Alasan di Balik Rapor Merah Para Striker Baru Liga Inggris

Bukannya meramaikan Liga Inggris dengan pesta gol, banyak penyerang baru justru tenggelam dalam paceklik gol. Isak, Gyokeres, hingga Sesko masih beradaptasi.

12 Okt 2025 17:52 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Jika diibaratkan cuaca, jendela transfer musim panas Liga Inggris terasa seperti mendung. Triliunan rupiah telah dikeluarkan klub-klub Inggris untuk mendatangkan para striker kelas dunia. Mendung itu seolah menjadi pertanda hujan gol yang akan segera datang. 

Tujuh pekan berlalu, hujan gol tak kunjung turun. Justru kecemasan yang muncul. Penyerang baru Liverpool Alexander Isak bisa mewakili fenomena itu. Didatangkan dengan harga transfer yang memecahkan rekor Liga Inggris, Rp 2,8 triliun, dia baru mencetak satu gol dari enam laga di seluruh kompetisi.

Satu-satunya gol itu dihasilkan ke gawang Southampton, tim divisi dua, dalam pertandingan Piala Liga Inggris. Isak dibeli dari Newcastle United berstatus predator ulung yang menciptakan 44 gol dalam dua musim terakhir di liga. Alih-alih mendapatkan singa lapar, Liverpool sejauh ini hanya memiliki kucing jinak.

Rival Liverpool, Arsenal, tidak jauh berbeda. Setelah bertahun-tahun tidak memiliki striker murni, mereka kedatangan Viktor Gyokeres pada musim ini. Ketajamannya tidak perlu diragukan. Gyokeres baru saja meraih trofi Gerd Muller 2025, penghargaan untuk penyerang terbaik di dunia dalam kalender setahun.

Di klub Portugal, Sporting CP, Gyokeres menciptakan 97 gol dalam dua musim terakhir. Tidak ada satu pun penyerang di Eropa yang mendekati catatan tersebut. Masalahnya, sepak bola bukan sekadar angka di kolom Microsoft Excel yang bisa disalin dan ditempel dengan sekali klik.

Gyokeres memang sempat mencetak tiga gol di empat pertandingan awal liga. Namun, dia mengalami paceklik gol dalam enam laga terakhir di seluruh kompetisi. Dari lokomotif yang tidak terhentikan di Liga Portugal, sang striker lebih mirip truk muatan berat yang tampak sangat kaku di Liga Inggris.

Ada juga nama-nama lain seperti Benjamin Sesko (Manchester United), Hugo Ekitike (Liverpool), dan Nick Woltemade (Newcastle). Ketiganya juga masuk daftar striker baru yang diantisipasi. Menariknya, total sumbangan gol mereka di liga (8), masih kalah dengan penyerang Manchester City Erling Haaland (9).

Chelsea's Reece James, left, challenges Liverpool's Alexander Isak during the English Premier League soccer match between Chelsea and Liverpool at Stamford Bridge in London, Saturday, Oct. 4, 2025. (AP Photo/Ian Walton)

Masalah adaptasi

Banyak yang memaklumi penyerang lain, seperti Gyokeres dan Sesko. Mereka datang dari liga lain yang tidak lebih kompetitif. Kondisi serupa tidak berlaku untuk Isak yang sudah memasuki musim ke-4 bermain di Inggris. Lantas, apa yang membuatnya belum mampu bersinar di dalam klub yang paling ofensif seisi liga?

Quote

Hal terpenting adalah dia menyesuaikan dengan rekan-rekannya dan rekan-rekannya menyesuaikan dengan dia.

Jawabannya, sepak bola tidak bekerja seperti rumus matematika. Satu tambah satu bukan dua. Isak ditambah Mohamed Salah belum tentu langsung menghasilkan duet maut. Itu yang dipelajari Pelatih Kepala Liverpool Arne Slot belakangan ini. 

Isak memang tak butuh beradaptasi lagi dengan tempo dan intensitas liga, tetapi dia perlu menyesuaikan diri dengan sistem Liverpool serta Salah dan rekan-rekan. “Hal terpenting adalah dia menyesuaikan dengan rekan-rekannya dan rekan-rekannya menyesuaikan dengan dia. Semakin banyak bermain bersama, akan semakin baik,” kata Slot pada awal Oktober. 

Terlebih, Isak bermasalah dengan kebugaran. Dia tidak mengikuti latihan pramusim karena proses negosiasi transfer yang alot. Sang striker baru bergabung tepat di hari tenggat transfer. Permasalahan pramusim serupa juga dialami Gyokeres dan Sesko walaupun tidak lebih buruk dari situasi Isak. 

Faktor lainnya, kedatangan para penyerang baru turut mengubah gaya bermain beberapa klub. Arsenal, misalnya. Mereka berupaya mengandalkan kelebihan Gyokeres dalam transisi serangan balik. Perubahan dan adaptasi itu sempat membuat Gyokeres tidak berhasil mencatat tembakan di tiga dari empat laga awal.

Arsenal's Swedish striker #14 Viktor Gyokeres battles for the ball with Olympiakos' Portuguese defender #20 Costinha during the UEFA Champions League, league phase football match between Arsenal and Olympiacos at the Emirates Stadium in north London on October 1, 2025. (Photo by Adrian Dennis / AFP)

Di MU, pelatih Ruben Amorim baru mampu memanfaatkan keunggulan tinggi badan Sesko sekitar dua pekan terakhir. Caranya dengan banyak memainkan umpan silang. Terbukti Sesko menyumbang dua gol di dua laga terakhir dengan skema tersebut, setelah paceklik gol dalam lima laga awal.

Manajer Arsenal Mikel Arteta membawa perspektif lain tentang seorang striker. Alasan utamanya mendatangkan Gyokeres memang karena butuh mesin gol. Namun, pemain tim nasional Swedia itu ternyata mampu berkontribusi terhadap banyak hal selain gol. 

Walaupun Gyokeres baru mencetak tiga gol, Arsenal berhasil memuncaki klasemen sementara sebagai tim tersubur kedua (14 gol). “Dia melakukan segala hal yang Anda butuhkan dari seorang striker. Dia menyambungkan serangan, meregangkan ruang, dan mengancam pertahanan lawan,” ujar Arteta.

Sosok yang terbilang paling cemerlang adalah Woltemade. Striker 23 tahun itu sudah menciptakan tiga gol dari empat laga liga. Apa rahasianya? Dia terbantu dengan status pilihan utama klub. Newcastle tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan Woltemade. Tidak seperti Liverpool yang punya Isak dan Ekitike. 

Dari sisi tekanan dan ekspektasi, Woltemade juga lebih rendah. Itu karena Newcastle masih berstatus klub yang ingin naik dari level medioker ke papan atas. Tekanan kepadanya jelas tidak sebesar Sesko yang diandalkan untuk mengembalikan marwah MU. 

Terlepas dari warna-warni penyerang baru, ada satu hal yang tak berubah. Haaland masih menjadi striker paling berbahaya di Inggris walaupun kehilangan sosok penyuplai terbaik dalam diri Kevin De Bruyne. Itu cukup untuk memperlihatkan betapa hebat pemain berjuluk "robot gol" tersebut. (AP/REUTERS) 


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase