Sejak Rabu pagi, jemaah berangsur diberangkatkan dari hotel-hotel pemondokan di Mekkah menuju Arafah. Menag memastikan seluruh jemaah akan melaksanakan wukuf.
04 Jun 2025 19:29 WIB · Dikbud
MEKKAH, KOMPAS — Jemaah haji Indonesia diberangkatkan ke Arafah untuk melaksanakan wukuf dan rangkaian ibadah yang menandai puncak pelaksanaan ibadah haji. Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan seluruh jemaah masuk Arafah meski belum memegang kartu nusuk.
Pantauan di hotel-hotel pemondokan di wilayah Syisyah, Mekkah, Arab Saudi, pada Rabu (4/6/2025), menunjukkan sejak pukul 06.00 waktu Arab Saudi, bus-bus pengangkut jemaah mulai berdatangan. Satu per satu rombongan jemaah diberangkatkan. Sepanjang hari bus tak berhenti datang dan pergi di hotel-hotel pemondokan.
Dalam skema pemberangkatan jemaah ke Arafah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi membagi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama diberangkatkan mulai pukul 06.00 waktu setempat.
Selanjutnya, gelombang kedua diberangkatkan mulai pukul 11.00 dan pemberangkatan gelombang ketiga akan dimulai pada pukul 16.00. Diharapkan pada Rabu malam atau Kamis dini hari, seluruh jemaah telah berada di Arafah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/7b57008c98f8d73c183010103c1b6d50-IMG_2227.jpeg)
Herawati Ibrahim dari Kloter 34 embarkasi Makassar adalah salah satu anggota jemaah yang berangkat pada gelombang pertama. Dia bersama anggota rombongan lain terpisah akibat layanan kini dikelola delapan syarikah, tidak lagi satu syarikah atau perusahaan penyedia layanan bagi jemaah haji.
”Saya sudah mempersiapkan diri baik fisik maupun mental untuk berdoa di Arafah. Saya akan berdoa untuk diri sendiri, keluarga, dan bangsa ini. Saya juga ingin memberi masukan kepada Menteri Agama untuk mengevaluasi KBIHU (kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah) Makassar yang seolah menelantarkan kami sejak di Mekkah,” tuturnya.
Menurut Herawati, dia dan delapan anggota jemaah lain terpisah dari rombongan besar. Saat tiba, pihak KBIHU dan ketua kloter melepas mereka dan tak pernah berkomunikasi. Dia diturunkan di Hotel 215 yang sudah penuh. ”Untungnya Ketua Sektor 2 dan PPIH Arab Saudi membantu kami mencari hotel dan ditempatkan di Hotel 220,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/7053e99c34ef3f48301213603162f537-IMG_2246.jpeg)
Hal ini berbeda dengan Adi Pranata, Ketua Kloter 47 JKS. Walau terpisah dengan rombongannya, dia tetap mendatangi anggota jemaahnya dan memastikan mereka mendapatkan hotel.
”Kami terpisah, ada yang di Sektor 3 dan saya sendiri di Sektor 2. Namun, kami tetap berkomunikasi dengan jemaah dan semua urusan lancar. Sekarang kami siap ke Arafah dan berharap semua lancar,” tuturnya saat menunggu pemberangkatan ke Arafah.
Sementara jemaah lain, Puji Nopiansyah Putra dari Jakarta yang berangkat berenam bersama anggota keluarganya, tak terpisah. ”Layanan berjalan baik. Saya mempersiapkan diri untuk Arafah. Menyiapkan doa-doa. Mungkin karena baru sekarang delapan syarikah, jadi ada kegagapan dan persoalan. Harapannya, ke depan jauh lebih baik,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/52d89841b4154f6db202ccb6a289fda4-IMG_2234.jpeg)
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangan kepada wartawan di Mekkah, Rabu pagi, mengatakan telah meminta pihak syarikah memastikan semua jemaah masuk ke Arafah.
Kami terpisah, ada yang di Sektor 3 dan saya sendiri di Sektor 2. Namun, kami tetap berkomunikasi dengan jemaah dan semua urusan lancar. Sekarang kami siap ke Arafah dan berharap semua lancar.
”Kita sudah berkomunikasi dengan pihak syarikah dan meminta agar tak satu pun jemaah tertinggal. Semua harus masuk ke Arafah. Saya masih berkeyakinan bahwa pelaksanaan ibadah haji, khususnya puncak ibadah haji, ini akan berjalan lancar,” katanya.
Terkait skema tanazul yang batal diberlakukan, Menag mengatakan hal itu dilakukan atas permintaan otoritas Arab Saudi. Salah satu alasannya adalah banyak negara yang memberlakukan skema tanazul dan dikhawatirkan justru menimbulkan penumpukan kendaraan.
”Pembatalan itu di luar kuasa kami. Maka, dalam waktu sangat singkat tim mengubah data itu (data tanazul) menjadi kembali seperti biasa. Tadinya makanan dan pengobatan di tempat-tempat tanazul itu juga dikembalikan ke kemah dalam waktu yang hitungan jam,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/fe4e0673f80534f18e0e29f17b6249c3-IMG_2144.jpeg)
Meski demikian, pihak PPIH Arab Saudi tetap meminta agar tanazul diberlakukan pada jemaah lanjut usia, rentan, dan berisiko tinggi.
Dalam skema tanazul, jemaah tanazul akan melontar jumrah pada 10 Zulhijah, lalu kembali ke hotel. Mereka tidak mabit atau bermalam di Mina. Skema ini bertujuan untuk mengurai kepadatan di tenda Mina. Skema tanazul umumnya dilakukan jemaah yang tinggal di hotel pemondokan di wilayah Syisyah dan Raudhah.
”Dispensasi itu diberikan setelah tim kesehatan Indonesia memberi laporan ke Saudi bahwa ada sekitar 3.500 orang jemaah haji kita yang masuk kategori berisiko tinggi karena lanjut usia, sakit, hingga difabel. Arab Saudi akhirnya mengizinkan,” katanya.
Selain itu, kata Nasaruddin, Saudi juga memberi kemudahan terkait pelaksanaan safari wukuf dan badal haji. Otoritas Saudi menyatakan bersedia menanggung biaya badal haji jemaah haji Indonesia yang tak bisa ikut wukuf.
Menag mengatakan, ada 250-300 anggota jemaah haji Indonesia yang dirawat di rumah sakit dan tidak bisa bergerak, bahkan untuk safari wukuf. Otoritas Saudi siap menanggung biaya badal haji bagi anggota jemaah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/427b212097de681d2fb84134b3c3f971-IMG_2154.jpeg)
”Nah, mereka itulah nanti yang dibadalkan. Begitu concern-nya Saudi terhadap jemaah haji Indonesia sampai urusan badal itu pun akan mereka tanggung. Padahal, satu badal itu (biayanya) bisa sampai Rp 20 juta,” ujarnya.
Dia menyebut, Saudi juga memperbolehkan ambulans Indonesia untuk masuk ke Arafah dan Mina. Bahkan, Saudi telah mengizinkan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) beroperasi lagi.
”Saya berterima kasih kepada Pemerintah Arab Saudi. Tadinya tidak boleh ada ambulans yang masuk di area perkemahan seperti di Arafah dan Mina, kecuali ambulans Arab Saudi. Ambulans kita enggak bisa masuk,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/4a88db5fe1fa17ddebf8173db3319ea8-IMG_2231.jpeg)
Setelah Pemerintah Indonesia melakukan lobi dan memperlihatkan kenyataan, maka satu-satunya negara yang bisa memasukkan ambulansnya hanya Indonesia dan dilarang bergerombol atau menumpuk di satu lokasi.
Seusai memberikan keterangan kepada wartawan, Nasaruddin menyempatkan diri menemui jemaah di Sektor 2 dan ikut melepas keberangkatan ke Arafah. Kepada jemaah, Nasaruddin berpesan agar saat wukuf tak hanya mendoakan diri sendiri dan keluarga, tetapi juga seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti