Dar-der-dor "Reshuffle", Kejutan Presiden Prabowo untuk Kabinetnya

Dari panggilan dengan nomor tak dikenal, Purbaya memperoleh kabar bahwa ia akan dilantik sebagai Menteri Keuangan. Itu hanya terjadi beberapa jam sebelum pelantikan.

09 Sep 2025 05:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

Tugas negara bisa datang kapan saja, pun bisa ditarik kembali kapan saja. Baik ketika seseorang dalam posisi siaga ataupun berleha-leha. Namun, kapan pun ada panggilan dari negara, setiap warga harus siap menerimanya.

Ponsel Purbaya Yudhi Sadewa berdering-dering sekitar pukul 12.30, beberapa jam sebelum menteri dan wakil menteri baru dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025). Nomor tak dikenal memanggilnya. Meski awalnya ragu, panggilan telepon itu tetap ia terima.

Pada mulanya, keraguannya menguat ketika orang yang berbicara di telepon mengaku sebagai Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Apalagi, Teddy menyampaikan bahwa Purbaya diminta Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029.

”Saya pikir saya ditipu. Saya cek-cek yang telepon nomornya telepon beneran. Saya cek ternyata Seskab (Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya) beneran,” ungkapnya ketika ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin sore.

Berjarak 1 jam dari telepon itu, Purbaya harus sudah berada di Istana untuk dilantik sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden. Dalam waktu terbatas, ia bersiap mengenakan setelan jas biru dongker dengan kemeja putih dan dasi biru muda, lalu berangkat ke Istana.

Suasana jelang pelantikan menteri baru oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (8/9/2025), di Istana Negara, Jakarta.

Bagi Purbaya, kabar itu sangat mengejutkan. Dalam dua pekan terakhir, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu memang beberapa kali dipanggil Presiden Prabowo ke kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mendiskusikan situasi ekonomi nasional dan global. Akan tetapi, tidak pernah ada pembicaraan bahwa ia akan dijadikan Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati.

Sekalipun demikian, sebagai tokoh yang sudah menjadi ekonom selama lebih dari 20 tahun, panggilan itu menjadi momentum untuk bisa mengabdi bagi bangsa. Untuk itu, meski harus grabak-grubuk dalam waktu singkat, ia menerima tugas tersebut.

Tak hanya Purbaya, Wakil Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono juga menerima kabar bahwa dirinya akan dilantik sebagai Menteri Koperasi, menggantikan Budi Arie Setiadi, beberapa jam sebelum pelantikan. Bahkan, ketika bagian protokoler Istana menghubunginya, sekitar pukul 13.00, ia sedang berada di ruangan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Saat itu, ia tengah mendampingi Budi Arie mengikuti rapat kerja serta membahas rencana kerja dan anggaran dengan Komisi VI DPR.

Quote

Wakil Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono juga menerima kabar bahwa dirinya akan dilantik sebagai Menteri Koperasi, menggantikan Budi Arie Setiadi.

Politikus senior Partai Gerindra itu pun tidak tahu apakah kabar yang sama juga disampaikan pihak Istana kepada Budi Arie. Namun, ketika mendapatkan panggilan, Ferry bergegas dari DPR menuju Istana. Ia pun tak sempat untuk berganti pakaian.

”Pakai yang ada di mobil,” katanya sambil menunjukkan setelan jas hitam dengan dasi biru yang ia kenakan untuk mengikuti pelantikan.

Menteri Haji dan Umroh - Irfan Yusuf Kompas/Hendra A Setyawan

Sama halnya dengan Purbaya dan Ferry, beberapa tokoh lain yang dilantik sebagai menteri pada Senin itu juga mendapatkan kabar mendadak. Mereka adalah Kepala Badan Penyelenggara Haji Irfan Yusuf yang diangkat sebagai Menteri Haji dan Umrah. Ada pula anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Mukhtarudin yang dilantik menjadi Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

Bahkan, Irfan mengaku hanya dipanggil ke Istana dan diminta mengenakan setelan jas lengkap. ”Ternyata, saya dilantik (menjadi menteri),” ungkap Irfan.

Ketika memasuki kompleks Istana, mereka semua harus berjalan cepat menuju ruangan pelantikan yang berada di Istana Negara. Bahkan, mereka juga berlari-lari kecil sembari menghindar dari kejaran awak media di pintu menuju Istana Negara.

Masih bekerja sebelum diganti

Di kalangan wartawan peliput Istana Kepresidenan juga baru memperoleh kabar perombakan kabinet dan pelantikan sejumlah menteri dan wakil menteri pada Senin siang. Padahal, sebelumnya, perombakan kabinet dan pelantikan menteri didesain sebagai agenda formal dengan pakaian tertentu.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pun baru mengatakan konferensi pers untuk mengumumkan agenda perombakan kabinet sekitar 30 menit sebelum pelantikan berlangsung. Prasetyo menjelaskan, Presiden akan melantik Menteri Haji dan Umrah untuk menindaklanjuti hasil revisi Undang-Undang Haji yang mengamanatkan peningkatan status Badan Penyelenggara Haji menjadi kementerian.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan keterangan pers terkait resuffle kabinet Merah Putih di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/9/2025).

Kompas/Hendra A Setyawan

Selain itu, menimbang masukan dan evaluasi dari berbagai pihak, Presiden juga memutuskan untuk mengganti lima menteri. Kelima menteri dimaksud adalah Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Budi Gunawan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.

Bahkan, dari lima menteri yang diganti itu, Presiden baru melantik tiga orang. Sebanyak dua posisi lainnya, yakni Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan pengganti Budi Gunawan belum ditentukan secara definitif. Tokoh yang akan menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga menggantikan Dito pun tak bisa mengikuti pelantikan. ”Berkenaan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga, jadi pengganti Menteri Pemuda dan Olahraga, kebetulan posisi sedang di luar kota, sehingga tidak bisa mengikuti pelantikan pada sore hari ini,” kata Prasetyo.

Quote

Sejumlah menteri yang diganti pun masih bekerja pada Senin pagi hingga siang. Budi Arie, misalnya, masih menghadiri rapat kerja di Komisi VI DPR.

Tak hanya itu, sejumlah menteri yang diganti pun masih bekerja pada Senin pagi hingga siang. Budi Arie, misalnya, masih menghadiri rapat kerja di Komisi VI DPR. Ketika dihubungi pada Senin malam, ia menolak berkomentar dan hanya mengirimkan gambar Presiden Prabowo yang tengah mengepalkan tangan disertai kata-kata, ”Tetap Semangat.”

Serupa dengan Budi Arie, Abdul Kadir Karding juga masih mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR pada Senin pukul 10.00-14.00, sebagai Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Dalam rapat tersebut, Karding memaparkan rencana kerja dan anggaran Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk Tahun 2026. 

Setelah rapat dan kembali ke kantor, ia baru dikabari pihak Istana dan dikabarkan tidak akan menjabat posisi menteri itu sejak sore tadi. Meski kabar itu mengejutkan, ia mengaku tidak kecewa. 

”Pertama, saya terima kasih telah diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi menteri selama setahun terakhir oleh Presiden dan membantu beliau. Saya sungguh sangat bersyukur telah dipercaya,” ucap Karding saat dihubungi dari Jakarta, Senin (8/9/2025) malam. 

Menteri Perlindungan Pekerja Migran/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI Abdul Kadir Karding saat wawancara dan audiensi dengan Kompas di Kantor Kementerian Perlindungan Pekerja Migran di Jakarta, Senin (10/3/2025).

Selain itu, ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo. ”Saya minta maaf mungkin kinerja saya belum memuaskan, itu kekurangan saya,” ucapnya. 

Kini, meski telah dicopot dari jabatan menteri, Karding menegaskan akan tetap mendukung Prabowo. ”Saya akan tetap mendukung Pak Prabowo dan pemerintahannya,” ujarnya.

Kabar perombakan kabinet memang selalu muncul sepanjang 11 bulan masa pemerintahan Presiden Prabowo, terutama ketika kontroversi terjadi. Terakhir, hal itu menguat seiring dengan gejolak demonstrasi masyarakat yang memprotes berbagai kebijakan negara. Namun, pihak Istana belum pernah menyampaikan pernyataan resmi terkait hal ini mengingat perombakan kabinet merupakan hak prerogatif Presiden yang bisa dilakukan kapan pun.

Siapa pun yang dipanggil atau diberhentikan harus siap menerimanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

Madina Nusrat
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto