Faktor Cuaca Ganggu Produksi Padi, Harga Beras di Pasaran Naik

Produksi padi petani di sejumlah daerah terganggu akibat cuaca tidak menentu. Produksi padi yang turun pun turut memicu kenaikan harga beras di pasaran.

23 Jul 2025 13:13 WIB · Nasional

Oleh Dahlia Irawati

MALANG, KOMPAS — Cuaca yang tidak menentu membuat produksi padi petani di sejumlah daerah terganggu. Hal itu berdampak pada harga beras di pasaran yang merangkak naik.

Kondisi itu seperti terjadi di Jawa Timur. Setiap hari, rata-rata di di provinsi penghasil beras itu terjadi peningkatan harga beras, meski nilainya kecil.

Pada Rabu (23/7/2025), harga beras medium rata-rata di Jatim sekitar Rp 13.015 per kilogram (kg). Sehari sebelumnya, harganya masih Rp 12.945 per kg. Adapun harga beras premium Rp 14.974 per kg. Sebelumnya, harga beras premium masih Rp 14.957 per kg.

Di satu sisi, kenaikan harga beras ini turut dirasakan oleh petani. Ali Masyudi, pengurus KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Malang, Rabu, mengatakan, kenaikan harga beras di pasaran juga dirasakan petani di wilayahnya.

”Saat ini harga jual gabah di tingkat petani Rp 7.000-Rp 7.200 per kilogram. Ini lebih tinggi dibandingkan harga dari pemerintah, yaitu Rp 6.500 per kg. Harga beras di tingkat selep (penggilingan padi) pun Rp 13.500-13.700 per kg,” katanya.

Petani naik sepeda untuk mengecek tanaman padi di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (26/6/2025). Saat ini, di Jawa Barat, harga gabah kering panen (GKP) petani terendah Rp 6.900 per kg dan tertinggi Rp 7.200 per kg. Kenaikan harga GKP petani itu berpengaruh terhadap harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan. Harga GKG terendah Rp 7.700 per kg dan tertinggi Rp 8.100 per kg.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
26-6-2025

Dengan kondisi tersebut, Ali mengakui, petani saat ini menikmati keuntungan atas kenaikan harga tersebut.

”Perlu dipertimbangkan juga kondisi cuaca yang tidak mendukung. Ada yang produksi padinya menurun. Namun, secara umum produksi padi di Malang baik karena jumlah air masih bisa memenuhi kebutuhan,” kata Ali.

Meski demikian, tidak semua petani bisa menikmati kenaikan harga tersebut. Muhammad Cahyono (30), Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Subur Makmur Desa Wajak, Kabupaten Malang, mengatakan, kenaikan harga beras di pasaran tidak selalu berdampak langsung pada petani.

Saat ini yang paling dirasakan dampaknya oleh petani di Wajak ialah kondisi cuaca yang tidak menentu. Hal itu membuat hasil panen petani menurun.

Pekerja menambah. stok beras di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (9/6/2025). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi beras dunia pada 2025/2026 diperkirakan sebanyak 551,5 juta ton. Produksi beras tersebut naik 4,9 juta ton dari produksi 2024/2025 mencapai 546,6 juta ton. Kendati produksi beras berlimpah, harga beras dunia justru kembai naik. Tarif resiprokal Amerika Serikat dan krisis beras di Jepang menjadi biang keladinya.

”Kenaikan harga beras di pasaran tidak berdampak langsung pada kami selaku petani. Sebab, penentu harga gabah itu adalah pengepul, jadi kami mengikuti saja naik turunnya harga. Bahkan, saat ini, harga beli ke petani cenderung turun,” kata Cahyono.

Menurut Cahyono, sejak awal Juli 2025, harga beli gabah ke petani cenderung turun. ”Sebelumnya, harga gabah di tingkat petani bisa Rp 7.400 per kg. Tapi, pada awal Juli, sejak keluar patokan harga dari kementerian, harga gabah maksimal Rp 6.500 per kg,” katanya.

Cahyono mengatakan, hal paling dirasakan petani justru kondisi kemarau basah yang saat ini terjadi. ”Harusnya mulai bulan kemarin sudah musim kering, tapi ini masih kemarau basah. Dampaknya, produktivitas padi menurun. Jika biasanya per hektar bisa dapat 8 ton, sekarang hasilnya 6-7 ton,” katanya.

Buruh tani dalam panen padi di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (26/6/2025). Saat ini, di Jawa Barat, harga gabah kering panen (GKP) petani terendah Rp 6.900 per kg dan tertinggi Rp 7.200 per kg. Kenaikan harga GKP petani itu berpengaruh terhadap harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan. Harga GKG terendah Rp 7.700 per kg dan tertinggi Rp 8.100 per kg.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
26-6-2025

Petani lainnya di Genteng, Banyuwangi, Rozy Khadafi (31), mengatakan, saat ini lahan padinya belum panen. Musim panen di wilayahnya tiba pada Agustus 2025. ”Saat ini kami belum panen sehingga belum tahu harga terbaru seperti apa. Tapi, kalau patokannya harga musim lalu, harga gabah petani sekitar Rp 5.500-Rp 6.000 per kg,” katanya.

Namun, justru bukan persoalan harga jual yang menjadi pikiran Rozy saat ini. ”Yang menjadi kendala kami saat ini adalah cuaca yang tidak menentu sehingga menyebabkan produksi padi tidak maksimal. Saya harus menambah pupuk agar tanaman bisa berkembang baik,” kata Rozy.

Jika per hektar biasanya ia butuh pupuk 1 kuintal, saat ini Rozy harus menambah pupuk 0,5 kuintal lagi agar tanaman tumbuh bagus. ”Hal ini tentu menambah ongkos produksi. Namun, semoga saja nanti saat panen harganya juga bagus,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dahlia Irawati
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto