Manusia serigala (werewolf) tidak sekadar ditampilkan sebagai makhluk jadi-jadian haus darah manusia, tetapi juga makhluk yang masih punya cinta.
19 Jan 2025 09:00 WIB · Hiburan
Di tangan sutradara spesialis genre horor, Leigh Whannell, cerita klasik manusia serigala atau werewolf dibawa ke level lebih tinggi. Werewolf tidak sekadar ditampilkan sebagai makhluk jadi-jadian haus darah manusia, tetapi juga makhluk yang masih punya cinta.
Whannell membuat adaptasi kisah manusia serigala dengan judul Wolf Man (2025). Ia mengubah sejumlah adegan klasik dalam kisah werewolf yang seolah wajib ditampilkan, bahkan sejak pertama kali kisah ini difilmkan pada era film bisu tahun 1920-an. Kehadiran bulan purnama yang menjadi penanda kemunculan manusia serigala, misalnya, hanya ia tampilkan sekilas saja. Kengerian klise dengan aura gotik yang kental juga ia pangkas.
”Buat saya akan jadi satu kesalahan fatal jika (saya) mengulang (lagi) penggambaran seperti bulan purnama, estetika ala gotik atau Transylvania seperti yang (sudah) dilakukan (sutradara) lain sebelumnya,” ujar Whannell.
Estetika ala gotik sering dikaitkan dengan Transylvania karena wilayah ini telah menjadi simbol ikonik dalam genre horor, terutama setelah novel Dracula karya Bram Stoker (1897) populer.
Whannell menambahkan, kalaupun ada pengulangan, hal itu lebih terkait soal teknis macam adegan transformasi dari tubuh manusia ke monster serigala, yang lebih menggunakan pendekatan horor tubuh (body horror). Istilah itu mengacu pada subgenre ketika kengerian digambarkan lewat transformasi dan deformasi bentuk tubuh yang disebabkan penyakit akibat virus, bahan kimia, serta faktor supranatural.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/cf4a6d58a266aa71678413df45ddf345-2586_D018_00051R.jpg)
Untuk urusan teknis satu ini, Whannell mengaku meniru film The Fly (1986) di mana proses transformasi tubuh dari manusia ke monster digambarkan bertahap dan menyakitkan. Gambaran atas proses itu memicu kengerian dan horor tersendiri bagi penonton.
Alih-alih mengulang plek ketiplek adegan-adegan dalam kisah manusia serigala, Whannell lebih memilih bertumpu pada kekuatan cerita. Ia sengaja menggambarkan werewolf bukan sekadar monster dengan sifat binatang buas, melainkan juga punya sisi kemanusiaan. Bahkan, ia digambarkan sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi anak dan istrinya.
Cerita Wolf Man bahkan sejak awal hingga akhir berpusat pada kehidupan keluarga sang manusia serigala, yakni Blake (Christopher Abbott), Charlotte (Julia Garner), dan putri tunggal mereka, Ginger (Matilda Firth). Bertiga mereka tinggal di kota besar, San Francisco.
Blake dikisahkan sebagai seorang penulis yang sedang ”sepi order”. Ketika menganggur, ia bertukar peran menjadi bapak rumah tangga, mengurus anak dan semua keperluan rumah. Sementara Charlotte bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah perusahaan media yang tengah berjuang mendapatkan pengakuan dari atasannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/101081588b2e1613d8b0eeaf397bcd22-2586_D006_00156R.jpg)
Sebagai bapak rumah tangga, Blake sangat dekat dengan putrinya. Mereka bahkan punya gestur dan cara komunikasi tersendiri. Kelak kedekatan dan gestur khas itu berguna untuk menyelamatkan mereka.
Blake dan keluarga kecilnya mulai terjebak dalam situasi mengerikan ketika mereka pulang ke kampung halaman Blake untuk mengurus rumah dan harta warisan mendiang ayahnya, Glady.
Dalam perjalanan, sesosok monster tiba-tiba muncul di tengah jalan dan memicu kecelakaan mobil yang membawa Blake sekeluarga. Dari situ, ketegangan-ketegangan dibangun makin intens, termasuk ketika Blake dan keluarganya berlari coba menyelamatkan diri di tengah hutan lebat saat malam tiba.
Blake ternyata terluka oleh gigitan monster. Gigitan itu lantas menginfeksi Blake. Fisiknya secara bertahap berubah. Peristiwa inilah yang memicu Blake menjelma menjadi manusia serigala dan berhadapan dengan serentetan situasi mencekam.
Ketika telah berubah menjadi monster, Blake tidak lagi mampu berkomunikasi normal layaknya manusia biasa. Kata-kata dan kalimat yang diucapkan oleh anak dan istrinya terdengar seperti dengungan dan gumaman tak berarti. Hal itu terjadi lantaran tubuh dan pikiran hewannya telah menguasai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/29063060ef4bc806df3a23490f0241e4-2586_D041_00134_R.jpg)
Namun, beberapa pancaindranya yang justru semakin peka, seperti saat dia mendengar suara berisik di lantai atas rumahnya, yang ternyata suara langkah kaki seekor laba-laba di dinding. Penglihatannya pun semakin tajam, bahkan dapat melihat dalam gelap seolah hewan nokturnal.
Sambil berjuang melawan kesakitan akibat proses transformasi tubuhnya yang mengerikan, Blake berupaya terus menjaga kesadaran sekaligus coba melindungi dua perempuan yang dicintainya dari ancaman monster werewolf lain. Hal itu tidak mudah dilakukan oleh Blake lantaran di saat yang sama dia secara perlahan berubah dan sifat hewan buasnya menjadi dominan. Namun, naluri ayah dan cinta Blake kepada anak istrinya membuat dia punya kekuatan untuk terus melawan.
Whannell mampu mengombinasikan alur cerita perjalanan keluarga Blake, yang tadinya landai dan terkesan lambat, dengan beberapa kali adegan kejutan mengerikan (jumpscare). Adegan semacam itu sudah muncul sejak awal film dan terus muncul berselang-seling ada di waktu-waktu lain tanpa terduga sama sekali.
Kepiawaian Whannell dalam menulis naskah dan menyutradarai cerita horor sebetulnya sudah lama terbukti. Namanya sudah lama dikenal lewat beberapa judul film bergenre horor, sebut saja Insidious dan Saw, serta horor psikologis, The Invisible Man (2020).
Dalam Wolf Man, Whannell mencoba berimprovisasi dengan pendekatan drama, seperti penggambaran cinta ayah kepada anaknya. Hal ini membuat film horor menjadi lebih menarik. Selain itu, Whannell piawai menjalin lapisan-lapisan peristiwa dan latar belakangnya, termasuk informasi tentang bagaimana Blake dididik dengan keras oleh ayahnya agar ia tak memiliki rasa takut dan bisa bertahan hidup di alam liar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/2f75117640575178174f71599dd3aa5a-2586_D002_00017R_CROP.jpg)
Mengutip wawancara kanal kritik film, Mama’s Geeky, aktor Christopher Abbott mengaku tertarik dengan kepiawaian sang sutradara menghadirkan unsur tragedi di film ini selain juga kemanusiaan di filmnya itu.
”Saya berharap penonton juga senang dan menikmati film ini. Selain tentu saja ada banyak unsur film horor, seperti jumpscare di dalamnya, juga ada sedikit (unsur) tragedi di sana. Akan sangat sempurna jika penonton bisa mendapatkan keduanya seusai menonton film ini,” ujar Abbott.
Dari kisah ini boleh jadi sang sutradara ingin menggambarkan bagaimana manusia dan hewan buas sekalipun masih punya kesamaan. Sama-sama punya naluri ingin melindungi keluarga dan terutama darah dagingnya sendiri. Pendekatan itulah yang membuat film serigala manusia versi Whannell menjadi berbeda.
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Budi Suwarna