penyampai pesan

Bagi Morrgth, karya visual lagu sangat penting karena selain menjadi identitas dari musiknya, hal itu juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dari musisi dengan lebih cepat. Apalagi, lagu-lagu underground biasanya menggunakan lirik yang tidak terdengar jelas sehingga membutuhkan karya visual untuk mempermudah audiens dalam memahami pesan yang ingin disampaikan.

Selain itu, karya visual juga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan bagi band dengan menjual barang dagangannya. Namun, Morrgth juga menekankan pentingnya keutuhan nilai dari karya tersebut. Oleh karena itu, ia belum mau mengomersialkan lukisan orisinalnya meskipun ada keinginan untuk menjualnya.

Ditemui secara terpisah, gitaris Exhumation, Yoga Ghotama (35), pun menekankan pentingnya karya visual karena berperan dalam mendefinisikan sebuah band. Sebagai contoh, sebuah band death metal tidak akan menggunakan gambar pemandangan di Swiss. Yang digunakan gambar darah dan tengkorak.

Penjual siarang langsung TikTok sembari mencarikan kaos musisi permintaan dari calon pembeli di Fightback, Pasar Santa, Jakarta Selatan, Selasa (10/6/2025). Kaos bekas bergambar musisi atau grup musik tersebut dijual mulai Rp 200 ribu. Toko tersebut pernah menjual kaos bergambar James Dean seharga Rp 30 juta. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO 
10-6-2025

UNTUK SERIAL/URBAN KOMING

Karya visual juga bisa memberikan nilai jual dan tambah dari band. Exhumation menggarap serius setiap ilustrasi visual yang mereka gunakan, termasuk pemakaian nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan.

Sejak berdiri 17 tahun lalu dengan album pertama yang dirilis pada 2012 hingga album keempat yang dirilis pada 2024, Exhumation telah berkolaborasi dengan 15 seniman yang dipilih melalui seleksi. Salah satu di antaranya adalah seniman kelahiran Jerman, Jose Gabriel Alegria Sabogal, yang merupakan seorang sejarawan dan profesor. Selain itu, ada seniman asal Italia, Daniele Valeriani.

Quote

”Saya itu senang mengembangkan dialektika antara musisi dan seniman. Karena di situlah kami bisa berkembang,” ujarnya.

Dalam berkolaborasi dengan Jose Gabriel, mereka melakukan riset hingga delapan bulan dan bertukar pikiran hingga setahun. Mereka bertukar preferensi buku untuk mendalami karakter album yang sedang digarap. Daniele dipilih karena suka dengan musik Exhumation dan reptil Indonesia.

Komunikasi yang mendalam ini dirasakan Yoga sebagai hal penting dalam membuat karya ilustrasi musik. ”Saya itu senang mengembangkan dialektika antara musisi dan seniman. Karena di situlah kami bisa berkembang,” ujarnya.

Dalam berkarya, Exhumation membiarkan seniman menginterpretasi lagu sesuai dengan imajinasinya. Pada album keempat, Master’s Personae, misalnya, Jose Gabriel menggunakan bentuk-bentuk seperti barong, tengkorak, dan ular dengan warna mayoritas kombinasi coklat dan hitam. Secara visual, gambar album ini terasa mengerikan berbalut suasana klasik yang terlihat dari pilihan warna dan lekukan garis.

Sampul album keempat band death metal kelahiran Yogyakarta Exhumation berjudul Master's Personae yang diproduksi label Pulverised Records dari Singapura.

Exhumation tidak memberikan batasan kepada seniman untuk berkarya, baik soal elemen visual seperti bentuk maupun warna. Sebab, musik yang dihasilkan Exhumation juga multitafsir.

Saling menguntungkan

Seniman visual Anggareza Adhitya yang telah menghasilkan gambar untuk sejumlah band, salah satunya Seringai, melihat ilustrasi dan band menjadi sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan. Band yang banyak disukai penggemar bakal mendongkrak nama ilustrator. Begitu juga sebaliknya, band juga diuntungkan dengan adanya karya visual.

Angga adalah satu dari beberapa ilustrator yang sering menggambar untuk merchandise Seringai, terutama kaus. Semula, urusan gambar untuk band asal Jakarta ini dipegang langsung oleh vokalisnya, Arian 13, yang lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Gambar sampul empat album Seringai adalah hasil karya Arian.

Lama-lama dia kewalahan. Jadwal panggung padat. Sementara penggemar juga mendambakan kaus dengan desain baru. Perlahan dia serahkan urusan menggambar kepada ilustrator lain yang sudah dia kenali karakternya. Angga adalah salah satunya. Arian menganggap dia mampu menyerap karakter musik dan gambar Seringai.

Sejak dibentuk pada 2002, Seringai sadar pada kekuatan ilustrasi, selain ciri musik yang berdistorsi tebal. ”Dulu gue membayangkan desain kaus Seringai itu bernuansa grafis (kultur) skateboard tahun 1980-1990-an, seperti Powell Peralta atau Santa Cruz. Gue ambil pengaruh dari situ. Bikin brand image band dari situ. Lama-lama ketemu juga karakternya,” kata Arian.

Band Seringai tampil dalam pertunjukan khusus Serigala Militia Selamanya di Lapangan Hoki Pasar Festival, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2024).

Ilustrasi album pendek pertama mereka, High Octane Rock, bergambar tengkorak bersayap dengan imbuhan bendera kotak-kotak. Hal itu menimbulkan kesan album rock agresif yang melaju secepat motor di lintasan balap. Isi lagu-lagunya mewakili itu. Di album kedua, Serigala Militia, gambarnya lebih detail. Tengkoraknya masih ada, tapi tengkorak serigala. Ketebalan garis dan titik-titik jadi ”bahasa desain” Seringai.

Produk turunannya—kaus, kemeja, dan jaket—menyesuaikan ciri itu. Arian mengajak ilustrator lain membantu menggambar. ”Lama-lama ada yang yang sudah jadi langganan, seperti Angga itu. Gue biasanya kasih tema dari lagu, atau tema gambar, dan referensinya. Atau gue yang bikin sketsa kasar, mereka yang menyelesaikan,” tutur Arian, yang sudah mulai jarang menggambar ini.

Kini, Arian bertanggung jawab pada produk visual band Seringai dan Lawless, unit bisnis pakaian—juga makanan. Ada sekitar 20 ilustrator yang mengerjakan gambar untuk dua turunan bisnis tersebut.

”Gue sekarang seperti kurator ilustrator,” katanya.

Kriterianya, tentu, bisa menyesuaikan karakter imaji Seringai dan Lawless. Selain itu, ketepatan waktu kerja juga jadi pertimbangan. ”Kadang-kadang butuh ilustrator yang bisa kerja cepat. Misalnya, kalau kami mau bikin kaus untuk tur,” ujarnya. Ilustrator itu, katanya, dibayar dengan rentang Rp 3 juta sampai Rp 7,5 juta untuk satu desain.

Selain ilustrator ”langganan”, Seringai juga beberapa kali bekerja sama khusus dengan ilustrator tertentu. Salah satunya adalah mendiang Mufti ”Amenkcoy” Priyanka. Karakter gambar Amenkcoy boleh dibilang berseberangan dengan karakter Seringai yang sangar.

Sketsa tinta cina Amenkcoy cenderung jenaka, mendekati figur Gareng dan Petruk bikinan Tatang S. Dia membikin dua seri kaus Seringai yang tidak ”Seringai banget”. Namun, dua seri itu laris lantaran menampilkan citra jenaka antarpersonel Seringai.

Suasana acara Merch-Making Market di Jakarta, Jumat (21/3/2025). Dalam acara ini, dijual berbagai macam barang dagangan seperti kaus dan tas jinjing dari sejumlah band.

Dalam buku Merchandise Musik: Gaya Visual dalam Skena karya dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Telkom University Purwokerto, Jawa Tengah, Arsita Pinandita, ditegaskan, salah satu faktor penting dalam mempromosikan dan menjual album musik adalah kekuatan visual pada desain sampulnya.

Sampul album tidak hanya menjadi wadah visual yang paling menonjol bagi penggemar musik, tetapi juga berperan sebagai pengingat visual bagi musik di dalamnya dan sebagai alat pemasaran. Di era musik digital, tampilan visual dan kemasan fisik tetap dirasa penting. Sebab, desain sampul album mencerminkan ekspresi seni pada era tertentu.

Selain itu, merchandise menjadi aspek penting dalam memberikan nilai tambah pada pengalaman pendengar. Nilai tidak hanya terletak pada lagu, tetapi juga dalam pengalaman fisik memiliki dan berinteraksi dengan karya tersebut.

Mengoleksi karya visual dari band favorit menjadi sebuah kesenangan tersendiri untuk merawat ikatan emosional dengan musisi atau senimannya. Dengan mendengarkan musiknya, memandangi ilustrasinya, menyentuh dan mengenakan kausnya, kita merasa lebih utuh kala mencintai apa pun….


Kerabat Kerja

Penulis:

Prayogi Dwi Sulistyo, Herlambang Jaluardi
 | 

Editor:

Sarie Febriane
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti