Dalam Kondisi Kelelahan, Jemaah Lanjut Lontar Jumrah

Jemaah mengalami kelelahan dan jatuh sakit akibat memaksakan diri melontar jumrah. Padahal mereka masih lelah seusai berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.

07 Jun 2025 20:16 WIB · Dikbud

Oleh Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi

MEKKAH, KOMPAS — Hingga Sabtu (7/6/2025) jemaah haji Indonesia masih terus menjalani rangkaian puncak ibadah haji, yakni melontar jumrah dan tawaf ifadah. Kelelahan seusai berjalan kaki dan melontar jumrah masih banyak terjadi pada jemaah.

Berdasarkan pantauan di Jamarat, Mina, Arab Saudi, yang  menjadi lokasi melontar jumrah pada Sabtu (7/6/2025) pagi menunjukkan jemaah silih berganti datang. Jadwal melontar jumrah bagi jemaah haji Indonesia umumnya pada sore dan malam hari.

Sejak Jumat malam, sejumlah anggota jemaah yang kelelahan dievakuasi petugas. Jemaah ini umumnya memaksakan diri melontar jumrah setelah berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Jarak dari lokasi tenda-tenda Mina ke Jamarat umumnya jauh, sedikitnya 2 kilometer atau menghabiskan 4 kilometer pergi dan pulang.

”Tenda saya jauh lokasinya. Ke sini lumayan jauh jalan kaki. Semalam setelah lontar jumrah, saya terpisah dengan istri yang kelelahan. Dia dibawa ke hotel, sementara saya kembali ke Mina. Hari ini baru janjian ketemu,” kata Andaruddini (60), anggota jemaah dari Lombok.

Suasana di area Jamarat tempat jemaah melakukan lontar jumrah, Sabtu (7/5/2025). Banyak jemaah yang kelelahan karwna memaksakan melontar jumrah setelah berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.

Sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi, petugas yang berjaga di posko-posko di area Jamarat sibuk mengurusi jemaah yang terpisah dengan rombongan dan yang juga sakit.

”Banyak anggota jemaah yang memaksa melontar jumrah padahal masih kelelahan. Makanya, kami terus berjaga di sini memantau jemaah yang melontar jumrah,” kata Andoko, salah satu petugas di pos Mobile Crisis Rescue.

Di Mina, hingga Jumat malam jemaah tidak masuk tenda. Mereka memilih duduk di emperan jalan atau terowongan. Hal ini  umumnya terjadi karena lokasi tenda cukup jauh, sementara jemaah sudah kelelahan berjalan. Ada pula karena masuk ke tenda yang beda layanan syarikah.

Terkait jemaah yang kelelahan dan lokasi tenda yang jauh, pihak petugas penyelenggara ibadah haji Arab Saudi mendapatkan bantuan mobil golf untuk mengantar jemaah. Kendaraan ini juga digunakan untuk menjemput jemaah yang kelelahan di Jamarat dan sulit melanjutkan perjalanan kembali ke tenda Mina.

Sebagian jemaah meninggalkan Muzdalifah ke Mina dengan berjalan kaki pada Jumat (6/6/2025). Hal ini dilakukan katena bus penjemput cukup lama tiba akibat penumpukan kendraaan di jalan menuju Muzdalifah dan Mina.

Mobil-mobil ini ditempatkan di sekitar tenda misi haji Indonesia yang terletak di samping Rumah Sakit Mina Al Wadi. Kendaraan ini cukup membantu petugas menjangkau titik-titik yang cukup jauh dari pusat komando, terutama di area tenda-tenda bagian atas Mina.

”Kami bersyukur ada tambahan mobil golf untuk bisa memudahkan mengantar. Karena beberapa tenda cukup jauh dari kantor misi haji kita yang berada di Mina al-Wadi ini, terutama dengan yang bagian atas. Itu luar biasa jauh dari sini,” kata Kepala Bidang Perlindungan Jemaah yang juga Kasatops Armuzna, Harun Arrasyid, Sabtu (7/6/2025) dini hari.

Bantuan ini datang langsung dari delapan syarikah penyedia layanan jemaah haji. Masing-masing syarikah memberikan sekitar dua unit mobil golf sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran operasional PPIH di lapangan.

Pembimbing ibadah petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) daerah kerja Madinah, Aswadi, mengatakan, jemaah haji Indonesia yang lanjut usia diminta tidak memaksakan diri melempar jumrah. Lempar jumrah bisa diwakilkan dan hajinya tetap sah.

Jemaah menunggu bus di Muzdalifah pada Jumat (6/6/2025) keterlambatan bus penjemput menyebbakan banyak jemaah yang berjalan kaki dati Muzdalifah ke Mina.

”Ya, sahnya lansia itu yang sudah murur (mabit dengan cara melintas di Muzdalifah) itu sebaiknya berada di Mina ini dengan penuh ketenangan. Tidak boleh memaksakan kehendak untuk Jamarat karena jauhnya jarak yang ditempuh. Banyak buktinya ini ketika balik ke maktabnya ini, itu sudah tersasar ke mana-mana dan lelah,” katanya.

Dia meminta jemaah haji lansia tetap di tenda selama masa lempar jumrah. Lontar jumrah jemaah lansia dapat diwakilkan jemaah haji lainnya atau petugas. Jemaah haji lansia bisa meminta ketua regu, ketua rombongan, teman sekloter, atau petugas haji untuk mewakilinya melempar jumrah.

Sementara itu, terkait pelaksanaan wukuf, PPIH Arab Saudi memastikan jemaah haji Indonesia telah melaksanakan wukuf. Ini juga termasuk safari wukuf bagi jemaah lansia, sakit, dan berisiko tinggi.

Menurut Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi, target awal safari wukuf khusus lansia sebanyak 500 anggota jemaah. Namun, dalam perkembangannya, ada satu anggota jemaah yang meninggal di hotel transit saat menunggu hari wukuf di Arafah.

Suasana wukuf di tenda jemaah di Arafah, Kamis (5/6/2025). Walau semua jemaah terangkut ke Arafah namun banyak yang tidak mendapat tenda. Banyak pula yang tidak mendapat makanan. Sebagian jemaah juga baru tiba di Arafah pada Kamis siang, menjelang waktu wukuf.

Selain itu, ada 21 anggota jemaah yang batal ikut safari wukuf khusus lansia karena beberapa sebab, seperti dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi atau dikembalikan ke kelompok terbang karena ada pendamping.

Kepala Bidang Layanan Jemaah Lansia Suviyanto menambahkan, jemaah haji peserta safari wukuf khusus lansia dipersiapkan satgas safari wukuf khusus lansia pada pukul 05.00-09.00 waktu Arab Saudi pada 9 Zulhijah 1446 Hijriah.

Selesai mandi, mereka dipakaikan kain ihram bagi laki-laki dan mukena bagi perempuan. Selain itu, mereka juga diberi pendampingan oleh pembimbing ibadah.

Walau fase Armuzna diikuti seluruh anggota jemaah, sejumlah persoalan mewarnai puncak pelaksanaan ibadah haji ini. Persoalan ini meliputi, antara lain, jemaah yang tak mendapatkan tenda hingga yang harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina dan juga ke Jamarat.

Seusai wukuf pada Kamis sore, jemaah berangsur digeser ke Muzdalifah pada Kamis malam hingga Jumat (6/6/2025) dini hari. Pergeseran jemaah dari Muzdalifah ke Mina mulai berangsur dilakukan pada Jumat dini hari.

Untuk jemaah yang mengambil skema murur, mereka tak turun dari kendaraan tetapi hanya singgah sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Mina.

Sebagian jemaah berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina pada Jumat (6/6/2025). Pilihan ini diambil katena bus penjemput terlambat tiba akibat kamacetan dan penumpukan kendaraan di rute Muzdalifah-Mina.

Semula pengangkutan jemaah dari Muzdalifah ke Mina berjalan lancar. Bus-bus penjemput datang dan pergi membawa jemaah. Namun menjelang pagi, kemacetan membuat bus penjemput cukup lama tiba di Muzdalifah. Sebagian anggota jemaah akhirnya memilih berjalan kaki.

Hal ini menyebabkan banyak anggota jemaah sakit dan kelelahan.  Terlebih setiba di Mina, banyak anggota jemaah memaksakan diri langsung melanjutkan berjalan kaki ke Jamarat untuk melontar jumrah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari