Kerugian ini berasal dari kerusakan gedung kantor dan markas kepolisian resor, sektor, subsektor, dan pos polisi lalu lintas serta peralatan penghalau massa.
05 Sep 2025 11:43 WIB · Kriminalitas
JAKARTA, KOMPAS — Polda Metro Jaya menyebut mengalami kerugian senilai Rp 180 miliar akibat kerusuhan di wilayahnya pada 25 Agustus hingga 31 Agustus 2025. Selain itu, ada 160 anggota yang terluka akibat kerusuhan tersebut.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Ade Ary Syam Indradi, Jumat (5/9/2025), mengatakan, kerusuhan dan aksi anarkistis membuat sejumlah fasilitas perkantoran dan peralatan yang digunakan polisi rusak. Kerusakan itu terjadi pada 3.430 unit material dan peralatan.
Selanjutnya, ada 108 kendaraan yang rusak. Kemudian, kerusakan juga terjadi pada 76 unit fasilitas dan bangunan. ”Sarana bangunan, gedung-gedung dari markas polres (kepolisian resor), polsek (kepolisian sektor), polsubsektor (kepolisian subsektor), dan pos polisi lalu lintas juga rusak,” ujarnya.
Akibat kerusakan tersebut, kerugian yang ditimbulkan ditaksir mencapai Rp 180 miliar. Selain itu, setidaknya 160 petugas yang menangani kerusuhan itu terluka. ”Mereka terluka karena terkena lemparan batu, bahkan ada massa aksi yang membawa tongkat golf untuk melukai petugas,” kata Ade Ary.
Terkait perusakan itu, kata Ade Ary, pihaknya menetapkan 43 orang sebagai tersangka. Dari jumlah itu, salah satu di antaranya berusia anak. Para tersangka ini dibagi dalam dua kluster, yakni kluster penghasut 6 tersangka dan 36 orang lainnya adalah tersangka perusakan.
Ade Ary menambahkan, para penghasut diduga telah mengajak anak-anak untuk melawan petugas, bahkan salah satu di antaranya membuat tutorial bagaimana membuat bom molotov. ”Bom Molotov itu akhirnya digunakan untuk menyerang fasilitas umum dan kantor polisi,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/e90ad7d8ce1549c894225f2457b48cb2-20250830RAM_Kantor_Polisi_IV.jpg)
Kepala Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Alfian Nurrizal pada Sabtu (30/8/2025) mengatakan, sekelompok massa melempari kantor polisi dengan bom molotov sampai ratusan kali. Kondisi ini membuat sejumlah kendaraan yang terparkir di depan kantor polisi terbakar. ”Setidaknya ada 13 mobil yang terbakar, termasuk satu unit ambulans,” kata Alfian.
Tidak hanya kantor Polres Jakarta Timur, ada enam kantor polsek yang juga diserang massa, seperti Polsek Matraman, Makasar, Ciracas, Jatinegara, Pasar Rebo, dan Polsek Cipayung.
Aksi massa baru berhenti pada Sabtu pagi. Tiga mobil pemadam kebakaran pun dikerahkan untuk memadamkan api. Bahkan, dari kejadian tersebut, ada satu petugas yang terluka karena meloncat dari lantai tiga dan akhirnya patah tulang.
Setelah massa berakhir, pihaknya berpatroli dengan 100 personel Brimob dan anggota TNI. ”Kami mengantisipasi keamanan wilayah agar tidak ada lagi aksi yang anarkistis hingga penyampaian aspirasi di malam hari,” katanya.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Putu Kholis Aryana menambahkan, pihaknya masih memburu aktor lain yang mendalangi kerusuhan ini. Bahkan, pihaknya akan mencari siapa yang menjadi penyandang dana dari beragam aksi kerusuhan yang terjadi.
”Karena itu, dalam proses ini kami juga melibatkan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) untuk melacak dari mana asal dana para perusuh ini,” kata Kholis. Penyidik sudah mengantongi sejumlah nama baru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/5871018fb41a87da78a3996164d211ce-FAK_7102.jpg)
Dia menegaskan, dari hasil wawancara dengan para pelaku, mereka melakukan kerusuhan karena terhasut ajakan untuk membuat keributan dan merusak fasilitas umum. ”Bahkan, anak-anak itu dipengaruhi untuk menyerang polisi,” ujarnya.
Oleh karena itu, dari hasutan tersebut, keterlibatan anak dalam aksi demonstrasi yang terjadi pada rentang 25 Agustus sampai 31 Agustus 2025 meningkat. ”Bahkan, ada pelaku perusakan yang sudah pernah ditangkap dua kali dalam rangkaian aksi unjuk rasa ini,” ujarnya.
Tidak hanya Polda Metro Jaya, akibat kerusuhan berkelanjutan, Pemprov DKI Jakarta pun merugi. Nilai kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum pascakerusuhan pada Jumat (29/8/2025) di Jakarta membengkak hingga mencapai Rp 80 miliar karena ditemukan adanya infrastruktur lain yang turut rusak.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, kerugian akibat kerusuhan yang semula diperkirakan Rp 55 miliar untuk MRT, Transjakarta, dan kamera pemantau (CCTV) membengkak menjadi Rp 80 miliar. Lonjakan ini terjadi setelah ditemukan kerusakan tambahan pada dua jembatan penyeberangan orang (JPO), 18 lampu lalu lintas (traffic light), serta CCTV lain.
”Setelah dihitung lebih lanjut, ada dua JPO yang mengalami kerusakan serius, yakni JPO Polda Metro Jaya dan JPO Senen. Nilai perbaikannya diperkirakan mencapai Rp 19 miliar,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa (2/9/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/59d87e015c9ba2adee0ae2623a1874c3-WhatsApp_Image_2025_08_30_at_11.00.14.jpeg)
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta bergerak menangani kerusakan lain. Dari 18 traffic light yang terdampak, 17 di antaranya sudah diperbaiki dan hanya satu yang masih dalam proses perbaikan, yakni di kawasan Slipi. Kerusakan puluhan kamera CCTV di berbagai titik juga sedang dalam tahap pemulihan.
Adapun 18 titik traffic light yang terdampak adalah di Matraman, Salemba Dipo, Otista 3, Otista 1, Cawang Kompor, PGC, Pejompongan BNI, Penjernihan SPBU, Kwitang, Pemuda, Senen, Slipi, Makam Kalibata, Bandung 12 (Patung Obor), Kuningan, TMII, Permai, dan Pospol Cilincing.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid berpendapat bahwa kemarahan warga pada polisi tidak lepas dari kematian tragis pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan. ”Awalnya massa demonstrasi tidak puas dengan kinerja DPR dan pemerintah. Namun, setelah peristiwa Affan Kurniawan, protes pun bergeser pada kepolisian,” ujarnya.
Dia berharap agar polisi benar-benar mengusut tuntas aktor di balik kerusuhan ini. Tidak hanya menahan para aktivis yang dia yakini dijadikan tumbal atau kambing hitam dalam peristiwa ini.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra