Crimea di Ujung Pertaruhan Kesepakatan Damai Ukraina-Rusia

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menekankan, pekan ini sangat kritis bagi Gedung Putih untuk memutuskan apakah harus terus berusaha sebagai mediator.

28 Apr 2025 16:29 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, SENIN — Kesepakatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia berada di ujung tanduk. Amerika Serikat mulai meragukan keberhasilan negosiasi. Topik Crimea masih menjadi ganjalan utama agar kedua belah pihak mencapai mufakat.

Langkah AS sebagai mediator terus terganjal. Presiden AS Donald Trump mendapati Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kukuh menolak penyerahan Crimea sebagai konsesi teritorial, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin terus melancarkan serangan mematikan ke Kyiv.

”Saya ingin dia berhenti menembak, duduk, dan menandatangani kesepakatan. Kami memiliki batasan kesepakatan, saya yakin, dan saya ingin dia menandatanganinya,” kata Trump menanggapi pertanyaan ekspektasinya terhadap Putin, Minggu (27/4/2025).

(COMBO) This combination of pictures created on February 12, 2025 shows
(from L) US President Donald Trump listening during a joint news conference with Japanese Prime Minister Shigeru Ishiba in the East Room of the White House in Washington, DC, on February 7, 2025.
Ukraine's President Volodymyr Zelensky looking on during a press conference after the European Council meeting at the EU headquarters in Brussels on December 19, 2024. 
Russian President Vladimir Putin attending a press statement following talks with Iranian President at the Kremlin in Moscow on January 17, 2025.. US President Donald Trump said on February 12, 2025 that his Ukrainian counterpart Volodymyr Zelensky wanted "peace," after the US president spoke to Russia's Vladimir Putin about talks to end the Ukraine war. (Photo by various sources / AFP)

Senada, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menekankan, pekan ini akan menjadi ”pekan yang sangat kritis” bagi Gedung Putih untuk memutuskan apakah harus terus berusaha. Sebab, ada alasan untuk bersikap optimistis, tetapi juga bersikap realistis.

”Kami sudah dekat, tetapi belum cukup dekat. Sepanjang proses ini, yang penting adalah menentukan, apakah kedua belah pihak benar-benar menginginkan perdamaian dan seberapa dekat atau seberapa jauh mereka setelah 90 hari upaya di sini. Itulah yang ingin kami tentukan pekan ini,” tutur Rubio kepada NBC.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan, Rubio telah berbincang dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov, Minggu (27/4/2025). Lewat sebuah pernyataan, keduanya menekankan ”pentingnya mengonsolidasikan prasyarat yang muncul untuk memulai negosiasi guna menyepakati jalur yang dapat diandalkan menuju perdamaian berkelanjutan jangka panjang.”

Jika tidak ada kemajuan yang cepat, AS bisa saja melepaskan perannya sebagai perantara. Trump mengindikasikan akan memberi waktu dua minggu atau lebih.

Kyiv kaget

Walaupun rincian kesepakatan perdamaian belum keluar, Washington telah mengusulkan pembekuan garis depan dan pengakuan kendali Rusia atas Crimea sebagai salah satu poin kesepakatan. Rusia telah menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Crimea yang merupakan semenanjung strategis di sepanjang Laut Hitam di Ukraina selatan.

Trump dan Zelenskyy kembali bertemu menjelang pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). Menurut Trump, pertemuan itu berjalan lancar. Sehari kemudian, Trump berpikir Zelenskyy mau menyerahkan Crimea.

Taktik itu merupakan cara untuk menekan Zelenskyy agar menyerahkan wilayah tersebut. Zelenskyy telah beberapa kali menolak. Apabila setuju, dia sama saja melakukan bunuh diri politik dengan melakukan pengkhianatan tingkat tinggi.

Para pejabat Ukraina juga kaget atas proposal AS, contohnya Oleksandr Merezhko dari Partai Pelayan Rakyat (SN). Sekalipun ada anggota parlemen Ukraina yang mempertimbangkan gagasan itu, akan terjadi perdebatan hukum yang berlarut-larut. Penyerahan Crimea membutuhkan perubahan konstitusi Ukraina dan pemungutan suara nasional.

”Itulah sebabnya Rusia mendorongnya karena mereka tahu itu tidak mungkin dicapai. Apa pun yang terkait dengan perubahan konstitusional memberi banyak ruang kebijakan dan komunikasi publik bagi Rusia. Hanya ini yang mereka inginkan,” tutur Tymofiy Mylovanov, Presiden Sekolah Ekonomi Kyiv.

In this photo provided by the Ukrainian Presidential Press Office, Ukraine's President Volodymyr Zelenskyy, right, and President Donald Trump, talk as they attend the funeral of Pope Francis in Vatican, Saturday, April 26, 2025.(Ukrainian Presidential Press Office via AP)

Tidak seperti konsesi teritorial, penyerahan formal akan melepaskan Crimea secara permanen. Harapan Ukraina untuk merebut kembali di masa depan akan pupus.

Jajak pendapat menunjukkan, masyarakat Ukraina umumnya memahami wilayah itu harus menjadi bagian dari gencatan senjata. Sebab, tidak ada cara untuk merebutnya kembali secara militer. Namun, publik beranggapan konsesi itu tidak permanen.

Selain itu, penyerahan permanen bukan langkah yang populer. Warga Ukraina yang tinggal di bawah pendudukan Rusia berharap untuk bebas atau bersatu kembali dengan keluarga suatu hari nanti. Pengorbanan nyawa puluhan ribu militer jadi sia-sia.

Tentara Korut

Di tengah ketidakpastian tersebut, Korea Utara mengonfirmasi telah mengirim pasukan ke Rusia, Senin (28/4/2025). Kantor berita KCNA melaporkan, pasukan itu membantu Moskwa merebut kembali wilayah Kursk yang sempat dikuasai Ukraina lewat serangan mendadak, tahun lalu.

Komisi Militer Pusat Korea Utara mengatakan, pengiriman tentara itu berdasarkan perjanjian pertahanan bersama yang ditandatangani oleh Pemimpin Korut Kim Jong Un dan Putin pada Juni 2024. Kedua negara wajib memberi bantuan militer segera jika salah satu diserang.

”Pengerahan pasukan itu membebaskan wilayah Kursk bekerja sama dengan angkatan bersenjata Rusia. Mereka yang berjuang demi keadilan semuanya adalah pahlawan dan perwakilan kehormatan Tanah Air,” kata Kim Jong Un.

Pernyataan Korut tidak menyebutkan berapa banyak pasukan yang dikirim atau tewas. Kim hanya berjanji akan membuat monumen peringatan bagi prajurit yang gugur dan lebih memperhatikan keluarga dari prajurit yang ikut berperang.

Pasukan Korea Utara berpartisipasi dalam pawai peringatan di alun-alun Rumah Kebudayaan April 25 di Pyongyang, Korut, Jumat (25/5/2025). Pawai ini menandai ulang tahun ke-93 Tentara Revolusioner Rakyat Korea.

Moskwa turut mengafirmasi pernyataan Korut untuk kali pertama. Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia Valery Gerasimov memuji ”kepahlawanan” tentara Korut dalam kampanye Kursk.

Badan intelijen Korea Selatan, AS, dan Ukraina telah lama melaporkan, Korut mengirim 10.000-12.000 tentara untuk Rusia musim gugur lalu. Pengiriman ini merupakan partisipasi pertama Pyongyang dalam konflik bersenjata besar sejak berakhirnya Perang Korea 1950-1953.

Pada Maret 2025, militer Korsel mengatakan, sekitar 4.000 tentara Korut terluka atau tewas dalam perang Ukraina-Rusia. Korsel juga menduga, Korut mengirim sekitar 3.000 pasukan tambahan ke Rusia, awal 2025.

Sejauh ini, Zelenskyy membantah Ukraina telah mundur dari Kursk karena telah direbut kembali Rusia. Jika terkonfirmasi, kemenangan Rusia di Kursk akan menghilangkan pengaruh utama Ukraina dalam negosiasi kesepakatan damai. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto