Witkoff dan Putin sepakat Ukraina dan Rusia harus bertemu langsung. Akan tetapi, Ukraina tidak menginginkan kapitulasi.
26 Apr 2025 10:15 WIB · Internasional
ROMA, SABTU - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, titik perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina semakin dekat. Meskipun begitu, ia bersikeras bahwa Semenanjung Crimea tidak akan dikembalikan ke Ukraina.
Trump mencuit di platform Truth Social pada Sabtu (26/4/2025). Ia sedang berada di Roma, Italia untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus.
Menurut Trump, Rusia dan Ukraina semakin dekat ke perjanjian perdamaian. Kedua belah pihak harus melakukan pertemuan tingkat tinggi untuk menyelesaikannya.
"Mayoritas poin besar sudah disetujui. Hentikan pertumpahan darah SEKARANG," cuit Trump.
Ia mengatakan, AS akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk memfasilitasi penyelesaian perang. Konflik terbuka antara Rusia dan Ukraina pecah sejak 24 Februari 2022, ketika Rusia menginvasi Ukraina gara-gara Kyiv mengatakan minat bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ukraina juga menerima sejumlah pasukan NATO di wilayah yang berbatasan dengan Rusia.
Berbeda dengan Presiden AS sebelumnya, Joe Biden yang membela Ukraina, Trump justru menyalahkan Kyiv. Ia menuduh salah sendiri Kyiv bermain api dengan hendak bergabung NATO. Berbagai tawaran yang diusulkan Trump pun condong membela Presiden Rusia Vladimir Putin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/b2ba7bc9-8692-4253-bd3a-ab57ce4fbbef_jpg.jpg)
Namun, Trump menunjukkan kekesalan terhadap Putin ketika Rusia menyerang Kyiv Kamis lalu dan menewaskan 12 orang. "Vladimir, BERHENTI! Setiap hari, 5.000 tentara dikorbakan. Ini sia-sia. Ayo kita tuntaskan perjanjian damai" cuit Trump.
Meskipun mendorong penyelesaian perang, Trump meyakini bahwa Semenanjung Crimea tidak akan dikembalikan ke Ukraina. Wilayah ini dicaplok Rusia pada 2014 dengan dalih mayoritas masyarakatnya beretnis dan berbahasa Rusia.
Pemikiran itu ia ungkapkan di dalam wawancara dengan majalah Time, Jumat (25/4). "Crimea tetap bersama Rusia. (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskyy memahami fakta ini," kata Trump.
Menurut Trump, sejak 2014, Ukraina tidak menampakkan tanda-tanda perlawanan ketika Crimea diambil oleh Rusia. Oleh sebab itu, berdasarkan logika Trump, tidak masuk akal Kyiv tiba-tiba meminta Crimea dikembalikan.
"Crimea tetap bagian Ukraina dan tidak akan ada tembakan yang dilepaskan," kata Trump.
Ia juga mengeluhkan Zelenskyy yang telat tiga pekan menandatangani perjanjian logam tanah jarang. Sebagai bagian dari penjaga perdamaian, AS meminta semua kuota eksploitasi logam tanah jarang Ukraina. Menurut kesepakatan Washington DC dan Kyiv, semestinya perjanjian ditandatangani per 26 April 2025.
Zelenskyy menanggapi bahwa memberi Crimea kepada Rusia tidak sesuai dengan amanat Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Berdasarkan data PBB, Crimea adalah wilayah sah Ukraina. Satu negara tidak bisa mencaplok wilayah negara lain seenaknya.
Sementara itu, kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan, Witkoff dan Putin bertemu di Istana Kremlin, Moskwa selama tiga jam. Keduanya terlihat semringah. Ini adalah pertemuan keempat Witkoff dan Putin dalam dua bulan terakhir.
Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin, Yuri Ushakov menyebut pertemuan itu konstruktif dan bermanfaat. Fokusnya adalah prospek perdamaian dengan Ukraina dan kemungkinan komunikasi langsung Moskwa dengan Kyiv.
"Rusia selalu terbuka untuk berdialog. Akan tetapi, Zelenskyy harus mencabut dekrit yang melarang komunikasi langsung Ukraina dengan Rusia," ujarnya.
Sebaliknya, negara-negara Eropa, terutama Eropa Barat, menuduh bahwa Rusia lah yang menunda-nunda perjanjian damai. Putin berusaha mencaplok wilayah Ukraina sebanyak-banyaknya. Saat ini, selain Crimea, pasukan Rusia menduduki Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kharkiv.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/9df81e57-ef89-4182-bf18-4a83e94ac72f_jpg.jpg)
Eropa juga menilai, Trump tergesa-gesa menyelesaikan perang ini sehingga tidak berkeadilan. Cara yang dipilih Trump menekan Ukraina. Bagi Eropa, ini membangkitkan trauma Perang Dunia II.
Pada 1937, Nazi Jerman mencaplok Sudetenland dari Slowakia. Sebagai penyelesaian perang disetujui bahwa Sudetenland tetap di bawah Nazi Jerman dan tidak dikembalikan ke Slowakia.
Bukannya perdamaian jangka panjang, pada 1939, kapitulasi itu membuka jalan bagi Nazi Jerman menginvasi Polandia. Ini yang membuka Perang Dunia II dan Eropa khawatir kapitulasi untuk Rusia akan berakhir perang serupa di masa depan.
Menurut bocoran beberapa pejabat Gedung Putih kepada kantor berita Associated Press, Trump terburu-buru menyelesaikan Perang Ukraina karena merupakan janji kampanyenya di pemilihan umum 2024. Sejatinya, Trump tidak berminat mengurus isu internasional.
Para pejabat yang meminta namanya dirahasiakan itu menuturkan, Trump ingin menghentikan semua bantuan AS untuk Ukraina. Perjanjian damai ini menjadi pintu masuknya karena jika Zelenskyy tidak setuju atau menolak, menjadi alasan bagi Trump berhenti menolong Ukraina. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari