Proyek-proyek hilirisasi segera direalisasikan. Namun, studi kelayakan maupun perencanaan usaha harus dikerjakan dengan baik sebelum eksekusi.
04 Mar 2025 10:27 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah segera mengeksekusi 21 proyek strategis. Rencananya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara akan mendanai proyek-proyek tersebut.
Hal ini dibahas dalam rapat tertutup yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/3/2025) petang. Hadir dalam rapat itu, antara lain. Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Rosan P Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Selain itu juga Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Panglima TNI Jenderal Agus Subianto, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo. Tampak pula Ketua MPR yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani.
“Kami telah memutuskan, tahap pertama hilirisasi yang ditargetkan kurang lebih sekitar 618 miliar dollar AS untuk di tahun 2025. Yang tadi kami paparkan kurang lebih sekitar 21 proyek pada tahap pertama yang total investasinya kurang lebih sekitar 40 miliar dollar AS,” tutur Bahlil kepada wartawan seusai rapat.
Bahlil yang didampingi Sekretaris Tim Satgas Hilirisasi dan Kedaulatan Energi Ahmad Erani Yustika dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan beberapa proyek yang akan segera direalisasikan itu.
Yang kita butuh dari mereka adalah teknologinya. Jadi, hari ini teknologi yang kita butuh. Uangnya, capex-nya dari pemerintah dan swasta nasional. Kemudian bahan bakunya dari kita, kemudian off taker-nya pun dari kita. Jadi, saya pikir, kali ini enggak ada ketergantungan kepada pihak lain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/3e0fc94e-d819-43e5-b392-b004e18ff6ee_jpg.jpg)
Pertama, pembangunan storage minyak mentah (crude oil) di Pulau Nipah. Storage ini dinilai akan memperkuat ketahanan energi nasional.
Kedua, pembangunan refinery minyak dengan kapasitas sekitar 500.000 barrel. Ini, disebut Bahlil, akan menjadi salah satu yang terbesar.
Selain itu, akan dibangun pula pabrik DME (dimethyl ether). Proyek gasifikasi batubara ini bisa menjadikan bahan bakar pengganti LPG.
Sebelum ini, Presiden Joko Widodo pernah meresmikan pembangunan kilang DME di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan awal tahun 2022. Namun, perusahaan Amerika Serikat Air Product yang bekerja sama dengan PT Bukit Asam kemudian hengkang. Sempat terdengar kabar ada investor asal China yang akan masuk, tetapi, menurut Bahlil, implementasi tetap belum bisa dilakukan.
“Sekarang kita tidak butuh investor, negara - lewat kebijakan Bapak Presiden - memanfaatkan resource dalam negeri. Yang kita butuh dari mereka adalah teknologinya. Jadi, hari ini teknologi yang kita butuh. Uangnya, capex-nya dari pemerintah dan swasta nasional. Kemudian bahan bakunya dari kita, kemudian off taker-nya pun dari kita. Jadi, saya pikir, kali ini enggak ada ketergantungan kepada pihak lain,” tutur Bahlil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/23/b0cd1d55-2621-4f17-9644-3a524d1a34af_png.png)
Rencananya, pabrik DME ini akan didorong di tiga atau empat provinsi secara paralel. Wilayah yang disasar, selain Sumatera Selatan, adalah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Proyek lain terkait dengan pengolahan tembaga, nikel, dan bauksit. Harapannya, ada pabrik alumina di Indonesia. Selain itu, masih ada proyek hilirisasi terkait sektor pertanian, sektor perikanan, dan sektor kehutanan.
Untuk proyek-proyek ini, lanjut Bahlil, salah satu sumber modalnya adalah Danantara.
Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan menyebutkan prioritas Danantara adalah hilirisasi pada 26 sektor komoditas seperti energi dan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan.
Secara terpisah, Rosan menambahkan, dalam rapat dibahas bagaimana dampak proyek-proyek itu pada penciptaan lapangan pekerjaan, pada ekspor dan penurunan impor, serta kesiapan pendanaannya.
Setelah ini, Rosan menuturkan, semua kementerian masih akan duduk bersama untuk merinci proyek-proyek itu sehingga kelayakannya (feasibility) jelas. Investasinya harus memberikan hasil (return) yang baik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/452bde85-63e7-482a-afa7-f319ed732ee7_jpg.jpg)
“Danantara juga, kita akan melalui proses yang proper, melalui proses Kementerian Investasi, due diligence, itu semua step akan kita lalui, karena kita juga terbuka sesuai dengan industrialisasi yang ingin kita tempuh,” kata Rosan.
Rosan memastikan masih akan ada analisis dari komite investasi dan komite audit. Selain itu, dalam kajian kelayakan akan dilihat bukan hanya hasil, tetapi juga pelibatan masyarakat seperti petani, peternak, pembudidaya rumput laut, dan lainnya.
Sudaryono menambahkan, Presiden Prabowo pun meminta rencana hilirisasi itu dibuat sedetail mungkin. “FS (feasibility study)-nya disiapkan, berapa proyek, mega proyek yang disiapkan, terus kapan dilaksanakan, siapa yang melaksanakan dan seterusnya,” tutur Bahlil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/05d6d9e1-129f-47b9-a95f-abd337b0ded1_png.png)
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang Esther Sri Astuti mengingatkan, sebelum Danantara berinvestasi, feasibility study harus betul-betul disiapkan. Sebab, FS ini akan menganalisis kelayakan suatu proyek secara obyektif dan rasional, baik kekuatan dan kelemahan usaha, termasuk peluang dan ancaman yang mungkin terjadi pada lingkungan alam, sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakannya, serta prospek keberhasilannya.
Selain itu, rencana usaha (business plan) menjadi tahap krusial berikut. Dari business plan ini akan teridentifikasi rencana bisnis seperti kondisi makroekonomi, strategi pemasaran dan penjualan bisnis secara detail, dan income dan outcome dari bisnis tersebut.
Berikutnya, kondisi keuangan termasuk skenario estimasi sumber pendanaan, berapa return dan tahun ke berapa bisa profit, serta informasi lainnya seperti kompetitor dan industri-industri penunjang yang ada. Dampak dan mitigasi risiko usaha juga akan tampak dalam rencana usaha ini.
“Kemudian dengan business plan itu dijadikan modal untuk menarik investor dari luar. Jadi, pendanaan bukan hanya Danantara saja tetapi juga terbuka kemungkinan pendanaan dari sumber lain,” kata Esther.
Bila perencanaan tak matang, menurut Esther, uang rakyat yang dikelola Danantara bisa berisiko menjadi skandal korupsi besar.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .