Setelah sempat diragukan, Ekuador lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Di luar perkiraan, mereka menaklukkan Jerman pada laga terakhir penyisihan grup.
26 Jun 2026 13:37 WIB · Olahraga
AFP
Kekalahan. Kebuntuan. Cemoohan. Semuanya sudah dirasakan Ekuador sebelum kemenangan yang mengubah segalanya. Puluhan tembakan pernah diledakkan dan gagal berbuah gol. Namun, keajaiban di Stadion New York New Jersey yang membuat tim kuda hitam ini tetap melaju di Piala Dunia.
Diiringi lengkingan suara Alicia Keys dalam lagu berjudul ”Empire State of Mind” yang bercerita tentang upaya mengejar mimpi di New York, Sebastian Beccacece menari kegirangan saat wasit meniup peluit akhir laga Ekuador melawan Jerman, pada lanjutan laga Piala Dunia 2026, Jumat (26/6/2026) WIB.
Tidak hanya itu, pelatih Ekuador itu mendatangi tribune penonton. Di sana, Beccacece memeluk pendukung yang sama-sama histeris ketika Ekuador di luar dugaan mampu mengalahkan Jerman, 2-1.
Ini adalah kemenangan terbesar bagi Ekuador di Piala Dunia. Kami datang dengan mimpi untuk membuat Piala Dunia terbaik Ekuador.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/96f3b9a51bf50a72592736b06c682732-Ecuador_v_Germany__Group_E_FIFA_World_Cup_2026_1.jpg)
Laga ketiga di Grup E itu membawa Ekuador lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Mereka seperti melupakan ketegangan yang sempat muncul saat Ekuador bermain buruk di dua laga awal.
Tidak hanya bersama pendukung, Beccacece merayakan kemenangan bersama anak buahnya. Setelah murung seusai dua laga yang berujung kalah dan imbang, senyumnya lebar merayakan perjalanan pertama mereka ke babak gugur di Piala Dunia dalam 20 tahun terakhir.
”Ini adalah kemenangan terbesar bagi Ekuador di Piala Dunia. Kami datang dengan mimpi untuk membuat Piala Dunia terbaik Ekuador. Saya mengajak semua orang untuk tetap bersatu,” kata pelatih berambut gondrong asal Argentina itu.
Wajar jika Beccacece meluapkan emosi seperti layaknya pelatih yang membawa timnya juara Piala Dunia. Tim ini digadang-gadang sebagai kuda hitam terbaik sebelum penampilan mengecewakan pada awal fase grup.
Ekuador tiba di Piala Dunia dengan rekor fantastis. ”La Tri” hanya kebobolan lima gol dari 18 pertandingan kualifikasi zona Conmebol. Jumlah itu menjadi yang terbaik di kawasan tersebut dan hanya setengah dari jumlah kebobolan Argentina, juara bertahan Piala Dunia. Ekuador juga mencatat 13 clean sheet.
Di antara finalis Piala Dunia, hanya Inggris yang memiliki catatan pertahanan lebih baik setelah tidak kebobolan dalam delapan pertandingan kualifikasi UEFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/ee86b34e834efa5e2b19b7517ea5d927-Germany_Ecuador_WCup_Soccer.jpg)
Namun, mereka punya masalah di lini serang. Mengutip Opta, ”La Tri” hanya mencetak 14 gol dalam 18 pertandingan kualifikasi, jumlah paling sedikit di antara negara-negara Conmebol yang lolos langsung ke Piala Dunia.
Ketergantungan terhadap Enner Valencia masih terlihat jelas. Penyerang klub Meksiko, CF Pachuca, itu menyumbang enam dari total 14 gol Ekuador selama kualifikasi.
Kekuatan dan kelemahan itu terpampang di babak penyisihan grup. Bukannya memenuhi ekspektasi, Ekuador justru bermain ”dar-der-dor”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/5a156a898fd046df8666cf12db9db45c-2281612937.jpg)
”Dar” pertama terjadi saat dikalahkan Pantai Gading pada laga pertama, 1-0. Setelah menguasai bola hingga 51 persen, meluncurkan 12 peluang, serta dua kali membentur tiang gawang, Pantai Gading justru menang lewat sebiji gol Amad Diallo pada menit ke-90.
”Der” kedua terjadi melawan Curacao. Diprediksi menang mudah, laga berakhir imbang tanpa gol. Menguasai bola hingga 75 persen dan menghujankan 28 tembakan, tidak ada satu pun yang berbuah gol.
Dunia justru membicarakan sejarah Curacao yang akhirnya mencetak angka pertama di Piala Dunia. Ketika penampilan gemilang kiper Curacao, Eloy Room, yang mampu membendung 15 tembakan pada laga itu menjadi viral, Beccacece dan pemain Ekuador justru dirundung pendukungnya sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/a59cfa57fdb37e5960ba01103c1c6fbb-APTOPIX_Curacao_Ecuador_WCup_Soccer.jpg)
Baru pada laga terakhir melawan Jerman, yang seharusnya menjadi laga terberat, Ekuador berhasil membuat ”dor” meski sempat membuat puluhan ribu pendukungnya tegang.
Bagaimana tidak, laga baru berjalan dua menit, Leroy Sane mencetak gol ke-15 untuk Jerman. Beruntung, setelah badai di dua laga awal, Ekuador bermain lebih tenang dan seimbang.
Setelah melepaskan 39 ancaman, Ekuador berhasil membobol gawang Manuel Neuer pada kesempatan ke-40. Bukan Valencia, gol dilesakkan Nilson Angulo pada menit ke-9 dan berhasil membangkitkan lagi harapan pendukung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/20cb2424bf2d7d2d5d66aef959a35d77-Ecuador_v_Germany__Group_E_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Dukungan penonton yang memadati stadion berkapasitas 80.000 itu kembali menjadi energi positif. Dari awalnya ragu menjadi keyakinan bersama. Gonzalo Plata membayar kepercayaan itu saat menjadi pahlawan lewat gol pada menit ke-77.
Ekuador menang. Seisi stadion bersorak. Pemain larut dalam haru, seperti Beccacece.
Pemain tengah Moises Caicedo, misalnya, langsung berlutut di tengah lapangan. Setelah itu, ia mencari keberadaan ibunya di tribune. Momen emosional pelukan hangat antara Caicedo dan ibunya menjadi salah satu sorotan utama media sepak bola internasional.
Dikutip dari ESPN, Caicedo mendedikasikan kelolosan dramatis ini kepada ribuan suporter Ekuador yang telah merantau dan ”menguningkan” stadion di Amerika Serikat.
Beccacece memuji kerja para pemain yang mampu bermain lebih tenang menghadapi partai besar dan penuh tekanan. Menurut dia, hal itu menjadi modal kuat menghadapi laga selanjutnya.
”Sepak bola itu seperti ini. Suatu hari Anda menang, hari lain Anda kalah. Kami tidak berada di neraka sebelumnya, dan saya rasa kami juga tidak berada di surga sekarang. Kami akan terus maju, dengan kerendahan hati dan kehati-hatian,” kata Beccacece.
Mantan kapten Inggris Alan Shearer kepada BBC One mengatakan, Ekuador pantas mendapatkan kemenangan ini. Mereka sudah berjuang dan berkorban untuk keluar sebagai pemenang dalam laga melawan Jerman.
”Dia (Beccacece) dan para pemainnya bekerja keras. Mereka mengambil risiko dan keluar sebagai pemenang,” katanya.
Pujian Shearer bisa jadi alarm bagi Inggris. Mengutip Sky Sports, Inggris kemungkinan besar akan menjadi lawan Ekuador di babak gugur. Duel tim dengan pertahanan terbaik di dua zona berbeda ini jelas pantas disimak. Syaratnya, Inggris menang atas Panama sehingga tetap menjadi peringkat pertama pada laga akhir Grup L.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/0091ba04bf2f347c3208d61fefadba59-wires_photo_46.jpg)
Jika itu terjadi, laga akan berjalan sangat seru. Saat ini, setidaknya ada lima pemain yang bermain di Liga Premier. Kapten Moises Caicedo bersama Chelsea, Piero Hincapie menjadi andalan lini belakang Arsenal, dan Nilson Angulo, penyerang sayap Sunderland.
Dua lagi adalah pemain sayap Kendry Paez yang musim lalu dipinjamkan Chelsea ke River Plate dan bek sayap Pervis Estupinan yang sempat bersinar bersama Brighton sebelum kini membela AC Milan. Kehadiran mereka diharapkan Beccacece bisa membawa Ekuador melaju lebih jauh di edisi kali ini.
”Ekuador tidak pernah mencapai perempat final,” kata Beccacece. ”Akan sangat indah jika kami lolos ke perempat final, mengapa tidak? Saya berharap kami bisa melakukannya karena tim ini dan orang-orang ini pantas mendapatkannya,” katanya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji