Film drama berbasis dialog ini menggambarkan pertemuan emosional antara seorang perempuan muda dan sopir taksi. Mengeksplorasi tema cinta, kesepian, dan jender.
14 Feb 2025 14:00 WIB · Hiburan
Perempuan yang hanya dipanggil Girlie (Dakota Johnson) itu menghabiskan malamnya untuk mengobrol dengan Clark (Sean Penn), seorang pengemudi taksi kota New York. Selama perjalanan dari Bandara John F Kennedy ke pusat kota Manhattan, hubungan mereka berdua tercipta lewat cerita.
Daddio merupakan film yang sepenuhnya bersandar pada kekuatan dialog. Film yang rilis tahun 2024 ini tidak memiliki plot seperti film pada umumnya. Alur cerita utuhnya maju seiring taksi berjalan, tetapi kisah utamanya adalah cerita pengalaman hidup tiap karakter.
Di dalam taksi yang sunyi, Clark memecah keheningan dengan membuka percakapan. Selama 20 tahun membelah jalanan kota New York, Clark telah banyak bertemu dengan berbagai rupa manusia.
Tak heran, Clark memiliki banyak sekali bahan obrolan. Ia tidak berhenti bicara tentang aplikasi taksi, ponsel, dan secara instan mengubah arah pembicaraan menjadi tentang Girlie.
Mulanya, Girlie hanya menanggapi Clark seadanya. Namun, Clark yang terkesan sok tahu itu mulai menebak-nebak hubungan personal Girlie. Perempuan yang tengah dilanda kesedihan itu pun akhirnya mulai bercerita.
Dialog keduanya diwarnai situasi perjalanan menuju Manhattan yang ternyata tidak mulus. Di ruas jalan tol, ada sebuah kecelakaan yang memicu kemacetan.
Bagaimana membuat penonton tetap tergugah menonton film yang latarnya berkutat di dalam taksi?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/932f98be979a0e06e6ce21dff5eebd5d-1_daddio.jpg)
Sebagai debut pertama sutradara Christy Hall, Daddio menjadi film sederhana dengan bahasan yang kompleks. Selain membicarakan masa kecilnya, cerita utama Girlie terletak pada topik percintaan. Cinta menjadi topik yang tidak ada habis-habisnya untuk dibicarakan.
Walau hanya berlatar di taksi, Hall memanfaatkan segala isi taksi sebagai penunjang film. Hall membuat spion dalam mobil berguna. Beberapa kali dialog mereka hanya ditampilkan lewat kaca spion, bukan gambar visual utuh seperti film kebanyakan.
Wajah Girlie yang sedang sedih disorot dekat-dekat. Kamera mendekati setiap inci wajah sang bintang utama. Kesedihan sekaligus kegelisahan Girlie terasa dari mimik wajahnya yang kerap mengerut saat membaca pesan teks atau saat ia menggigit jari.
Lewat ekspresi yang mengeras atau tatapan yang tajam, penonton bisa ikut terhanyut masuk ke dalam perasaan Girlie. Ia peka terhadap pukulan kecil tangan Clark ke setir mobil. Musik sendu karya Dickon Hinchliffe membuat suasana semakin pilu.
Begitu pula dengan pemandangan kota New York yang begitu indah. Cahaya malam digambarkan menembus kaca mobil, menyinari wajah Girlie. Lampu jalan pun dibuat buram untuk beberapa detik, menambah kesan kesepian yang menggigit.
Namun, interaksi kedua tokoh terasa intens. Saat melihat kegelisahan Girlie melalui kaca spion dalam, Clark akan segera mengajaknya untuk kembali mengobrol. Tindakan ini tentu saja mengalihkan pikiran Girlie.
Clark menebak, Girlie adalah perempuan simpanan yang sedang menjalani hubungan dengan pria yang telah berkeluarga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/edd74806d6fd00e1da29d3ab644d15e2-2_daddio.jpg)
Lewat percakapan dan perdebatan keduanya, Daddio merefleksikan ulang arti cinta. Sebagai seorang pria yang telah menikah dua kali, Clark berpendapat bahwa laki-laki umumnya mendambakan perempuan yang memiliki fisik bak gitar Spanyol.
Terlebih untuk kasus pria beristri. Mereka tidak mencari cinta, tetapi hanya menginginkan hubungan yang lebih bersifat seksual. Clark pun mengingatkan Girlie agar tidak mengatakan kata ”cinta” kepada pria semacam itu.
Girlie tertohok. Ia hanya diam. Ia pun menjadi sangsi saat menanti balasan pesan dari sang kekasih.
Clark bukan orang pertama yang berpendapat seperti itu. Lewat adegan ini, Hall ingin menunjukkan bagaimana perasaan perempuan didefinisikan oleh pengalaman laki-laki.
Film berdurasi 1 jam 40 menit ini bisa saja membosankan karena penuh dengan dialog. Penonton pun sebaiknya berhati-hati karena percakapan keduanya kerap menggunakan bahasa yang kasar dan menampilkan gambar-gambar eksplisit.
Misalnya, saat Clark memulai percakapan. Ia bertanya tentang umur dan pekerjaan Girlie, sementara Girlie menolak untuk menjawab. Clark pun memaksa. Girlie mengatakan, jika Clark tahu umurnya, pandangan Clark terhadapnya akan berubah total.
Clark pun mengelak. Menurut dia, hal itu tidak benar. Nilai manusia tidak diukur lewat umur.
Namun, sebagai perempuan, Girlie tahu bahwa itu benar. Perempuan kerap dipandang hanya sebatas dari umur. Lewat tenggat, perempuan bakal disebut expired alias kedaluwarsa.
Sayang, Daddio hanya mengulang stereotipe bahwa perempuan yang berpacaran dengan lelaki tua adalah perempuan fatherless atau perempuan yang punya daddy issue. Pasalnya, Girlie menceritakan masa kecilnya yang tak mendapatkan perhatian dari ayah kandungnya.
Daddio tidak memberikan perspektif baru dalam dinamika hubungan romansa perempuan muda dengan lelaki yang lebih tua. Untungnya, Daddio tidak mengeksploitasi kesedihan cerita Girlie. Sosok Girlie tidak dinarasikan sebagai perempuan pencari untung, ia merupakan perempuan mandiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/b431a014068d8f59d9c07cc0e90368ce-3_daddio.jpg)
Sementara karakter Clark adalah definisi laki-laki tua yang judgemental. Saat Girlie bercerita bahwa pekerjaannya adalah programer komputer, Clark terkejut. Ia menyangka Girlie yang berambut pirang itu bekerja di bidang yang lebih feminin.
Di dunia Barat, terdapat stereotipe bahwa perempuan kulit putih berambut pirang dikategorikan tidak cukup cerdas atau, lebih buruk lagi, bodoh. Namun, hasil penelitian Jay Zagorsky di The Ohio State University pada 2016 menunjukkan bahwa stereotipe tersebut hanyalah mitos. Perempuan berambut pirang memiliki IQ yang tinggi dibandingkan perempuan berambut coklat, merah, dan hitam.
Dugaan Clark tersebut menegaskan bahwa di tengah masyarakat, perempuan tidak dianggap memiliki posisi setara dengan laki-laki.
Namun, Daddio tetap menawarkan kisah menyentuh dengan dialog dan penampilan kedua aktor yang amat memukau. Chemistry Dakota Johnson dan Sean Penn terbangun dengan sangat baik. Keduanya berhasil mengeksplorasi permainan emosi manusia dengan natural.
Di tengah perjalanan dan malam yang panjang itu, dua manusia bisa saling mengerti arti pertemanan tanpa harus benar-benar mengenal satu sama lain. Juga bagaimana keduanya merefleksi ulang makna cinta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/2c5e792e7d42bd51273c013f7956126a-4_daddio.jpg)
Catatan: Artikel ini merupakan kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, Giofanny Sasmita, mahasiswa Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.
Penulis:
Moh. Hilmi FaiqEditor:
Dwi As Setianingsih