PIALA DUNIA 2026

Dari Atlantik ke Atlanta, Tanjung Verde dan Vozinha Menahan Badai Spanyol

Tanjung Verde membuat kejutan menahan Spanyol. Penampilan penjaga gawang Vozinha dengan tujuh penyelamatan membuat pengikutnya meroket di media sosial.

16 Jun 2026 11:16 WIB · Olahraga

AP Photo/Jacob Kupferman

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Spanyol bermain seperti badai yang menerjang Tanjung Verde dalam partai pembuka Grup H Piala Dunia 2026, Senin (15/6/2026) waktu setempat. Namun, digelar di Stadion Mercedes Benz, Atlanta, ketangguhan Tanjung Verde terlalu sulit ditaklukkan juara dunia 2010 itu.

”La Roja” menguasai laga hingga 75 persen. Sebanyak 27 tembakan dilepaskan dan tujuh di antaranya diselamatkan kiper Josimar Dias alias Vozinha, pemain terbaik dalam laga itu.

Pada menit ke-39, ia menepis sundulan Mikel Oyarzabal yang menyambar bola muntah setelah tembakan Ferran Torres membentur mistar. Kiper veteran itu kemudian menggagalkan peluang Torres, menepis sundulan Aymeric Laporte, dan menghalau tembakan Pedri.

Cape Verde Spain WCup Soccer

Masuknya Lamine Yamal, yang dipaksakan bermain meski belum pulih dari cedera, tidak banyak mengubah keadaan. Vozinha, yang umurnya hampir dua kali lipat lebih tua dari Yamal, tetap tangguh di bawah mistar.

Namun, tidak kalah penting adalah ketangguhan tim melindungi gawang Vozinha.

Reuters menyebut, dengan hanya satu pelanggaran, Tanjung Verde mencetak sejarah lewat jumlah pelanggaran terkecil sepanjang sejarah Piala Dunia modern. Pada menit ke-15, Sidney Cabral melanggar pergerakan Marcos Llorente.

APTOPIX Cape Verde Spain WCup Soccer

Bahkan, Tanjung Verde bisa saja mencuri kemenangan jika sundulan Diney Borges pada menit ke-89 tidak ditepis Unai Simon.

Hasilnya, tidak ada gol tercipta malam itu. Perkiraan Tanjung Verde akan menderita seperti Curacao ketika digulung Jerman tidak muncul dalam laga itu.

Hidup sulit

Kemampuan bertahan dari hal sulit bukan hal baru bagi Tanjung Verde. Negara kepulauan di tengah Atlantik itu sudah lama hidup berdampingan dengan badai. Mindelo, daerah kelahiran Vozinha, misalnya, merupakan daerah rawan angin kencang di Tanjung Verde.

Weather Channel menyebut nama Tanjung Verde diabadikan dalam istilah meteorologi untuk badai-badai terbesar Atlantik. Sejumlah badai besar Atlantik, seperti Irma, Maria, dan Lorenzo, berawal dari kawasan sekitar Tanjung Verde sebelum bergerak ke Amerika Utara dan Karibia.

Selain ditempa geografis yang ganas, kehidupan warga di sana juga tidak mudah. Saat kecil, Vozinha, yang dibesarkan kakek dan nenek, pernah mengalami kesulitan tumbuh kembang. Tubuhnya kecil dan kerap jadi olok-olokan teman-temannya.

Kiper Tanjung Verde, Vozinha, pada akhir pertandingan sepak bola Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Tanjung Verde di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juni 2026.
Quote

Di Tanjung Verde kami memiliki kiper-kiper hebat, tetapi permainan mereka hanya berdasarkan bakat alami.

”Nama Vozinha, yang dalam bahasa Portugis berarti ’nenek’, juga berasal dari sana. Kalau saya berkelahi, saya selalu bilang akan melaporkannya kepada nenek,” kata Vozinha kepada FIFA.

Beruntung, menjelang dewasa, tubuhnya tumbuh normal. Hal itu menjadi pintu untuk meraih mimpi sebagai pemain profesional. Namun, sekali lagi Tanjung Verde tidak ramah bagi pesepak bola.  

Tidak seperti banyak pemain Spanyol yang dibesarkan di akademi elite Eropa, Vozinha dan pemain Tanjung Verde lainnya mesti merantau ke Portugal hingga berbagai liga kecil di luar negeri.

”Di Tanjung Verde kami memiliki kiper-kiper hebat, tetapi permainan mereka hanya berdasarkan bakat alami. Tidak ada yang mengajari kami dan di bawah mistar gawang, semuanya tentang detail-detail kecil,” ujar pemilik akun @vozinha1.

Pascalaga melawan Spanyol, pengikutnya bertambah, dari semula 46.000 meningkat menjadi 1 juta dalam beberapa menit setelah pertandingan berakhir. Hingga Selasa siang, jumlah pengikutnya mencapai 5,4 juta.

Bubista, Pelatih Kepala Tanjung Verde

Oleh karena itu, saat banyak orang merantau, diaspora Tanjung Verde juga menyebar ke banyak negara. Jumlahnya lebih banyak ketimbang mereka yang tinggal di Tanjung Verde. Saat ini, penduduknya tercatat 500.000 orang, tapi diasporanya dilaporkan mencapai 1 juta orang.

Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi Pelatih Pedro Leitao Brito alias Bubista untuk meracik tim. Memimpin sejak 2020, dia membangun skuad yang solid bermodalkan banyak pemain diaspora.

Salah satu talenta pilihannya adalah bek kanan Steven Moreira yang lahir di Amerika Serikat. Pernah memperkuat tim nasional Perancis di level junior, Moreira kini memperkuat Columbus Crew di MLS.

Ketahanan tim

Perlahan dunia mulai mewaspadai Tanjung Verde. Dalam kualifikasi Piala Dunia FIFA 2022 Qatar, mereka memberikan perlawanan sengit hingga laga terakhir fase grup. Nasib mereka ditentukan hasil imbang 1-1 melawan Nigeria. Kegigihan itu berlanjut di Piala Afrika 2023. Mereka lolos dari grup yang dihuni Mesir dan Ghana, dua raksasa sepak bola Afrika.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka kembali menggila. Tanjung Verde menang lima kali tanpa kebobolan satu pun. Hasilnya, ”The Blue Sharks” unggul atas Nigeria, Kamerun, hingga Angola.

Bermodalkan generasi emas itu, ketangguhan Tanjung Verde kembali terlihat di Piala Dunia perdananya. Bertahun-tahun bersama, mereka kompak bertahan dan menyerang.

Cape Verde Spain WCup Soccer

”Modal kami adalah persatuan. Saya harap kami dapat memenangi beberapa pertandingan dan, siapa tahu, mungkin bisa lolos ke babak selanjutnya,” kata Vozinha yang menangis seusai laga karena gagal membawa ibunya menonton laga akibat persoalan biaya dan administrasi di saat neneknya telah tiada.

Bubista mengatakan, air mata yang diteteskan anak asuhnya adalah bukti ketahanan tim berlaga di Piala Dunia. Dia memuji ketangguhan Vozinha di bawah mistar. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika tanpa dukungan tim.

Fans react as they watch a broadcast of the World Cup Group H soccer match between Cape Verde and Spain at a viewing center in Mindelo, São Vicente, Cape Verde, Monday, June 15, 2026. (AP Photo/Queila Fernandes)

”Kami selalu mengatakan ingin seluruh dunia melihat bagaimana tim kami bermain. Kami menunjukkan cara bermain yang mencerminkan negara kami, ketenangan dan ketahanan mengatasi berbagai rintangan,” ujarnya.

Seperti pulau-pulau yang bertahan menghadapi angin dan gelombang Atlantik, Tanjung Verde memperlihatkan ketangguhannya saat melawan badai yang diberikan Spanyol. (REUTERS)

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji