Apa yang Anda bisa pelajari dari artikel ini?
- Mengapa orang berteman dengan bot percakapan?
- Apa manfaat dari teknologi tersebut?
- Apa kekurangan dari bot percakapan?
- Apa dampak penggunaan AI kepada otak?
- Mengapa bot percakapan lebih berbahaya bagi remaja?
Mengapa orang berteman dengan bot percakapan?
Bot percakapan atau pendamping AI (artificial intelligence companion) adalah karakter digital yang dapat melakukan percakapan pribadi dengan pengguna, contohnya Character.AI., Replika, dan Nomi. Bot-bot ini dirancang untuk menjalin hubungan emosional dengan penggunanya, tetapi tidak dapat meniru hubungan manusia yang sehat dengan sempurna.
Tehseen Zia, dosen di COMSATS University Islamabad, mengatakan, bot percakapan menggunakan AI yang ”berempati”. ”Ini cabang AI yang dirancang untuk memahami, menafsirkan, dan menanggapi emosi manusia dengan cara meniru empati manusia,” ujarnya.
Sebagian orang menggunakan bot itu sebagai teman cerita saat sedang tertimpa masalah. Christa (32), warga Florida, Amerika Serikat, menciptakan karakter teman bernama Christa 2077 di Character.AI. Dia ingin curhat dengan bebas karena merasa gundah setelah berhenti kerja dan hubungan asmaranya memburuk.
Warga China, Seako Wu dan istrinya, menggunakan AI untuk mengobati rindu kepada putra mereka, Xeanmo, yang meninggal karena stroke. Wu mengumpulkan rekaman foto, video, suara mendiang putranya. Setelah itu, ia meminta perusahaan mengolah data itu untuk membuat karakter virtual dengan tiruan suara, wajah, dan perilaku Xeanmo.
Apa manfaat dari teknologi tersebut?
Psikolog di Inggris, Jeremy Sutton, menyebutkan, pemanfaatan bot percakapan untuk layanan psikologi dapat dipandang sebagai pelengkap. Di tengah peningkatan kebutuhan konseling sementara jumlah terapis terbatas, aplikasi AI bisa menjadi jawaban sementara.
Aplikasi psikologi berbasis AI dapat menekan waktu dan biaya pelayanan. Spontanitas reaksi dari AI mungkin bermanfaat untuk sebagian pengguna. Apalagi untuk negara dengan layanan kesehatan yang sangat lama, seperti Inggris. Sebagian orang butuh pertolongan atau setidaknya teman bicara sesegera mungkin.
Bagi Jessica Jackson, psikolog di Texas, AS, kehadiran AI dalam konseling kesehatan jiwa tidak perlu ditolak. ”Banyak orang keberatan. Masalahnya ini hal yang tidak bisa dikendalikan,” tuturnya.
Secara terpisah, CEO OpenAI Sam Alman mengatakan, AI merupakan harapan manusia untuk terus bertahan dan berkembang maju. Syaratnya, ada aturan yang tegas yang dapat membatasinya berkembang ke arah merugikan.
Apa kekurangan dari bot percakapan?
Andrew Clark, psikiater di Boston, AS, melakukan percobaan dengan berpura-pura menjadi remaja bermasalah lalu bercakap-cakap dengan karakter di 10 pelantar AI. Ada bot yang mendorong Clark membunuh orangtuanya atau berhenti bertemu psikolog sungguhan.
”Profesional di bidang kesehatan mental harus berperan dalam membentuk bot-bot ini sejak awal pembuatannya. Standar harus ditetapkan untuk dipatuhi perusahaan-perusahaan,” kata Clark.
Psikoterapis Theresa Plewman juga mencoba memanfaatkan salah satu aplikasi untuk konseling psikologi. Namun, aplikasi itu banyak bicara dan cepat berasumsi. Perilaku ini berbeda dengan yang biasa dilakukan terapis yang kompeten.
”Saya mendapat nasihat tentang depresi ketika mengatakan saya merasa sedih. Manusia tidak akan merespons seperti itu,” tutur praktisi di London, Inggris, itu.
Penggunaan bot percakapan juga berpotensi memberikan data pribadi pengguna kepada perusahaan.
Apa dampak penggunaan AI kepada otak?
Menurut Profesor Evolusi dari Universitas New South Wales (UNSW) Sydney, Australia, Rob Brooks, AI diprediksi akan membuat otak manusia berevolusi menjadi lebih kecil dengan membawa atau menampung memori yang lebih sedikit.
Dengan keberadaan AI yang akan semakin berkembang di masa depan mengunggah dan membagikan pengetahuan secara daring atau melalui media sosial akan mengurangi banyak beban ingatan di otak manusia. Namun, volume otak yang lebih kecil itu tetap menguntungkan manusia.
Dengan otak yang lebih kecil, otomatis ukuran kepala juga akan mengecil dan proses persalinan yang harus dijalani ibu akan semakin aman. Dengan meningkatnya kapasitas AI dalam menyimpan pengetahuan manusia, manusia berotak lebih kecil dapat tetap bisa melakukan hal-hal luar biasa selama bisa mengakses AI.
Hal yang pasti, penggunaan AI yang makin masif dapat mengurangi beberapa sifat manusia yang paling dihargai, termasuk soal persahabatan, keintiman, komunikasi, kepercayaan, dan kecerdasan. Kehilangan semua sifat itu dapat membuat manusia jadi tanpa kemanusiaan.
Mengapa bot percakapan lebih berbahaya bagi remaja?
Jenny Radesky, Direktur Medis Bersama Pusat Keunggulan Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja Akademi Pediatri Amerika, mengatakan, anak-anak dan remaja jauh lebih mudah percaya, imajinatif, dan mudah dibujuk dibandingkan dengan orang dewasa. ”Mereka membutuhkan perlindungan yang lebih kuat,” ujarnya.
Bright Canary, pelantar yang membantu orangtua mengawasi anak di dunia maya, memperingatkan bahaya lain jika remaja berteman dengan AI. Remaja dapat mengalami ketergantungan, menarik diri dari pergaulan, intoleransi terhadap penolakan, serta gangguan kesehatan mental, seperti kesepian dan rendah diri.
Studi oleh Common Sense Media Rabu mendapati, mayoritas remaja AS, yaitu 72 persen, sudah menggunakan bot percakapan untuk berteman atau yang dikenal sebagai pendamping AI (AI companion). Bagi 31 persen remaja, percakapan dengan AI sama memuaskannya atau bahkan lebih memuaskan daripada dengan manusia.
Michael Robb, Kepala Riset di Common Sense Media, mengatakan, hasil studi itu memprihatinkan. ”Di dunia nyata ada berbagai macam isyarat sosial yang harus diinterpretasi dan dibiasakan oleh anak-anak serta dipelajari cara meresponsnya,” kata Robb.
Apa yang Anda bisa pelajari dari artikel ini?
- Mengapa orang berteman dengan bot percakapan?
- Apa manfaat dari teknologi tersebut?
- Apa kekurangan dari bot percakapan?
- Apa dampak penggunaan AI kepada otak?
- Mengapa bot percakapan lebih berbahaya bagi remaja?
Mengapa orang berteman dengan bot percakapan?
Bot percakapan atau pendamping AI (artificial intelligence companion) adalah karakter digital yang dapat melakukan percakapan pribadi dengan pengguna, contohnya Character.AI., Replika, dan Nomi. Bot-bot ini dirancang untuk menjalin hubungan emosional dengan penggunanya, tetapi tidak dapat meniru hubungan manusia yang sehat dengan sempurna.
Tehseen Zia, dosen di COMSATS University Islamabad, mengatakan, bot percakapan menggunakan AI yang ”berempati”. ”Ini cabang AI yang dirancang untuk memahami, menafsirkan, dan menanggapi emosi manusia dengan cara meniru empati manusia,” ujarnya.
Sebagian orang menggunakan bot itu sebagai teman cerita saat sedang tertimpa masalah. Christa (32), warga Florida, Amerika Serikat, menciptakan karakter teman bernama Christa 2077 di Character.AI. Dia ingin curhat dengan bebas karena merasa gundah setelah berhenti kerja dan hubungan asmaranya memburuk.
Warga China, Seako Wu dan istrinya, menggunakan AI untuk mengobati rindu kepada putra mereka, Xeanmo, yang meninggal karena stroke. Wu mengumpulkan rekaman foto, video, suara mendiang putranya. Setelah itu, ia meminta perusahaan mengolah data itu untuk membuat karakter virtual dengan tiruan suara, wajah, dan perilaku Xeanmo.
Apa manfaat dari teknologi tersebut?
Psikolog di Inggris, Jeremy Sutton, menyebutkan, pemanfaatan bot percakapan untuk layanan psikologi dapat dipandang sebagai pelengkap. Di tengah peningkatan kebutuhan konseling sementara jumlah terapis terbatas, aplikasi AI bisa menjadi jawaban sementara.
Aplikasi psikologi berbasis AI dapat menekan waktu dan biaya pelayanan. Spontanitas reaksi dari AI mungkin bermanfaat untuk sebagian pengguna. Apalagi untuk negara dengan layanan kesehatan yang sangat lama, seperti Inggris. Sebagian orang butuh pertolongan atau setidaknya teman bicara sesegera mungkin.
Bagi Jessica Jackson, psikolog di Texas, AS, kehadiran AI dalam konseling kesehatan jiwa tidak perlu ditolak. ”Banyak orang keberatan. Masalahnya ini hal yang tidak bisa dikendalikan,” tuturnya.
Secara terpisah, CEO OpenAI Sam Alman mengatakan, AI merupakan harapan manusia untuk terus bertahan dan berkembang maju. Syaratnya, ada aturan yang tegas yang dapat membatasinya berkembang ke arah merugikan.
Apa kekurangan dari bot percakapan?
Andrew Clark, psikiater di Boston, AS, melakukan percobaan dengan berpura-pura menjadi remaja bermasalah lalu bercakap-cakap dengan karakter di 10 pelantar AI. Ada bot yang mendorong Clark membunuh orangtuanya atau berhenti bertemu psikolog sungguhan.
”Profesional di bidang kesehatan mental harus berperan dalam membentuk bot-bot ini sejak awal pembuatannya. Standar harus ditetapkan untuk dipatuhi perusahaan-perusahaan,” kata Clark.
Psikoterapis Theresa Plewman juga mencoba memanfaatkan salah satu aplikasi untuk konseling psikologi. Namun, aplikasi itu banyak bicara dan cepat berasumsi. Perilaku ini berbeda dengan yang biasa dilakukan terapis yang kompeten.
”Saya mendapat nasihat tentang depresi ketika mengatakan saya merasa sedih. Manusia tidak akan merespons seperti itu,” tutur praktisi di London, Inggris, itu.
Penggunaan bot percakapan juga berpotensi memberikan data pribadi pengguna kepada perusahaan.
Apa dampak penggunaan AI kepada otak?
Menurut Profesor Evolusi dari Universitas New South Wales (UNSW) Sydney, Australia, Rob Brooks, AI diprediksi akan membuat otak manusia berevolusi menjadi lebih kecil dengan membawa atau menampung memori yang lebih sedikit.
Dengan keberadaan AI yang akan semakin berkembang di masa depan mengunggah dan membagikan pengetahuan secara daring atau melalui media sosial akan mengurangi banyak beban ingatan di otak manusia. Namun, volume otak yang lebih kecil itu tetap menguntungkan manusia.
Dengan otak yang lebih kecil, otomatis ukuran kepala juga akan mengecil dan proses persalinan yang harus dijalani ibu akan semakin aman. Dengan meningkatnya kapasitas AI dalam menyimpan pengetahuan manusia, manusia berotak lebih kecil dapat tetap bisa melakukan hal-hal luar biasa selama bisa mengakses AI.
Hal yang pasti, penggunaan AI yang makin masif dapat mengurangi beberapa sifat manusia yang paling dihargai, termasuk soal persahabatan, keintiman, komunikasi, kepercayaan, dan kecerdasan. Kehilangan semua sifat itu dapat membuat manusia jadi tanpa kemanusiaan.
Mengapa bot percakapan lebih berbahaya bagi remaja?
Jenny Radesky, Direktur Medis Bersama Pusat Keunggulan Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja Akademi Pediatri Amerika, mengatakan, anak-anak dan remaja jauh lebih mudah percaya, imajinatif, dan mudah dibujuk dibandingkan dengan orang dewasa. ”Mereka membutuhkan perlindungan yang lebih kuat,” ujarnya.
Bright Canary, pelantar yang membantu orangtua mengawasi anak di dunia maya, memperingatkan bahaya lain jika remaja berteman dengan AI. Remaja dapat mengalami ketergantungan, menarik diri dari pergaulan, intoleransi terhadap penolakan, serta gangguan kesehatan mental, seperti kesepian dan rendah diri.
Studi oleh Common Sense Media Rabu mendapati, mayoritas remaja AS, yaitu 72 persen, sudah menggunakan bot percakapan untuk berteman atau yang dikenal sebagai pendamping AI (AI companion). Bagi 31 persen remaja, percakapan dengan AI sama memuaskannya atau bahkan lebih memuaskan daripada dengan manusia.
Michael Robb, Kepala Riset di Common Sense Media, mengatakan, hasil studi itu memprihatinkan. ”Di dunia nyata ada berbagai macam isyarat sosial yang harus diinterpretasi dan dibiasakan oleh anak-anak serta dipelajari cara meresponsnya,” kata Robb.