Perubahan Iklim Meningkatkan Risiko Kebakaran Hutan

Perubahan iklim memicu pergeseran kebakaran hutan di berbagai wilayah. Musim kebakaran yang terjadi bersamaan di banyak negara mempersulit penanganan kebakaran.

01 Mei 2025 09:17 WIB · Humaniora

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran hutan di sejumlah negara. Perubahan iklim menyebabkan suhu global meningkat dan memicu kekeringan ekstrem sehingga membuat api lebih mudah menjalar.

Tidak cuma menyebabkan kerugian materiil, bencana kebakaran hutan juga merenggut banyak nyawa. Kebakaran hutan pada Januari 2025 di Los Angeles, Amerika Serikat, misalnya, menghancurkan lebih dari 10.000 bangunan dan menewaskan 29 orang.

Sementara wilayah pantai timur Australia dilanda salah satu kebakaran hutan paling dahsyat di negara itu pada September 2019 dan Maret 2020. Lebih dari 12 juta hektar hutan dan semak belukar terbakar.

Para peneliti dari Helmholtz Centre for Environmental Research, Jerman, dan peneliti dari Australia menemukan musim cuaca kebakaran—periode cuaca yang sangat mendukung kebakaran seperti saat musim kemarau dengan kelembaban udara rendah—di Australia Timur dan Amerika Utara semakin tumpang tindih. Musim kebakaran di kedua wilayah itu bergeser akibat perubahan iklim.

Kebakaran melandapemukiman di Palisade, Los Angeles di tengah angin kencang, Selasa, 7 Januari 2025. AP/Ethan Swope

Laporan hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Earth’s Future pada April 2025. Para peneliti menggunakan Canadian Fire Weather Index (FWI) untuk mengukur risiko kebakaran. Indeks ini memperhitungkan curah hujan, suhu, kelembaban relatif, dan kecepatan angin.

Para peneliti mengidentifikasi hari-hari dengan risiko kebakaran hutan yang tinggi. Mereka menemukan musim kebakaran di Australia Timur dan Amerika Utara semakin tumpang tindih sejak 1979.

Ilmuwan iklim dan penulis penelitian itu, Andreia Ribeiro, mengatakan, tumpang tindih terbesar terjadi antara Juli hingga Desember. Secara keseluruhan, jumlah hari dengan cuaca kebakaran yang terjadi bersamaan di Australia Timur dan Amerika Utara bagian barat telah meningkat satu hari per tahun dalam 40 tahun terakhir.

Quote

Perubahan iklim memicu pergeseran musim kebakaran di berbagai wilayah di dunia. Hal ini berpotensi semakin menyulitkan kerja sama internasional dalam menangani kebakaran.

”Hal ini karena musim kebakaran di Australia Timur dimulai lebih awal di musim semi dan bertepatan dengan berakhirnya musim kebakaran di pantai barat Amerika Utara,” ujarnya dilansir dari sciencedaily.com, Kamis (1/5/2025).

Para peneliti juga menganalisis bagaimana tumpang tindih musim kebakaran itu akan berkembang. Ribeiro menyebutkan, hal itu bergantung pada tingkat pemanasan global di masa mendatang. Peningkatan tersebut diperkirakan 4-29 hari per tahun pada pertengahan abad ini.

Kebakaran di Australia Timur biasanya dipengaruhi oleh kondisi El Nino yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut. Hal ini sering kali menyebabkan kekeringan dan gelombang panas. Adapun kebakaran di Amerika Utara bagian barat lebih sering dikaitkan dengan kondisi La Nina.

Pasukan TNI membantu pemerintah Australia melakukan pembersihan pasca-kebakaran di Aboriginal Community, Lithgow City, New South Wales, Australia, pada Februari-Maret 2020.

”Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu global dan meningkatnya kekeringan di beberapa wilayah. Sementara dampak El Nino diperkirakan sebagian besar tidak berubah,” kata Prof Jakob Zscheischler, peneliti iklim di Helmholtz Centre for Environmental Research.

Penulis lainnya penelitian itu, Doug Richardson, menyebutkan, perubahan iklim memicu pergeseran musim kebakaran di berbagai wilayah di dunia. Hal ini berpotensi semakin menyulitkan kerja sama internasional dalam menangani kebakaran. Sebab, dengan musim kebakaran yang semakin tumpang tindih, setiap negara akan terfokus memadamkan kebakaran di wilayahnya masing-masing.

”Kondisi ini mempersempit peluang kerja sama internasional dan mempersulit respons cepat terhadap kebakaran hutan dalam skala besar,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .