Kerusuhan membuat Jakarta sedikit lengang. Warga menepi, kantor terapkan WFH, sebagian tetap bekerja di area rawan. Pemprov DKI: imbauan WFH situasional.
01 Sep 2025 06:30 WIB · Metropolitan
Warga Jakarta masih khawatir dengan berbagai kerusuhan yang terjadi beberapa hari terakhir. Mereka memilih untuk tidak beraktivitas dan tinggal di rumah. Namun, di antara mereka ada yang tak punya pilihan, tetap bekerja di tengah ketidakpastian keamanan.
Marina (31), misalnya, memilih tinggal di wisma kantornya di daerah Jakarta Selatan, sejak dua pekan lalu. ”Saya agak ngeri pergi ke mana-mana,” kata Marina, Minggu (31/8/2025).
Kekhawatirannya bertambah saat menyaksikan kerusuhan, bahkan penjarahan, di media sosial yang terjadi, terutama di malam hari. ”Sebagai perempuan, saya agak takut (naik sepeda) motoran di malam hari,” ujarnya.
Melihat situasi yang kurang kondusif, institusinya menerapkan kerja di kantor dua hari sepekan. ”Skema kerjanya 50 persen pegawai bekerja di kantor, sisanya di rumah,” katanya.
Bahkan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, institusinya juga mengimbau para pegawai untuk tidak mengenakan seragam atau atribut institusi. Aturan ini dibuat sebagai bentuk perlindungan agar pegawai terhindar dari risiko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/9c1d9ad64af4e39ff8acf4b19290453c-20250831SETG.jpg)
Bahkan, institusinya juga melarang pegawai menggunakan kendaraan berpelat merah. Sebab, ada pengalaman petugas keamanan yang keluar menggunakan kendaraan berpelat merah langsung diserang para demonstran.
Kondisi ini membuat Marina khawatir untuk pulang. ”Apalagi dari kantor menuju rumah harus melewati jalan protokol yang sekarang sering digunakan untuk demonstrasi,” katanya.
Dia yakin sebagian besar warga Jakarta memiliki kekhawatiran serupa. Ini terbukti dari sepinya jalan raya di akhir pekan. ”Biasanya Jakarta selalu ramai saat malam, kini lengang. Mungkin warga takut keluar,” tutur Marina.
Hal serupa disampaikan Yeski (32), pegawai kementerian yang berkantor di Jakarta Pusat, yang diimbau untuk bekerja dari rumah untuk sepekan ke depan. Tujuannya menghindari dampak kerusuhan yang mungkin terjadi.
Dia menuturkan, saat kerusuhan terjadi, banyak hal yang sulit diprediksi. Apalagi, dalam menjalankan aktivitas, ibu satu anak ini kerap menggunakan transportasi umum. ”Saat demo terjadi, dikhawatirkan akan berpengaruh pada terganggunya jadwal keberangkatan,” katanya.
Oleh karena itu, bekerja dari rumah dinilai lebih aman dibandingkan bekerja di kantor dengan situasi keamanan yang belum kondusif.
Berbeda dengan Glenn Leindert Wuisan (27) yang harus tetap bekerja walau hotel tempatnya bekerja berada di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, yang tergolong rawan terdampak kerusuhan. ”Ya, saya enggak bisa kerja di rumah, kompornya kan ada di hotel,” kata Glenn yang merupakan koki di Hotel The Ritz-Carlton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/e283f1c0d75d24339dda1ea3c895f511-FAK_5877.jpg)
Akan tetapi, sejak ada kerusuhan di kawasan itu, pengamanan perkantoran di area tersebut diperketat. ”Untungnya pengamanan hotel berlapis. Ada pengamanan di gerbang hotel dan ada pengamanan di sekitar kawasan SCBD,” katanya.
Meski demikian, dia tetap khawatir mengingat kondisi seperti ini jika dibiarkan akan berdampak pada menurunnya roda perekonomian. ”Takutnya jumlah tamu hotel menurun,” ujarnya.
Glenn pernah merasakan dampak kerusuhan saat ia tertahan hingga dua jam di Jalan Tol Kebon Jeruk saat kerusuhan terjadi pada Jumat (31/8/2025). Yang lebih tragis, saat ia melihat Jakarta porak poranda pascakerusuhan di hari berikutnya.
Dia berharap situasi ini bisa segera berakhir. Sebab, ia meyakini warga Jakarta pun merasa terteror.
Mengurangi risiko dampak kerusuhan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan imbauan kepada perusahaan yang lokasi kantornya terdampak demonstrasi untuk menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Imbauan itu tertuang dalam surat edaran bernomor e-0014/SE/2025.
Surat edaran itu dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DKI Jakarta. Pada poin kedua tertulis, terhadap perusahaan yang sifat dan jenis pekerjaannya dilakukan secara terus-menerus (24 jam) memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, dapat dikombinasikan antara bekerja di rumah dan di kantor.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Chico Hakim mengutarakan, imbauan itu bersifat situasional. Surat edaran itu berlaku untuk perusahaan di Jakarta yang terdampak demonstrasi dan dimulai pada Senin (1/9/2025). ”Namun, imbauan WFH untuk perusahaan di Jakarta bersifat tidak wajib dan menyesuaikan kebutuhan di Jakarta,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/bb17d3bc98ab84ceec82ef446db1ac18-FAK_5845.jpg)
Melihat kondisi keamanan Jakarta saat ini, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menegaskan komitmen jajarannya untuk terus memberikan perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat.
”Kegiatan patroli ini dilaksanakan untuk menjaga Jakarta, memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan memberikan rasa aman di tengah aktivitas warga,” ujar Asep.
Dia mengatakan, pihaknya telah menerjunkan 324 personel gabungan yang dibagi ke tiga wilayah sasaran. Kelompok pertama bergerak ke Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.
Kelompok kedua menyasar Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Adapun kelompok ketiga fokus di Jakarta Selatan hingga Depok. Selain itu, jajaran polres dan polsek di 13 wilayah hukum Polda Metro Jaya juga melaksanakan kegiatan serupa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/5a4534bb7ba3019e2f18220631f90433-20250830RAM_Kantor_Polisi_.jpg)
Asep menekankan, patroli dilaksanakan dengan pendekatan humanis, persuasif, serta didukung penuh oleh jajaran TNI, Pemprov DKI, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda.
”Kami tidak bekerja sendiri. Semua stakeholder ikut serta menjaga kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat), menjaga Jakarta. Kolaborasi ini menjadi kunci agar situasi di wilayah hukum Polda Metro Jaya tetap kondusif,” ujarnya.
Dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak merasa khawatir sebab aparat kepolisian senantiasa hadir di lapangan untuk menjaga keamanan. Ia menekankan pentingnya peran aktif warga dalam menjaga kondusivitas dengan segera melaporkan setiap potensi gangguan keamanan.
Selain itu, Asep mendorong agar komunikasi antara masyarakat dan aparat terus ditingkatkan sehingga kebersamaan dalam menciptakan rasa aman dapat terwujud.
Lebih lanjut, Asep mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan anarkistis. Ia menegaskan, jika ada pihak-pihak yang mencoba mengganggu ketertiban, kepolisian akan bertindak tegas, tetapi tetap terukur sesuai prosedur yang berlaku.
”Kami berharap, dengan patroli rutin, imbauan persuasif, serta dukungan masyarakat, Jakarta dan sekitarnya tetap dalam keadaan aman dan terkendali,” ujarnya.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar