Selain bergantung cuaca, keberadaan pendaki pemula dinilai menjadi problem di Everest.
03 Jun 2025 09:03 WIB · Foto Cerita
Seiring dengan berakhirnya masa pendakian, ratusan anggota komunitas pendaki gunung Nepal mengadakan pawai dan atraksi-atraksi tradisional di Kathmandu. Ini juga merayakan 72 tahun keberhasilan mencapai puncak Gunung everest yang dilakukan warga Selandia Baru, Edmund Hillary, dan serpa Tenzing Norgay pada 29 Mei 1953.
”Kami merayakan tanggal 29 Mei sebagai Hari Sagarmatha (Everest) Internasional karena dunia perlu terus mengakui pencapaian dan kontribusi Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay,” kata Ang Tshering, pengelola Asian Trekking berbasis di Kathmandu.
Acara tersebut bukan hanya perayaan bagi komunitas pendaki gunung, melainkan juga festival bagi Nepal dan dunia, kata Tshering, yang telah membantu ratusan klien mendaki puncak Himalaya.
Nepal memiliki delapan puncak tertinggi di dunia dan setiap tahun ratusan pendaki asing terbang ke negara di Asia Selatan itu untuk menaklukkan pegunungan. Para pendaki menyewa ribuan orang di Nepal untuk membantu pendakian. Mereka membantu membawa perlengkapan, memasak makanan, dan merawat mereka selama berminggu-minggu di pegunungan.
Pemerintah Nepal mendapatkan pemasukan dengan mengumpulkan uang dari para pendaki melalui biaya izin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/b7364632-a783-409c-af68-3fa09346518c_jpg.jpg)
Akhir Mei menandai berakhirnya musim pendakian gunung di musim semi. Sebagian besar pendakian Everest dan puncak Himalaya dilakukan pada April dan Mei saat kondisi cuaca paling mendukung.
”Hari ini juga dirayakan untuk menandai berakhirnya musim pendakian di mana kami mengumpulkan para pendaki dan komunitas,” kata Jiban Ghimire dari Shangri-La Nepal Trek.
Menurut Departemen Pendakian Gunung Nepal, 468 pendaki asing dari 57 negara menerima izin untuk mendaki Everest pada akhir Mei bersama dengan jumlah pemandu gunung Nepal yang hampir sama.
Banyak yang berhasil mendaki puncak, tetapi para pejabat masih berupaya memverifikasi berapa banyak yang mencapai puncak setinggi 8.849 meter (29.032 kaki). Para pendaki harus melapor ke departemen dengan bukti bahwa mereka telah mencapai puncak dan membersihkan sampah mereka sebelum mereka diberikan sertifikat resmi.
Ratusan pendaki dan serpa mendaki Gunung Everest bulan ini di Nepal, berjuang melawan cuaca buruk untuk mencapai puncak gunung tertinggi di dunia sebelum musim pendakian berakhir.
Tercatat, sejumlah pendaki berhasil mencapai puncak pada pertengahan Mei, tetapi kondisi cuaca yang sempat memburuk selama berhari-hari menyebabkan banyak pendaki terpaksa mundur ke basecamp, termasuk serpa Kami Rita, yang berusaha memecahkan rekornya sendiri dengan mendaki puncak untuk ke-31 kalinya.
Rita akhirnya berhasil mendaki puncak setinggi 8.849 meter (29.032 kaki) pada 27 Mei, tetapi beberapa pendaki tidak seberuntung itu.
Rute menuju puncak dilengkapi dengan tangga dan tali, tetapi tali-tali tersebut dilepas pada akhir Mei, yang menandai berakhirnya musim pendakian sebelum musim hujan. Pada musim hujan ini biasanya akan terjadi hujan lebat dan cuaca buruk.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/ed722d87-71a6-4ffa-a0cc-2240a01ad4a2_jpg.jpg)
Menurut Departemen Pendakian Gunung Nepal, 468 pendaki asing dari 57 negara diberi izin untuk mendaki Everest pada akhir Mei. Karena terbatasnya waktu cuaca baik di dekat puncak, banyak pendaki berbaris, terikat pada satu tali pengaman, yang dikenal sebagai ”kemacetan lalu lintas Everest”.
”Secara keseluruhan, cuaca adalah kunci pendakian di Everest. Situasinya terkadang tidak sama dengan perkiraan cuaca. Dan kedua, tempat itu ramai karena baik pendaki profesional maupun pemula berada di sana pada waktu yang sama,” kata serpa Pasang Rinji menambahkan bahwa pergerakannya lambat disebabkan beberapa pendaki pemula yang kurang berpengalaman. Pasang Rinji telah mendaki puncak tersebut dua kali tetapi terpaksa mundur kali ini karena ia sakit di gunung.
Ia mengatakan, ada banyak kasus flu dan ”batuk Khumbu”, yang dinamai menurut sebuah wilayah di Everest, yang menyerang pendaki di dataran tinggi. Beberapa pendaki dan pemandu terpaksa meninggalkan ketinggian atau menunda pendakian mereka, katanya.
”Saat ini ada pendaki pemula yang tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan dan para profesional pada saat yang sama, dan ini yang menjadi masalah,” katanya. ”Harus ada pengetahuan dasar bagi para pendaki untuk menggunakan perlengkapan dengan benar dan tetap aman saat mendaki Everest.”
Sementara dalam pertemuan dengan sekitar 100 pendaki dari seluruh dunia yang pernah berhasil mencapai puncak Everest, Menteri Pariwisata Nepal Badri Prasad Pandey mengatakan bahwa mereka memiliki ”kewajiban untuk melindungi” Himalaya dari risiko yang ditimbulkan perubahan iklim dan meningkatnya jumlah pendaki yang berusaha mendaki puncak-puncak gunung di kawasan itu, khususnya Everest.
Pemerintah Nepal tahun lalu mendanai tim tentara dan serpa untuk membersihkan 11 ton sampah, empat mayat, dan kerangka dari Everest selama musim pendakian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/48263b1e-5c93-4e54-99f8-a8fa8055282c_jpg.jpg)
Nepal tidak memiliki aturan tentang berapa hari yang harus dihabiskan pendaki untuk menyesuaikan diri atau melakukan latihan pendakian. Izin untuk mendaki Everest, yang masing-masing seharga 11,000 dollar Amerika Serikat berlaku selama 90 hari. Musim pendakian biasanya berakhir pada akhir Mei.
Sejak ditaklukkan pada tahun 1953 oleh Edmund Hillary dari Selandia Baru dan serpanya, Tenzing Norgay, Gunung everest telah didaki ribuan kali dan setiap tahun ratusan orang lainnya berusaha mencapai puncaknya.
Kepopuleran tantangan ini membuat para pendaki menghadapi risiko yang lebih besar karena antrean panjang di rute menuju puncak berkejaran dengan waktu dan cuaca baik yang berlangsung singkat. Biasanya antrean ini terjadi karena jalur sempit menuju puncak yang mengharuskan pendaki melalui punggung bukit yang licin dan lereng curam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/05/28/9a3a6f3c-ee17-4967-a8c9-1f14b41220bb_png.jpg)
Ini diperparah dengan tingkat pengalaman beberapa pendaki, yang menempatkan diri mereka pada risiko serta membuat pendakian menjadi berbahaya bagi orang lain.
”Masalah dan kekhawatiran terbesar saat ini adalah kepadatan pendaki,” kata Adriana Brownlee, wanita termuda yang mendaki 14 puncak tertinggi di dunia. ”Kita perlu memastikan bahwa mereka (orang-orang di gunung) semuanya berpengalaman dalam dunia pendakian gunung. Jadi jika mereka kesulitan (atau) mereka sendirian dan sesuatu terjadi, mereka tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.”
Pendaki Nepal Purnima Shrestha mengatakan, upaya untuk mendaki Gunung Everest telah menjadi terlalu komersial. ”Tetapi tidak semua orang di sana siap secara fisik dan emosional untuk mendaki puncak, itu tidak menghormati Everest,” katanya. ”Inilah alasan mengapa ada banyak kemacetan lalu lintas dalam perjalanan menuju puncak.” (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari