Dari Dilema Koeman, Tergambar Kuartet Bek Unik Belanda

Kurang dari setahun jelang Piala Dunia, Ronald Koeman membawa ide baru nan unik di lini belakang Belanda. Bek Arsenal, Jurrien Timber, mendapat tugas spesial.

13 Okt 2025 07:12 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Dari dua laga terakhir tim nasional sepak bola Belanda di jeda internasional kali ini, terlihat jelas dilema manis yang dimiliki Ronald Koeman. Saking banyak pemain bertahan berkualitas di dalam skuadnya, sang pelatih Belanda masih terus mengganti kombinasi nama dalam pemilihan empat bek sejajar. Meskipun begitu, opsi mulai mengerucut.

Kombinasi empat bek, yaitu Denzel Dumfries, Jurrien Timber, Virgil van Dijk, dan Micky van de Ven, menjadi pemain inti untuk kedua kali beruntun saat Belanda menang atas Finlandia 4-0 dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Johan Cruyff Arena, Amsterdam, Minggu (12/10/2025) malam WIB.

Jika berdasarkan spesialisasi posisi di klub masing-masing, formasi ideal adalah Van Dijk dan Van de Ven di posisi bek tengah serta Dumfries dan Timber di sisi sayap. Namun, Koeman sedikit bereksperimen. Van de Ven kembali dipercaya sebagai bek sayap kiri seperti dalam dua tahun terakhir, sementara Timber mendapat tugas baru.

Timber dipercaya mengisi posisi bek tengah, berduet dengan Van Dijk. Bek Arsenal itu memang bisa bermain di seluruh posisi lini belakang, tetapi spesialisasinya terletak di bek sayap kanan. Sungguh unik ide Koeman. Pemain yang merupakan salah satu bek sayap terbaik di Liga Inggris itu justru tidak ditampilkan di posisi terbaiknya.

Koeman semula hanya mencoba-coba di laga sebelumnya, yaitu ketika menang 4-0 atas Malta, Jumat lalu. Hasilnya ternyata berjalan lebih baik dari perkiraan. ”Kami punya banyak bek tengah. Saya pikir Timber bermain sangat bagus. Di momen ini, tidak ada alasan untuk mengubah apa pun (versus Finlandia),” kata Koeman kepada ESPN.

Timber memaksa sang pelatih untuk membangkucadangkan dua bek tengah berkualitas sekaligus, yaitu Jan Paul van Hecke dan Stefan de Vrij. Sebagai konteks, keduanya merupakan tandem Van Dijk di kompetisi-kompetisi sebelumnya, yaitu Van Hecke di babak gugur Liga Nasional Eropa 2024-2025 dan De Vrij di Piala Eropa 2024.

Netherlands' defender #03 Jurrien Timber (L) and Finland's midfielder #16 Topi Keskinen fight for the ball during the FIFA World Cup 2026 Group G qualification football match between Netherlands and Finland, at the Johan Cruyff Arena in Amsterdam, on October 12, 2025. (Photo by JOHN THYS / AFP)

Jika memungkinkan, Koeman juga ingin menempatkan Timber di sisi sayap. Dengan kemampuan defensif satu lawan satu, dribel, dan kecepatan di atas rata-rata, mantan pemain Ajax Amsterdam itu seperti dilahirkan untuk menjadi bek sayap yang memang sangat dinamis. Masalahnya, sudah ada Dumfries di spot tersebut.

Dumfries merupakan penampil keempat terbanyak untuk Belanda di skuad saat ini, yaitu 68 kali. Koeman sangat memercayai bek veteran Inter Milan itu. Sejak diberikan kepercayaan debut oleh Koeman, Dumfries nyaris selalu menjadi pilihan utama di sayap kanan, baik di lini belakang saat formasi empat bek maupun gelandang ketika formasi tiga bek.

Kelebihan utama Dumfries terletak di sisi ofensif. Dia bisa membuat perbedaan dengan kontribusi gol atau asis. Lihat saja dalam enam laga babak kualifikasi Piala Dunia, sang bek sudah menghasilkan dua gol dan tiga asis. Hanya penyerang Memphis Depay dan Cody Gakpo yang melebihi kontribusinya.

Timber kalah dari aspek ofensif. Dia pun harus mengalah dengan sang senior. Alhasil, posisi paling tepat untuk dimainkannya saat ini adalah bek tengah. Timber memulai karier sebagai bek tengah, termasuk saat debut di timnas pada 2021. Posisi lama itu membuatnya kembali dipercaya masuk starter ”Si Oranye” usai terakhir pada November 2024.

Ide Koeman mulai terlihat brilian dalam dua laga teranyar. Timber tampil solid berturut-turut. Selain menjaga gawang tanpa kemasukan, dia berhasil menjadi pemain dengan sentuhan (92) dan umpan akurat terbanyak (79) ketika melawan Malta. Dia turut menciptakan dua peluang dari posisi paling belakang tersebut.

Versus Finlandia, Timber ikut naik ke posisi gelandang ketika Belanda menguasai bola. Saat Van Dijk ditinggal sendirian di belakang, dia terlibat membantu serangan bersama gelandang Frenkie de Jong. Sesekali, saat ruang terbuka, Timber membuat pergerakan tanpa bola ke kotak penalti. Dia memainkan peran bek yang sangat ofensif.

Netherlands' coach Ronald Koeman reacts during the FIFA World Cup 2026 Group G qualification football match between Netherlands and Finland, at the Johan Cruyff Arena in Amsterdam, on October 12, 2025. (Photo by MAURICE VAN STEEN / ANP / AFP) / Netherlands OUT

”Jurien adalah pemain yang menggiring bola ke depan dan bisa memastikan kami memiliki pemain tambahan. Saya tidak selalu melihat kami bagus dalam hal itu. Saya juga menemukan lini tengah kami masih kurang selaras. Itu yang membuat kami ingin lebih baik karena tim ini punya pemain untuk hal tersebut,” ujar Koeman.

Formasi baru itu datang dengan konsekuensi. Bukan tanpa alasan, Timber dimainkan di posisi bek sayap dalam beberapa tahun terakhir. Dia tidak seperti bek tengah lain yang memiliki tubuh tinggi seperti menara. Tingginya hanya 179 sentimeter, kalah jauh dari Van Hecke dan De Vrij yang sama-sama punya tinggi 189 cm.

Timber pun akan menjadi incaran penyerang jangkung lawan dalam duel udara. Menariknya, celah itu bisa ditutupi oleh Van de Ven maupun Van Dijk yang sama-sama berpostur tinggi dan terkenal andal dalam pertarungan di udara. Setidaknya, lubang tersebut belum menjadi masalah dalam dua laga terakhir.

Kata Timber, tidak masalah ia harus berganti posisi. Dia ingin memanfatkan momentum sebaik mungkin untuk bisa masuk tim inti di Piala Dunia nanti. ”Saya akan bermain di mana pun keinginan pelatih. Salah satu kelebihan saya adalah bisa bermain di banyak posisi. Tentu, Virgil membuat semua jadi lebih mudah untuk saya,” ujarnya.

Setelah melewati dilema manis dalam pemilihan pemain, Koeman kini mulai mendapatkan gambaran kasar soal kombinasi empat bek untuk Piala Dunia. Van Dijk diharapkan menemukan tandem terbaik setelah pencarian beberapa tahun terakhir. Meskipun begitu, kuartet bek itu masih perlu dibuktikan melawan tim lebih seimbang.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan