Hasil imbang melawan Portugal memberikan banyak pemompa semangat bagi warga RD Kongo. Negara itu kini dilanda konflik bersenjata hingga wabah Ebola.
18 Jun 2026 15:29 WIB · Olahraga
AP Photo/Karen Warren
Menggunakan topi rimba dan jubah warna hitam, Jean-Pierre Mongambi (47), pastor Katolik dari Kinshasa tiba di Ngaliema, salah satu distrik miskin di Republik Demokratik Kongo. Naik panggung, dia lalu melantunkan rap yang syairnya diambil dari Injil.
"Nayambi, nayambi (aku percaya),” kata Mongambi dalam dalam bahasa setempat. "Rap bukanlah dosa," ujar dia disambut tepuk tangan meriah mereka yang hadir, Rabu (17/6/2026).
Sejak dia melantunkan rap bagi Paus Fransiskus yang datang ke RD Kongo tahun 2023, nama Mongambi cepat tenar. Dia menjadi selebriti dadakan berkat lagi rap yang terinspirasi mazmur dan doa. Konser-konsernya banyak dibagikan di media sosial.
"Rap adalah cara saya menyebarkan firman Tuhan," kata Mongambi, kepada AFP di paroki Bienheureuse Anuarite di Ngaliema.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/ef44a28644c8ab9f7945c7631385efb9-wires_photo_23.jpg)
Sejak kecil Mongambi memang akrab dengan musik. Dia berasal dari lingkungan Matonge, pusat musik Kinshasa yang terkenal beroperasi 24 jam sehari. Ia bahkan sudah menulis lagu-lagu pertamanya saat masih remaja. Saat itu, inspirasinya adalah artis hip hop Amerika Serikat Kris Kross dan rapper Dr. Dre.
Namun, alih-alih mewujudkan mimpi membentuk grup musik, ia justru tertarik mendalami iman. Pemicunya saat seorang pastor paroki berhasil mendamaikan orang tuanya dan mencegah mereka berpisah.
"Saya berpikir, ingin menjadi seperti orang itu. Seseorang yang menyatukan keluarga dan membantu orang berbuat baik," katanya.
Dia pun mantab menjadi imam dan ditahbiskan tahun 2011. Di tahun yang sama, Mongambi menulis lagu pertamanya. Lagu itu menandai ulang tahun Kardinal Laurent Monsengwo, mantan Uskup Agung Kinshasa dan tokoh terkemuka di gereja, yang meninggal tahun 2021.
"Dia yang mendukung saya. Dia mendorong saya untuk merekam di studio. Dia juga yang membiayai produksi video musik saya," kata Mongambi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/eee96b22d6055f83a201b26c2838788e-wires_photo_24.jpg)
Kini, Mongambi mengatakan tidak sendirian menjangkau umat lewat inovasi dan teknologi. Semaki banyak pemimpin gereja menyebarkan doa musik religius, dan diskusi tentang spiritualitas pada anak muda menggunakan media sosial.
Sejauh ini, banyak anak muda merasakan gaya pelayanan Mongambi. Salah satunya Chadrack Mayambi (20), warga Kinshasa. Setelah lama berduka akibat kematian ibunya, dia merasa alunan rap Mongambi memberinya harapan untuk terus hidup.
"Jika bukan kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita dapat percaya?" kata Mayambi, yang bekerja serabutan di lokasi pembangunan meski sudah menyelesaikan studinya di bidang teknik elektro beberapa bulan lalu.
Saat ini, pengangguran adalah hal biasa di negara Afrika tengah yang luas ini, di mana hampir 70 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Selain kemiskinan, suburnya kulunas atau geng pemuda bersenjata yang meneror penduduk Kinshasa dengan perampokan kekerasan, juga menjadi keprihatinan.
Hal itu, kata pastor paroki Bienheureuse Anuarite Augustin Mfwankama ikut dipicu minimnya anak muda tertarik pada gereja. Anak muda lebih suka pergi ke bar, berjudi, hingga bergabung bersama kulunas.
Oleh karena itu, untuk membawa “domba-domba yang tersesat” ini pulang, Mfwankama menaruh harapannya pada Mongambi si pastor yang jago rap untuk membalikan keadaan. Alunan rap Mongambi diharapkan bisa mampu mengembalikan asa dan menjauhkan sebagian anak muda dari kekerasan jalanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/3dc44f201d13f1007d9a4399b06f5e6b-wires_photo_26.jpg)
Apalagi, RD Kongo tengah butuh banyak dukungan. Setelah bertahun-tahun, namanya lebih sering muncul dalam pemberitaan internasional karena perang dan krisis kemanusiaan, kini wabah ebola melanda negara itu.
Saat itu terjadi, di waktu yang sama tapi di panggung yang berbeda, tim nasional RD Kongo juga tengah menjalankan misi menuju masa depan bangsa lebih baik. Para “Leopards”, julukan mereka, tengah melakukannya lewat sepak bola di Piala Dunia 2026.
Sejauh ini, misi itu berjalan mulus. Bila 52 tahun lalu, saat masih bernama Zaire, mereka tumbang tiga kali dengan kebobolan 14 gol, kali ini mereka tidak kalah dan meraih angka pertama di laga perdana melawan Portugal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/cba06eb22bc45bcb67805b7ea38e342e-wires_photo_27.jpg)
Warga RD Kongo sejenak melupakan perih yang dialami akibat konflik dan wabah ebola.
Kegembiraan, misalnya, terlihat di jalanan Bunia, di Provinsi Ituri. Selama 90 menit, sebagian dari sekitar 100 juta penduduk mengatakan bisa melupakan kekhawatiran terkait epidemi, konflik di timur negara itu, dan kekerasan kelompok bersenjata yang ada di sekitar mereka.
Ituri, di timur laut Kongo, berada di pusat wabah Ebola yang dinyatakan pada 15 Mei di DRC. Virus tersebut telah menginfeksi 837 orang dan menyebabkan 196 kematian sejauh ini, menurut angka resmi terbaru.
Oleh karena itu, berada di Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat memiliki makna tersendiri bagi banyak warga RD Kongo seperti Louis Mukoma. Kepada The Athletic, Louis mengatakan, AS bakal memainkan peran penting dari negaranya untuk dunia.
"Sekarang, saat mengibarkan bendera Kongo di AS dan menarik perhatian dunia terhadap apa yang sedang terjadi di negara kami akan menjadi pesan yang sangat kuat," ujarnya.
Chris Mantata, warga RD Kongo lain, memiliki pandangan serupa. Baginya, olahraga memberikan kebahagiaan yang jarang dirasakan rakyat Kongo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/d1845acabaa148b6eeb1a21a9f6fc63a-wires_photo_28.jpg)
"Olahraga memberi kegembiraan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Negara kami telah melalui begitu banyak hal—perang, sejarah yang berat, dan berbagai penderitaan," katanya.
Namun, ia menegaskan sepak bola bukanlah tujuan akhir. Menurut Chris, keberhasilan di lapangan hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju pengakuan yang lebih besar.
"Kami sedang mendaki gunung. Suatu hari nanti, mudah-mudahan, kami akan mencapai puncaknya."
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/588e4d0f5a9c6f3ce0d10311d29db3f3-Congo_Ebola_Night_Life.jpg)
Perumpamaan itu terasa tepat. RD Kongo merupakan rumah bagi beberapa puncak tertinggi di Afrika Tengah dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. "Kami punya gunung berapi, sabana, garis pantai, danau, satwa endemik, serta berbagai jenis makanan. Kami memiliki segalanya," kata Louis.
Selain alamnya, Kongo juga dikenal karena warisan budayanya yang kaya, terutama di bidang musik, seperti yang dilakukan Mogamba. Nama-nama seperti Fally Ipupa, Koffi Olomidé, Awilo Longomba, dan Innoss'B telah menjadi bagian dari identitas negara yang dinamis tersebut.
"Kami dikenal karena musik dan cara kami menari," ujar Louis. "Rival sepak bola kami di Afrika, Senegal, dulu sering berkata: biarkan sepak bola untuk kami, kalian kembali saja ke musik."
Namun, anggapan itu bisa jadi mental setelah laga RD Kongo melawan Portugal. Saat Senegal tumbang di tangan Perancis, RD Kongo bisa menahan imbang Portugal.
Ketika banyak orang memperkirakan RD Kongo hanya akan melawan mengandalkan kekuatan fisik, gol penyama kedudukan justru lahir dari kecerdikan dan ketepatan membaca ruang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/1f76db09d5a4d8fb5d1164325599f4fa-wires_photo_29.jpg)
Menerima umpan dari Arthur Masuaku, penyerang Newcastle United Yoanne Wissa menyundulnya menjadi gol. Gol di menit ke-42 ini terbilang istimewa. Masuaku, pemain yang musim lalu membela RC Lens, mampu melepaskan umpan diantara pemain top Portugal.
Wissa tidak melepas peluang itu. Meski tingginya hanya 1,76 meter, dia lolos dari dua menara Portugal, Tomas Araujo (1,87 m) dan Renato Veiga (1,90 m). Dia menyundul dan mencetak gol pertama untuk RD Kongo sepanjang sejarah negara itu di Piala Dunia.
Seperti rap yang dilantunkan Mongambi di jalan-jalan Kinshasa, gol Wissa tidak menghapus perang, kemiskinan, maupun ancaman Ebola. Namun, setidaknya selama 90 menit, warga RD Kongo punya alasan untuk bersatu untuk lebih kuat di masa depan. (AP)
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase