BerandaEditorialDalam Bayang-bayang Peran...

Dalam Bayang-bayang Perang Tarif

Perang tarif tak hanya melibatkan dua negara, tetapi juga akan berdampak luas pada perdagangan global. Dunia harus bersiap menghadapinya.

30 Nov 2024 06:00 WIB · Editorial

Oleh Redaksi

File - President Donald Trump appears on Fox & Friends co-host Pete Hegseth at a Wounded Warrior Project Soldier Ride event in the East Room of the White House in Washington, Thursday, April 6, 2017. (AP Photo/Andrew Harnik, File)

Kebijakan tarif tinggi yang hendak diterapkan Presiden Donald Trump sejak awal pemerintahannya pada tahun depan memicu kekhawatiran global akan potensi perang dagang. Dengan menetapkan tarif pada negara-negara seperti China, Kanada, dan Meksiko, Trump berusaha melindungi kepentingan Amerika Serikat, tetapi langkah ini juga menimbulkan reaksi keras dari negara-negara lain. Stabilitas perdagangan global dinilai terganggu.

Tarif, pada dasarnya, adalah pajak impor yang bertujuan melindungi industri lokal. Namun, penerapannya sering kali membawa konsekuensi tak terduga. Di AS, pada era pemerintahan Trump yang lalu, konsumen dan pelaku usaha harus menghadapi kenaikan harga-harga akibat perang tarif yang dilancarkannya. Dengan kata lain, proteksionisme justru menciptakan tekanan besar pada ekonomi domestik.

China, sebagai target utama tarif AS, memperingatkan risiko kehancuran bersama akibat kebijakan ini. Media pemerintah China menekankan bahwa langkah balasan akan diberlakukan jika Amerika menerapkan  kebijakan sepihak itu. Tak bisa dielakkan, muncul kekhawatiran di kalangan pelaku ekonomi global mengenai keberlanjutan pertumbuhan dunia.

In this Thursday, Feb. 14, 2019, photo, trucks past by containers docked at a port in Qingdao in east China's Shandong province. U.S. and Chinese envoys are holding a second day of trade talks after the top economic adviser to President Donald Trump said he has yet to decide whether to go ahead with a March 2 tariff increase on imports from China. (Chinatopix via AP)

Dampak dari perang tarif dapat terasa di seluruh rantai pasok global. Biaya produksi meningkat karena bahan baku impor lebih mahal sehingga daya saing produk di pasar internasional menurun. Perusahaan mungkin akan terpaksa mengurangi biaya operasional, yang berdampak negatif pada pasar tenaga kerja serta stabilitas ekonomi.

Meskipun tarif dapat digunakan sebagai alat negosiasi yang strategis, pendekatan Trump yang agresif menimbulkan risiko besar. Kebijakan ini dinilai lebih berfokus pada keuntungan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekonomi global. Pendekatan unilateralisme semacam itu bisa merusak kepercayaan pada sistem perdagangan multilateral yang telah lama menopang ekonomi dunia.

(FILES) In this file photo taken on September 8, 2018 farm workers harvest a corn crop in the central valley town of Tulare, California. - US President Donald Trump on August 1, 2019 announced that 10 percent tariffs on another $300 billion in Chinese imports would take effect next month, escalating the trade war between the world's two biggest economies as recent negotiations faltered.Trump tweeted that "the U.S. will start, on September 1st, putting a small additional Tariff of 10% on the remaining 300 Billion Dollars of goods and products coming from China into our Country."Trump also complained that China had failed to follow through on what had been touted as two sweeteners in the tense negotiations -- a surge in purchases of farm produce and a halt in sales of the opioid fentanyl. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Efek domino perang tarif juga sangat dirasakan oleh negara-negara berkembang yang kinerja ekonomi mereka bergantung pada ekspor. Peningkatan biaya perdagangan melemahkan daya saing negara-negara berkembang, memperburuk ketidakstabilan ekonomi global. Oleh karena itu, dialog internasional melalui forum seperti WTO sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi konflik dagang.

Harus kita sadari betul bahwa perang tarif tidak hanya melibatkan dua negara, tetapi juga berdampak luas pada sistem perdagangan global. Dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi buruk dari kebijakan proteksionisme itu. Para pemimpin global dituntut mau bekerja sama menciptakan sistem perdagangan yang lebih adil serta stabil guna menghindari kerugian lebih besar bagi ekonomi dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho