SEPAK BOLA

Cristiano Ronaldo, Mengejar Trofi Piala Dunia Melalui ”Tarian Terakhir”

Timnas Portugal sangat menyatu demi membantu Cristiano Ronaldo meraih trofi Piala Dunia. Banyak rekor anyar bisa dipecahkan Ronaldo di Amerika Utara.

02 Jun 2026 17:50 WIB · Olahraga

AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA

Oleh muhammad ikhsan mahar

Hanya berjarak sembilan hari dari persembahan gelar Liga Arab Saudi untuk Al-Nassr, Ronaldo sudah mengalihkan fokus akbar untuk timnas Portugal. Mulai Senin (1/6/2026), ia telah bergabung dengan skuad ”Selecao das Quinas” untuk memburu trofi tertinggi dalam sepak bola, Piala Dunia.

Panggung termegah sepak bola dunia bersiap menyaksikan babak penutup dari salah satu saga karier terbesar sepanjang masa. Di bawah langit Amerika Utara, Ronaldo tidak sekadar datang untuk bermain dan memburu kejayaan, ia hadir untuk menantang batas kemustahilan manusia.

Ketika Piala Dunia 2026 dimulai pada 11 Juni 2026 waktu setempat, usia Ronaldo menginjak 41 tahun dan 127 hari. Bagi mayoritas pemain seusianya, gantung sepatu adalah pilihan realistis. Melepaskan diri dari sepak bola dan menekuni hobi baru, seperti bermain golf dan padel, menjadi pilihan yang lazim.

Namun, ”CR7” masih segar dan berdiri kokoh sebagai pemikul ban kapten timnas Portugal di Piala Dunia edisi ke-23. Harapan juga beban Portugal berada di pundaknya.

Bagi Ronaldo, Piala Dunia edisi ini ibarat puncak dari perjalanan dua dekade yang penuh komitmen tinggi, keringat, dan air mata. Ia berpeluang menjadi pemain pertama yang tampil dan mencetak gol pada enam edisi Piala Dunia yang berbeda.

Namun, torehan individu tak lagi menjadi bahan bakar utama yang membakar semangat sang megabintang. Kehilangan trofi ini di masa lalu, terutama kepedihan yang terlihat jelas di Qatar empat tahun silam, menjadi luka yang ingin ia sembuhkan secara tuntas.

Quote

Saya tidak lagi bermain untuk membuktikan apa pun kepada dunia atau mengejar statistik individu. Semua itu sudah ada di buku sejarah.

Berbeda dengan Qatar 2022 yang diselimuti konflik dengan Manchester United, Ronaldo datang ke Benua Amerika dengan semringah berkat raihan gelar liga bersama Al-Nassr.

Ronaldo tahu persis apa arti turnamen ini bagi legasinya. Sebuah trofi Piala Eropa dan dua gelar Liga Nasional Eropa untuk Selecao das Quinas sudah jauh lebih baik dari legenda Portugal terdahulu, seperti Eusebio dan Luis Figo, yang nihil prestasi bersama timnas. Namun, ia masih belum puas jika pensiun tanpa mempersembahkan trofi paling ikonik.

Foto siluet penyerang Portugal Cristiano Ronaldo saat sesi latihan bersama tim Portugal menjelang Piala Dunia 2026 di Cidade do Futebol, Oeiras, Portugal, Senin (1/6/2026).

”Saya tidak lagi bermain untuk membuktikan apa pun kepada dunia atau mengejar statistik individu. Semua itu sudah ada di buku sejarah,” ujar Cristiano Ronaldo dalam sesi wawancara jelang turnamen, seperti dilansir A Bola.

”Satu-satunya hal yang membuat saya terus bangun setiap pagi dan berlatih seperti seorang prajurit adalah impian melihat Portugal berada di puncak dunia. Saya bermain untuk negara saya, untuk rekan-rekan setim yang memercayai saya, dan untuk seluruh rakyat Portugal yang tidak pernah berhenti bermimpi bersama saya. Kami tahu jalan menuju ke sana akan sangat berat, tetapi ambisi kami tidak memiliki batas,” tuturnya.

Redefinisi fungsi

Ronaldo bukan lagi pemuda egois yang menuntut setiap aliran bola berpusat pada dirinya. Tangis ketika mengalami kekecewaan di lapangan bukan sekadar ego. Itu adalah kesadaran bahwa dirinya gagal melampaui batas diri yang bisa dilakukannya.

Di bawah arahan taktis Pelatih Portugal Roberto Martinez, peran Ronaldo di dalam tim telah mengalami redefinisi fungsi yang sangat signifikan. Martinez menyadari bahwa menuntut pemain berusia 41 tahun untuk melakukan pressing intensif sepanjang 90 menit dan mengejar bola liar ke ujung lapangan adalah sebuah keputusan yang tidak realistis.

Tak ayal, Ronaldo kini diplot sebagai seorang spesialis murni di dalam kotak penalti. Sosok nomor sembilan klasik yang haus gol.

Dengan kedalaman skuad Portugal yang kini dihuni talenta kreatif melimpah, di antaranya Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Joao Cancelo, dan Nuno Mendes, Ronaldo bertindak sebagai muara dari tujuan taktik Portugal.

Tugasnya kini lebih spesifik dan sejatinya tidak mudah. Ia diharapkan mampu membaca celah di antara bek lawan, melakukan pergerakan yang mengecoh, serta mengeksekusi peluang sekecil apa pun dengan akurasi absolutnya.

Para pemain Portugal, termasuk Cristiano Ronaldo, mengikuti sesi latihan menjelang Piala Dunia 2026 di Cidade do Futebol, Oeiras, Portugal, Senin (1/6/2026).

Kehadirannya di lapangan juga memberikan dampak psikologis yang masif. Meskipun sudah berusia kepala empat, Ronaldo efektif menarik perhatian dua hingga tiga pemain bertahan lawan. Pemain lawan langsung mengaktifkan mode waspada ketika Ronaldo menguasai bola.

Perubahan taktis ini membuat peran Ronaldo bak seorang jenderal pembuat keputusan akhir. Tidak sekadar gol, ia membantu rekan setimnya membuka ruang di sepertiga akhir pertahanan lawan. Itu telah dilakukannya pada final Liga Nasional Eropa 2024-2025 kontra Spanyol, Juni tahun lalu.

”Saya telah bekerja dengan pemain yang sudah memenangi Liga Champions atau Ballon d’Or, lalu di hari berikutnya mereka kehilangan semangat. Berbeda dengan Ronaldo. Ia ialah teladan dari mentalitas yang ganjil,” ucap Martinez kepada radio Portugal, Cadena Ser.

Potensi limpahan rekor

Sembari mengawal target kolektif negaranya melintasi hadangan fase grup, sang kapten berada di ambang pembongkaran deretan rekor elite jagat sepak bola yang sulit ditandingi generasi masa depan.

Begitu ia menapakkan kaki di lapangan hijau pada laga perdana melawan Republik Demokratik Kongo, 18 Juni nanti, Ronaldo akan menobatkan diri sebagai manusia pertama dalam sejarah yang mampu berkompetisi di enam edisi Piala Dunia yang berbeda sejak debutnya pada 2006.

Catatan monumental ini berpotensi kian tajam karena ia juga berpeluang memperpanjang rekor dunianya sendiri sebagai satu-satunya pemain yang mencetak gol di enam edisi beruntun.

Sebuah konsistensi luar biasa yang tidak bisa disamai oleh sang rival abadi, Lionel Messi. Kapten Argentina itu tidak mencetak gol pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

Nassr's Portuguese forward #07 Cristiano Ronaldo poses with the trophy after winning the Saudi Pro League title at the end of the football match against Damac at the Al-Awwal Park Stadium in Riyadh on May 21, 2026. (Photo by Fayez NURELDINE / AFP)

Ketajaman Ronaldo di usia kepala empat ini tidak hanya menantang logika fisik, tetapi juga rekor-rekor usia yang selama ini dipegang para legenda terdahulu. Jika ia mampu mengoyak jala gawang lawan di fase gugur nanti, Ronaldo akan resmi melampaui mantan rekan setimnya, Pepe, sebagai pencetak gol tertua di babak gugur Piala Dunia.

Tidak berhenti di situ, motivasinya juga dipastikan membara karena ia membutuhkan satu gol untuk menyamai dan dua gol untuk melewati torehan sembilan gol milik sang legenda, Eusébio, sekaligus menahbiskan dirinya sebagai top skor abadi Portugal khusus di panggung Piala Dunia. ”Si Panther”, sebutan Eusebio, mencetak sembilan gol di ajang Piala Dunia.

Puncak dari segala dongeng rekor ini tentu saja ada pada trofi emas 18 karat. Jika racikan strategi Roberto Martinez berhasil membawa armada Selecao das Quinas melaju hingga ke podium tertinggi, Ronaldo akan menutup karier internasionalnya dengan memecahkan rekor kiper legendaris Italia, Dino Zoff, sebagai pemain tertua yang pernah menjuarai Piala Dunia.

Rentetan potensi rekor magis dan perubahan peran ini pada akhirnya justru melahirkan rasa hormat serta loyalitas yang luar biasa dari ruang ganti Portugal. Alih-alih merasa terbebani oleh bayang-bayang nama besar sang kapten, para pemain muda Portugal justru menjadikannya sebagai sumber inspirasi tertinggi.

Ketika menuju Piala Dunia 2026, ada sebuah sumpah tidak tertulis di antara para pemain Portugal. Mereka siap berlari, bertarung, dan menguras sisa energi mereka di lapangan demi melindungi dan melayani Ronaldo di lini depan. Legenda yang menemani mereka tumbuh besar hingga bermimpi menjadi pesepak bola.

Gelandang Portugal, Vitinha, mengungkapkan betapa besarnya pengaruh psikologis Ronaldo di dalam skuad saat ini.

”Kami semua memiliki satu tujuan yang sama di sini. Kami ingin memenangi turnamen ini bersama dirinya dan, jujur saja, kami juga ingin memenanginya untuk dirinya sebagai bentuk penghormatan atas semua yang telah ia berikan kepada sepak bola kami,” tutur Vitinha yang datang ke Amerika Utara dengan bekal trofi Liga Champions beruntun bersama Paris Saint-Germain.

Portugal's Cristiano Ronaldo lifts the trophy after winning the Nations League soccer championship at the Allianz Arena in Munich, Germany, Sunday, June 8, 2025. (AP Photo/Martin Meissner)

Vitinha bersama Bruno Fernandes dan João Neves akan menyajikan trio lini tengah yang membuat lawan cemas sebelum sepak mula. Republik Demokratik Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia menjadi lawan Portugal di fase grup.

Tiga lawan. Tiga benua. Tiga karakter berbeda yang amat penting bagi Selecao das Quinas untuk meramu kemampuan terbaik sebelum tampil di fase gugur yang penuh jebakan.

Mentalitas juara skuad Portugal telah terasah di level klub dan internasional. Produsen gim simulasi sepak bola yang tepat memprediksi kampiun empat edisi Piala Dunia sebelumnya, EA Sports, telah menyebut Portugal sebagai juara Piala Dunia 2026.

Namun, segalanya harus ditentukan di atas lapangan Amerika Utara yang lembap dan panas. Amerika, bersiaplah menggemakan ”siuuu” di tribune stadion yang menjadi arena laga Portugal….


Kerabat Kerja

Penulis:

muhammad ikhsan mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata