Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat menyebut wilayah selatan Jawa Barat memiliki tingkat kerawanan tertinggi bencana hidrometeorologi pada akhir tahun.
05 Nov 2025 18:46 WIB · Lingkungan
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA
BANDUNG, KOMPAS — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi di wilayah selatan Jawa Barat. Dari hasil pemetaan jumlah kejadian, tingkat kerawanan kawasan ini tertinggi dalam kondisi cuaca ekstrem.
Pranata Humas Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Hadi Rahmat Hardjasasmita, di Bandung, Rabu (5/11/2025), memaparkan, sebagian besar daerah rawan bencana berada di wilayah selatan, seperti Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Garut. Selain itu, Kabupaten Bogor juga termasuk daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Dari data BPBD Jabar pada 1-5 November, sudah terjadi 30 kejadian bencana alam. Sebanyak 6.658 warga terdampak dan 172 rumah rusak.
Intensitas bencana di sejumlah daerah dalam rentang waktu itu, antara lain, sebanyak 5 kejadian bencana alam di Bogor dan 3 kejadian bencana di Sukabumi. Bencana meliputi longsor, puting beliung, dan banjir.
”Daerah-daerah di selatan itu memiliki kondisi geografis yang kompleks dengan banyak perbukitan sehingga potensi terjadinya longsor dan banjir bandang cukup besar,” ujar Hadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/f160a086232c234c462a21621d1ef70c-IMG_20251105_181014.jpg)
Ia menuturkan, BPBD Jabar juga mencatat bahwa potensi banjir bandang masih sering muncul di daerah selatan, seperti Sukabumi, Cianjur, dan Garut, seiring curah hujan tinggi dan kondisi perbukitan yang rawan.
Daerah-daerah di selatan itu memiliki kondisi geografis yang kompleks dengan banyak perbukitan sehingga potensi terjadinya longsor dan banjir bandang cukup besar.
Untuk wilayah utara Jabar, lanjut Hadi, relatif lebih aman dari longsor karena didominasi dataran rendah. Namun, potensi banjir dan genangan tetap perlu diwaspadai, terutama di kawasan Bandung Raya.
”Untuk wilayah utara, potensi bencananya lebih ke banjir. Biasanya genangan tidak terlalu lama, tapi persoalan drainase masih menjadi tantangan utama,” kata Hadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/44215b1684d81b1c4fee6e8d435bb2d3-IMG_20251105_092520.jpg)
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Kepolisian Daerah Jawa Barat menggelar Apel Gelar Pasukan Siap Tanggap Bencana Tahun 2025 di halaman Gedung Sate, Kantor Gubernur Jabar, Rabu ini. Kegiatan tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di Jabar saat musim hujan.
Kepala Polda Jabar Inspektur Jenderal Rudi Setiawan menuturkan, apel kesiapsiagaan ini penting dilakukan mengingat frekuensi bencana di Jabar terus meningkat. Sejak Januari hingga awal November 2025, tercatat lebih dari 1.500 kejadian bencana di 27 kabupaten dan kota.
”Data di Jawa Barat terakhir ini sudah ada 30 kejadian pada bulan November. Karena itu, kita perlu serius dan memastikan kesiapan seluruh pihak di Jawa Barat untuk menolong warga terdampak bencana,” ucap Rudi.
Ia menegaskan, Polda Jabar menyiagakan sekitar 2.500 personel gabungan dari unsur Polri, TNI, BPBD, sukarelawan, dan berbagai instansi pemerintahan. Selain penanganan sebelum dan saat bencana, kesiapan personel juga mencakup pemulihan pascabencana, termasuk pelayanan trauma healing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/31b0f1ccf8800e2bc0d7ca5aad4999e6-IMG_20251105_130347.jpg)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menegaskan bahwa apel kesiapsiagaan menjadi momentum evaluasi untuk memperbaiki berbagai kekurangan dalam penanganan bencana di lapangan, terutama aksesibilitas dan dukungan logistik.
”Biasanya, saat terjadi bencana, jalan dan infrastruktur rusak sehingga akses transportasi sulit. Karena itu, saya sudah minta disiapkan ambulans dan kendaraan khusus medan berat dengan perlengkapan medis agar bisa menjangkau daerah terpencil,” kata Dedi.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul