Dampak Perubahan Iklim, Beberapa Cuaca Ekstrem Bisa Terjadi Bersamaan

Cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Bahkan, beberapa bencana terkait iklim itu bisa terjadi bersamaan sehingga dampaknya kian parah.

09 Jun 2025 09:00 WIB · Ilmiah Populer

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim tidak hanya membuat cuaca ekstrem semakin parah, tetapi juga menggeser waktu terjadinya bencana tersebut. Penelitian terbaru mengungkapkan, bencana terkait dengan iklim, seperti gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan, memungkinkan terjadi secara bersamaan di masa mendatang.

Studi ini melibatkan sejumlah peneliti dari Uppsala University, Swedia, dan beberapa universitas lain di Belgia, Perancis, dan Jerman. Laporan hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Earth’s Future, Juni 2025.

Penulis utama penelitian itu, Profesor Gabriele Messori, mengatakan, cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan melanda sejumlah kawasan di berbagai belahan dunia.

”Itu bukanlah hal mengejutkan. Yang mengejutkan kami adalah peningkatannya begitu besar sehingga kita melihat pergeseran yang jelas, di mana berbagai peristiwa ekstrem yang terjadi secara bersamaan akan menjadi hal yang biasa,” ujarnya dilansir dari eurekalert.org, Senin (9/6/2025).

Petugas Layanan Darurat Negara Bagian New South Wales (SES) terlihat melakukan patroli menggunakan perahu evakuasi di sebuah jalan yang terendam air banjir akibat luapan Sungai Hawkesbury di Windsor, Sydney, Australia, Senin (4/7/2022). Hujan deras yang melanda Sydney tersebut merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim yang kini melanda dunia, termasuk Australia.

Dalam penelitian iklim, metode umum yang sering digunakan adalah dengan memakai pemodelan untuk memprediksi iklim masa depan, seperti suhu, curah hujan, angin, dan lainnya. Para peneliti kemudian memasukkan data tersebut ke pemodelan tambahan yang memberikan informasi tentang dampaknya kepada masyarakat.

Risiko kebakaran hutan atau banjir, misalnya, dipetakan untuk memberikan gambaran dampaknya bagi warga di kawasan tertentu. Analisis tersebut meneliti situasi yang akan terjadi pada 2050 hingga 2099. Para peneliti secara khusus mengamati enam jenis cuaca ekstrem, yaitu banjir, kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, siklon tropis, dan gagal panen.

Studi itu menyebutkan, kombinasi gelombang panas dan kebakaran hutan akan meningkat tajam di hampir semua wilayah di dunia, kecuali di tempat yang tidak terdapat vegetasi, seperti Gurun Sahara. Sementara kombinasi gelombang panas dan kekeringan akan menjadi fenomena berulang di beberapa wilayah, seperti Mediterania dan Amerika Latin.

Quote

Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim berdampak sangat luas bagi kehidupan manusia. Selain menimbulkan kerusakan fisik, ketersediaan pangan juga bisa terancam.

Adapun negara-negara Nordik, seperti Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Islandia, akan terkena dampak gelombang panas dan kebakaran hutan secara bersamaan. Intensitasnya diprediksi semakin meningkat pada masa mendatang.

”Musim panas tahun 2018 di Eropa Utara ditandai dengan suhu luar biasa tinggi dan kebakaran hutan yang meluas. Pada saat itu kondisinya dianggap sebagai peristiwa yang luar biasa. Dalam beberapa dekade, hal itu mungkin tidak begitu luar biasa,” ucapnya.

Tantangan kesiapsiagaan

Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim berdampak sangat luas bagi kehidupan manusia. Selain menimbulkan kerusakan fisik, ketersediaan pangan juga bisa terancam. Cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan akan memperburuk dampaknya dan menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat.

Permukiman warga yang masih terus bertahan dengan keadaan rumahnya pada setiap saat tenggelam saat pasang air laut di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2023). Dalam sepekan ini musim pasang air laut kembali terjadi seiring dengan fenomena fase bulan baru. Pasang air laut atau rob tersebut menggenangi akses jalan pantura dan sejumlah wilayah permukiman warga. Rob yang terjadi beberapa tahun ini semakin meluas diperparah beberapa faktor antara lain penurunan permukaan tanah, abrasi, peralihan fungsi lahan dan perubahan iklim. 

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN)
16-05-2023 *** Local Caption ***

Kondisi ini membawa tantangan kesiapsiagaan global. Para peneliti menekankan pentingnya mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurangi risiko perubahan iklim, termasuk dengan mengurangi emisi.

”Dari perspektif masyarakat, kita perlu memperluas kesiapan kita untuk menghadapi peristiwa ekstrem yang terjadi bersamaan ini. Kita akan menghadapi realitas iklim baru yang saat ini belum banyak kita alami,” kata Messori.

Penulis lainnya penelitian itu, Derrick Muheki, menyampaikan, dalam skenario emisi sedang hingga tinggi, banyak wilayah beralih dari mengalami dampak cuaca ekstrem tertentu secara terpisah menjadi mengalami dampak gabungan secara rutin. Kombinasi kejadian itu juga berpotensi berulang di masa depan.

Sebuah warung bakso di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur belum beroperasi setelah diterjang banjir akibat siklon tropis Seroja seperti pada Rabu (21/4/2021).

”Dengan tidak adanya tindakan mitigasi iklim global yang efektif, kita mungkin menyaksikan pergeseran paradigma dari dunia yang didominasi oleh bahaya terkait dengan iklim tertentu ke arah di mana kejadian cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan menjadi normal,” ujarnya.

Cuaca ekstrem terkait iklim sering kali mengakibatkan dampak sosial yang besar dan merugikan. Kejadiannya yang secara bersamaan bisa terjadi berulang kali selama beberapa tahun, bahkan puluhan tahun secara berturut-turut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .